Bitcoin Pecahkan Rekor Tertinggi Saat Krisis Politik AS, Ini Penjelasan Ahli

Bitcoin Pecahkan Rekor Tertinggi Saat Krisis Politik AS, Ini Penjelasan Ahli

Lintaskriminal.co.id –-Harga Bitcoin dilaporkan mencapai rekor tertinggi dalam sejarahnya di tengah krisis anggaran pemerintah AS dan kemungkinan perubahan kebijakan moneter. Dalam situasi politik yang terjebak di Washington, D.C., Bitcoin kembali menunjukkan ketangguhannya.

Aset kripto terbesar di dunia melampaui angka USD 125.000 dalam perdagangan Minggu (5/10), menciptakan rekor tertinggi baruall-time high/ATH) dalam siklus bullish saat ini. Sampai hari Senin (6/10) pagi, harga Bitcoin tetap berada di atas USD 123.000, meningkat lebih dari 10 persen dalam seminggu terakhir.

Menurut Fahmi Almuttaqin, seorang analis dari platform investasi aset digital Reku, kenaikan harga ini tidak terjadi secara kebetulan. Ia menganggap aliran dana besar-besaran menuju ETF Bitcoin berbasis tunai di Amerika Serikat menjadi salah satu faktor utama penguatan harga tersebut.

“Dalam tiga hari perdagangan pada 1–3 Oktober, dana yang masuk ke ETF Bitcoin spot melebihi US$2,28 miliar. Ini berarti investor tradisional AS melakukan pembelian bersih rata-rata lebih dari USD 762 juta setiap hari,” kata Fahmi.

Kendaraan di Tengah Penutupan Pemerintah AS

Menariknya, penurunan harga Bitcoin terjadi saat pemerintah federal AS sedangshutdowndan memasuki minggu kedua. Banyak instansi pemerintah tutup, pengumuman data ekonomi ditunda, serta ketidakpastian keuangan meningkat. Namun, kondisi ini justru dianggap oleh sejumlah investor sebagai kesempatan.

Shutdownmembuat The Fed berpotensi menghindari kebijakan yang lebih ketat dalam waktu yang lebih lama. Investor menganggapnya sebagai tanda adanya likuiditas yang positif,” ujar Fahmi.

Dampaknya tidak hanya terasa di pasar kripto. Indeks S&P 500 dan Nasdaq juga menunjukkan kenaikan masing-masing sebesar 1,1 dan 1,3 persen dalam seminggu terakhir, menjadi reli keempat dari lima pekan terakhir.

Minggu ini, para investor juga menantikan hasil laporan keuangan kuartal ketiga dari perusahaan besar seperti PepsiCo, Delta Air Lines, dan Levi Strauss. Meskipun semangat pasar masih terasa, Fahmi mengingatkan adanya risiko.mispricing, karena tidak ada pengumuman data ekonomi resmi.

“Tanpa data nyata, pasar mungkin terlalu percaya diri. Jika data tenaga kerja berikutnya menunjukkan penurunan atau inflasi meningkat tajam, tindakan ambil untung bisa meningkat, khususnya pada saham teknologi,” kata Fahmi.

Menurut dia, shutdownmasih panjang juga dapat mengurangi likuiditas jika menyebabkan pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran di sektor pemerintah. Namun sampai saat ini, pasar masih didominasi oleh harapan jangka pendek.

Laporan JPMorgan menyatakan bahwa Bitcoin masih berpotensi naik sebesar 40 persen lagi menuju angka US$165.000, mengacu pada perbandingan tingkat volatilitasnya dengan emas.

“Namun, jika arus dana melemah atau inflasi meningkat melebihi perkiraan, Bitcoin dapat berubah arah. Titik psikologis pada USD 100.000 akan menjadi batas kritis yang perlu dipertahankan,” tambah Fahmi.

Di tengah ketidakstabilan pasar, strategi diversifikasi dianggap krusial bagi para investor, terutama yang baru memulai. Fahmi menganggap pendekatan Dollar Cost Averaging (DCA) dan pengembangan portofolio lintas aset dapat menjadi pilihan yang aman.

Copyright © 2026 10drama.com