Menikmati Petualangan Lae Treup di Rawa Singkil

Menikmati Petualangan Lae Treup di Rawa Singkil

KAWANANbangau putih terbang dengan mengibas sayapnya, mengiringi perahu yang melaju melewati hamparan sungai Singkil.

Segera setelah itu, giliran kumpulan kerbau berjalan di tepi sungai mencari area rumput yang luas.

Perilaku hewan tersebut menjadi pemandangan pertama dalam perjalanan menuju Lae Treup di tengah hutan rawa Singkil, Kabupaten Aceh Singkil.

Wilayah Lae Treup menjadi tujuan yang diminati oleh para penggemar petualangan untuk menikmati kekayaan tumbuhan dan hewan di alam bebas Aceh Singkil.

Terutama para wisatawan dari Eropa yang menyukai wisata petualangan.

Perjalanan menuju Lae Treup dimulai dengan naik perahu melewati aliran sungai dari pemukiman penduduk Rantau Gedang dan Teluk Rumbia, Kecamatan Singkil.

Dua desa yang bersebelahan tersebut, paling dekat dengan Lae Treup.

Setelah melewati sungai Singkil yang lebarnya 300 meter, sekitar 45 menit kemudian belok ke kiri dan masuk ke sungai kecil yang menjadi jalur pelayaran menuju Lae Treup.

Lantai bunga vanda hookeriana menjadi pemandangan pertama setelah melewati kerumunan tanaman bakung sepanjang alur Lae Treup.

Masuk langsung ke bagian dalam hingga menemui pondok pertama pencari lele, pohon malaka, kantong semar serta berbagai tanaman air yang menarik perhatian.

Pondok pertama tersebut menjadi tujuan utama bagi para wisatawan yang ingin merasakan pengalaman petualangan ke Lae Treup dalam waktu singkat.

Sampai ke pondok pertama, pengunjung sudah dapat menikmati pemandangan hutan rawa Singkil yang spektakuler. Terlebih lagi, di kawasan tersebut masih tersedia layanan jaringan seluler.

Namun, pondok pertama bukanlah tujuan akhir. Dari pondok pertama, petualangan menuju Lae Treup di hutan Rawa Singkil sesungguhnya dimulai.

Kapal kembali bergerak perlahan. Dibutuhkan usaha yang besar untuk bisa melewati tanaman bakung yang semakin padat.

Jika perahu berlayar sampai ke pondok pertama dengan lancar. Tidak demikian dengan petualang setelahnya.

Sering kali mesin perahu mengalami mati, karena kipasnya tersangkut akar bakung. Keringat mengalir deras, namun itulah pengalaman yang sebenarnya.

Sambil memperbaiki kipas robin, langkah lain untuk membuat perahu bergerak adalah menarik pohon bakung yang terletak di sebelah kiri dan kanan.

Setelah berjuang melewati kerumunan yang menutup alur sungai, tiba di pondok kedua tempat para pencari lele.

Waktunya berhenti sejenak untuk makan siang sambil menghilangkan keringat yang mengguyur seluruh tubuh. Sayangnya, saat itu pondok sedang sepi.

Jika ada penduduknya, mereka bisa membeli lele. Lele Rawa Singkil, terkenal berukuran besar dan enak hanya dengan dibakar di atas api.

Satu lagi kegiatan yang tidak boleh dilewatkan ketika berkunjung ke Rawa Singkil adalah berendam di air sungai yang menjadi jalur bagi perahu masuk dan keluar.

Airnya berwarna coklat dan asin, tetapi bersih serta sejuk. Yang paling menarik adalah gigitan ikan kecil yang menghiasi seluruh tubuh saat berendam di air.

Gigitan ikan berfungsi sebagai pengobatan alami. Bisa dinikmati di pondok kedua tengah hutan rawa Singkil.

Setelah pulih kembali, perjalanan dilanjutkan.

Perjalanan melalui area hutan rawa semakin menghabiskan energi, hingga akhirnya menjelang matahari terbenam tiba di pondok terakhir para pencari lele.

Tujuan menginap. Menginap adalah cara ideal untuk menikmati hutan Rawa Singkil secara menyeluruh.

Malam hari menawarkan pengalaman yang berbeda karena dapat mendengar suara hewan liar di tengah keheningan malam.

Tempat tinggal yang dipilih adalah pondok pencari lele. Para pencari lele, dengan tulus mengunjungi berbagai lokasi.

Bawa alat pancing, ikan mudah ditangkap menggunakan sisa nasi sebagai umpan. Ikan dapat menjadi hidangan sarapan pagi.

Di malam hari, benar-benar terdengar berbagai jenis hewan penghuni rawa Singkil saling bersahut-sahutan.

Lelah sepanjang hari menyebabkan tidur di pondok sederhana menjadi sangat nyenyak.

Siang berubah, setelah makan pagi tiba waktunya kembali ke rumah diiringi suara burung.

Di perjalanan pulang melalui kawasan Malako, sebuah lokasi di jalur Lae Treup, terlihat dari jauh seekor induk orangutan yang sedang membawa anaknya.

Sayangnya hanya sebentar, orang utan menghilang. Namun pengalaman melihat orang utan di alam liar memperkaya perjalanan ke Lae Treup.

Lae Treup dapat dicapai dengan menggunakan perahu dari Desa Rantau Gedang dan Teluk Rumbia. Dua desa yang terletak di tepi sungai tersebut berada dalam kawasan Kecamatan Singkil.

Dari pusat Kota Singkil, sekitar 30 menit perjalanan dengan kendaraan roda dua atau empat arah ke Rantau Gedang dan Teluk Rumbia.

Kemudian berangkat ke Lae Treup dengan menggunakan perahu yang biasanya disewakan oleh penduduk setempat. Harga sewa bisa dinegosiasikan, biasanya sekitar Rp 500 ribu.

“Jika ingin menginap atau masuk lebih jauh lagi dapat dibicarakan dengan pemilik perahu,” ujar Amrul Badri warga Teluk Rumbia.

Untuk menikmati pemandangan bunga vanda hookeriana dan melihat kehadiran orangutan, Anda perlu melakukan perjalanan lebih jauh ke dalam hutan aquatik Rawa Singkil. Perjalanan ini memakan waktu sehari penuh, sehingga disarankan untuk menginap.

Ke Lae Treup juga bisa dicapai dengan menggunakan perahu dari sungai Rintis yang membatasi pemukiman penduduk Desa Suka Makmur dengan Siti Ambia. Namun, jaraknya lebih jauh dan biaya menyewa perahu lebih tinggi.

Pastikan Anda membawa persediaan makanan dan bahan bakar yang cukup jika ingin melakukan perjalanan ke dalam Rawa Singkil melalui jalur Lae Treup.

Pergi berpetualang ke Lae Treup harus diiringi oleh pemandu. Karena di dalamnya terdapat banyak aliran sungai yang dapat menyebabkan kebingungan dan tersesat.

Pemandu dapat memanfaatkan layanan pemilik perahu, agar mengurangi pengeluaran.

Bupati Aceh Singkil, Safriadi bersama istrinya Hj Habibatussania telah merasakan pengalaman menjelajahi rawa Singkil.

Di atas perahu yang sedang berjalan, Safriadi sangat antusias menceritakan pengalamannya menikmati berbagai jenis tumbuhan dan hewan yang terdapat di rawa Singkil.

“Perjalanan ke kawasan rawa Singkil sangat melelahkan, ini benar-benar paru-paru bumi yang dihiasi oleh berbagai macam tumbuhan,” ujar Safriadi.

Di tempat tersebut terdapat bunga vanda hookeriana, orang utan Sumatera, berbagai jenis burung serta ikan.

Menurut Safriadi, Rawa Singkil masih dalam keadaan yang terawat, sehingga tidak kalah dengan hutan Amazon.

Tips ke Lae Treup 

Lae Treup berada di kawasan Rawa Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, merupakan tempat tinggal bagi tumbuhan dan hewan langka dunia.

Seperti orang utan (pongo abelii), bunga vanda hookeriana, beruang, berbagai jenis burung, tumbuhan air serta flora dan fauna langka lainnya.

Orang utan menjadi simbol dari Lae Treup Rawa Singkil. Selain kecantikan alam yang terdapat di wilayah paru-paru dunia tersebut.

Semua petualang yang memasuki Lae Treup berharap dapat melihat orangutan di alam liar.

Namun, diperlukan tips khusus agar perjalanan ke rawa Singkil dapat dilakukan dengan aman dan nyaman dalam melihat orangutan secara langsung di alam liar.

Berikut beberapa saran untuk berwisata ke Lae Treup:

  • Pastikan Anda melakukan perjalanan ke Lae Treup bersama pemandu pengalaman, agar tidak tersesat. Karena di dalamnya terdapat banyak anak sungai yang bentuknya mirip.
  • Dengan bimbingan pemandu, pengalaman petualangan bisa mengarah ke lokasi yang disukai. Misalnya, tempat berupa hamparan bunga vanda hookeriana, menikmati ikan lele di pondok terapung para pencari lele, melihat tumbuhan yang mengapung dan bertemu dengan orang utan.
  • Pilihlah perahu kecil yang mampu menampung tiga orang agar dapat memasuki area Lae Treup yang masih alami.
  • Perahu kecil lebih gesit dalam bergerak melewati alur air yang dipenuhi pohon bakung.
  • Perahu yang digunakan harus dilengkapi dengan dayung, bahan bakar tambahan, kipas perahu cadangan, busi cadangan, serta kunci perbaikan mesin. Hal ini karena mesin perahu sering bekerja keras akibat kipas perahu terjepit akar bakung.
  • Bawa pisau, alat tajam ini sangat diperlukan untuk menghilangkan sampah yang menyelip pada baling-baling perahu.
  • Bawa persediaan yang cukup, obat-obatan, pengusir nyamuk, serta pakaian panjang sangat dianjurkan, terutama jika akan menginap.
  • Jaga keheningan saat memasuki area orangutan. Tujuannya adalah agar orangutan tidak pergi karena terganggu oleh suara manusia.
  • Hapus memori ponsel cerdas dan bawa baterai cadangan untuk dapat merekam semua momen alam liar Lae Treup.
  • Sebelum melakukan perjalanan, tanyakan terlebih dahulu mengenai biaya penyewaan perahu dan jasa pemandu, biasanya sekitar Rp 500 ribu.
  • Mulailah perjalanan menuju Lae Treup dari Desa Rantau Gedang atau Teluk Rumbia, Kecamatan Singkil di pagi hari. Untuk mendekati Lae Treup dan menikmati udara segar.(Lintaskriminal.co.id -/dede rosadi)
Copyright © 2026 10drama.com