5 Fakta Unik Monyet Digo yang Suka Bersosialisasi dengan Spesies Lain

5 Fakta Unik Monyet Digo yang Suka Bersosialisasi dengan Spesies Lain

Pernahkah kamu mendengar istilah monyet digo?Macaca ochreata)? Monyet ini termasuk dalam genusMacacasehingga termasuk dalam kelompok kera Dunia Lama (Cercopithecidae). Menariknya, ternyata kera ini merupakan hewan yang hanya ditemukan di Indonesia, loh.

Tepatnya, mereka tinggal di Pulau Sulawesi. Mengenai lokasi spesifik dan fakta menarik apa saja yang dapat kita temukan dari spesies monyet ini, kita akan segera membahasnya. Jadi, jika kalian penasaran dan ingin mengenal lebih jauh tentang monyet digo, langsung saja gulirkan layar ke bawah!

1. Bagaimana penampilan kera digo?

Monyet digo menampilkan rambut berwarna gelap di bagian punggung dan kepala, namun berubah menjadi cokelat muda pada bagian perut serta keempat kakinya. Kepala dari primata ini cenderung bulat dengan sedikit tambahan rambut di area bawah telinga dan pipi yang berwarna cokelat abu-abu. Seperti monyet Dunia Lama lainnya, monyet digo memiliki ekor yang panjangnya sekitar 35—40 cm.

Dilansir New England Primate Conservancy, berat yang dapat dicapai seekor monyet digo sekitar 5—12 kg. Di sisi lain, panjang tubuh mereka tanpa ekor sekitar 50—59 cm. Terdapat perbedaan fisik antara jantan dan betina pada spesies ini, di mana jantan memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan betina. Selain itu, gigi taring atas pada jantan juga lebih besar dibandingkan dengan betina.

2. Peta penyebaran, lingkungan hidup, dan makanan kesukaan

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, peta penyebaran monyet digo hanya terbatas pada Pulau Sulawesi. Secara lebih rinci, primata ini dapat ditemukan di Sulawesi Tenggara serta pulau-pulau kecil di sekitarnya, seperti Pulau Buton dan Pulau Muna. Khusus untuk spesies yang tinggal di dua pulau tersebut, mereka dianggap sebagai subspesies monyet digo dengan nama ilmiah tertentu.Macaca ochreata brunnescens.

Sementara itu, habitat yang disukai monyet digo adalah hutan hujan tropis dengan ketinggian yang tidak terlalu tinggi. DilansirIUCN Red List, rata-rata ketinggian yang disukai oleh primata ini sekitar 800 meter di atas permukaan laut. Namun, terkadang monyet digo juga bisa masuk ke wilayah permukiman penduduk, terutama ketika makanan di hutan sedang langka.

Mengenai makanan, monyet digo termasuk dalam kategori omnivora. Makanan utama mereka terdiri dari berbagai jenis buah, bunga, daun, serta tanaman pertanian. Namun, untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, mereka juga memakan berbagai jenis serangga dan artropoda.

3. Selalu melakukan komunikasi dengan spesies lain

Perilaku sosial monyet digo dapat dikatakan sangat menarik. Mereka telah membentuk kelompok yang terdiri dari 12 hingga 30 individu. Setiap anggota kelompok saling berkomunikasi, saling membantu dalam perawatan diri, memberi peringatan ketika ada ancaman, serta bekerja sama secara harmonis. Namun, interaksi monyet digo tidak hanya terbatas pada sesama anggota kelompok karena mereka cukup cerdas untuk berhubungan dengan spesies lain.

Misalnya, dalam Jurnal WASIAN dengan judul, “Karakteristik Habitat dan Populasi Monyet Butung (Macaca ochreata) di Taman Wisata Alam Tanjung Peropa, Sulawesi Tenggara” karya Zsa Zsa Fairuztania dan Abdul Haris Mustari, monyet digo selalu bergerak bersama spesies burung yang dikenal sebagai kadalan sulawesi (Ramphacoccyx calyorhynchus) dan srigunting rambut berujung panjang (Dicrurus hottentottus). Tujuannya adalah untuk mendapatkan makanan bagi burung tersebut.

Oleh karena itu, ketika monyet digo bergerak dan mendapatkan makanan, serangga di sekitarnya sering kali terbang. Serangga ini menjadi sumber makanan utama kedua dari spesies burung yang telah disebutkan sebelumnya. Jika kedua burung tersebut terus mengikuti monyet digo, mereka bisa memperoleh makanan dengan mudah. Di sisi lain, monyet digo tidak merasa dirugikan maupun diuntungkan dari interaksi ini. Mereka tidak keberatan dengan kehadiran burung, sehingga interaksi ini dikenal sebagai simbiosis komensalisme.

Selain berinteraksi dengan burung, monyet juga terlibat dalam interaksi dengan spesies monyet lainnya, seperti monyet jambul atau monyet tonkean (Macaca tonkeana). Interaksi dengan kera jambul ini lebih menarik karena terkadang keduanya bersatu membentuk kelompok yang besar. Bahkan, perilaku dan aturan sosial kedua spesies ini hampir sama karena seringnya mereka berinteraksi. Oleh karena itu, sering ditemukan kera hibrida yang merupakan hasil perkawinan antara dua spesies kera ini.

4. Sistem reproduksi

Tidak banyak informasi yang diketahui mengenai sistem reproduksi monyet digo. Namun, perilaku mereka berinteraksi dengan spesies monyet lain memberikan dugaan kuat bahwa cara reproduksi mereka mirip dengan kerabat dekatnya. Artinya, musim kawin untuk monyet ini bisa terjadi sepanjang tahun, selama betina menunjukkan tanda-tanda siap untuk bereproduksi. Tanda tersebut berupa pembengkakan di area sekitar alat kelamin.

New England Primate Conservancymenyebutkan bahwa setelah menikah, betina akan mengandung selama sekitar 170 hari. Pada satu siklus reproduksi, hanya satu anak yang lahir. Tahun pertama kehidupan monyet go akan dihabiskan dengan menempel pada tubuh induknya sambil belajar berbagai keterampilan yang berguna untuk hidupnya nanti. Setelah itu, baru anak tersebut mampu hidup mandiri, namun tetap tinggal dalam kelompok tempat ia dilahirkan.

5. Status konservasi

Berdasarkan Daftar Merah IUCN, kondisi perlindungan monyet digo saat ini berada pada tingkat terancam punah,Vulnerable). Selain itu, jumlah mereka terus menurun setiap tahun. Sementara itu, penyebab penurunan ini tidak lain karena tindakan manusia.

Disebutkan bahwa perubahan fungsi lahan yang luas di Sulawesi Tenggara menyebabkan monyet digo kehilangan lingkungan alaminya. Keadaan ini semakin memburuk karena banyaknya industri perkebunan kelapa sawit dan kakao yang dibangun, sehingga menghancurkan hutan secara besar-besaran. Belum lagi, aktivitas tambang ilegal yang sering menggunakan bahan kimia berbahaya seperti merkuri, mencemari sumber makanan dan air monyet digo hingga menyebabkan kematian dalam jumlah besar.

Upaya perlindungan terhadap spesies primata ini telah dilakukan secara intensif. Salah satu metodenya adalah dengan menetapkan kawasan perlindungan bagi monyet digo, seperti yang berada di Rawa Aopa Watomahai, Padang Mata Osu, Tanjung Peropa, Tanjung Batikolo, Cagar Alam Faruhumpenai, Buton Utara, Hutan Lambusango, dan Napabalano yang menjadi titik utama dalam upaya konservasi monyet digo. Mudah-mudahan status konservasinya tidak semakin memburuk agar primata endemik Indonesia ini tetap terjaga kelestariannya, ya!

5 Fakta Menarik Golden-Headed Lion Tamarin, Kera Berambut Mirip Singa 5 Fakta Menarik Monyet Ka’apor Capuchin, Hewan Liar yang Pemalu di Hutan Amazon

Copyright © 2026 10drama.com