SURAT KABAR – PEMIKIRAN RAKYAT –Janji mobil nasional dengan harga di bawah Rp 300 juta kembali membangkitkan harapan masyarakat. Isu yang menarik: kendaraan yang terjangkau, produk dalam negeri, serta simbol kebangkitan industri otomotif tanah air. Namun, pertanyaan yang lebih penting justru jarang dibahas: apakah proyek ini benar-benar memenuhi kebutuhan rakyat, atau hanya mimpi lama yang terus diulang tanpa evaluasi?
Indonesia sering kali terpikat oleh impian “mobil nasional” (mobnas). Mulai dari Timor pada era 1990-an hingga berbagai inisiatif yang muncul kemudian, semangatnya selalu sama yaitu menciptakan rasa bangga nasional melalui industri otomotif sendiri. Namun, kenyataannya adalah kegagalan demi kegagalan muncul bukan karena kurangnya potensi, tetapi karena perencanaan yang lemah, ketergantungan terhadap impor, serta ketidakjujuran dalam membaca pasar.
Sekarang, kembali muncul janji baru: mobil nasional dengan harga di bawah Rp 300 juta. Harga ini terdengar menarik, khususnya bagi keluarga muda di perkotaan. Namun, apakah realistis? Industri otomotif merupakan industri yang membutuhkan teknologi tinggi, bukan sekadar perakitan. Tanpa penelitian yang memadai, pasokan yang andal, dan kemampuan produksi yang stabil, harga murah hanyalah trik, bukan fakta.
Kita juga harus memperhatikan situasi global. Negara-negara yang berhasil mengembangkan mobil nasional seperti Jepang, Korea Selatan, bahkan Tiongkok memulainya dari investasi riset selama puluhan tahun, data pasar yang ketat, serta disiplin industri. Tidak ada yang berkembang hanya berdasarkan slogan. Semuanya bergantung pada inovasi yang konsisten.
Indonesia, di sisi lain, terjebak dalam pola yang sama: proyek besar diumumkan sebelum fondasi teknis selesai dibangun. Kita cepat mengumumkan “mobil nasional”, tetapi lambat mempersiapkan pabrik baterai, teknologi mesin, penelitian keselamatan, sertifikasi emisi, hingga jaringan distribusi dan layanan purnajual seluruh komponen yang membuat sebuah mobil benar-benar mampu bersaing.
Mengapa hal ini penting? Karena apa yang dibeli oleh konsumen bukan hanya sebuah kendaraan, tetapi juga keamanan, ketahanan, dan kepercayaan jangka panjang. Mobil yang murah namun tidak berkualitas merupakan perangkap. Mobil lokal yang belum siap akan mengulangi kegagalan proyek otomotif sebelumnya — suku cadang langka, nilai jual yang menurun drastis, hingga risiko keselamatan bagi pengemudi.
Isu kedua berkaitan dengan kejelasan jalur pengembangan. Apakah mobil nasional ini akan mengandalkan komponen dalam negeri secara utama, atau tetap bergantung pada impor seperti proyek-proyek sebelumnya? Jika tujuan utamanya adalah kemandirian industri, maka tingkat komponen lokal harus sangat tinggi. Jika tidak, mobil nasional hanya akan menjadi simbol kosong: dirakit di Indonesia, tetapi diproduksi oleh negara lain.
Ketiga, kita perlu jujur dalam mengevaluasi kemampuan beli masyarakat. Harga Rp 300 juta memang “lebih terjangkau”, tetapi tetap bukan angka yang kecil. Di tengah stagnasi penghasilan dan meningkatnya biaya hidup, mobil yang layak dimiliki oleh rakyat seharusnya berada di kisaran harga yang benar-benar ramah bagi kantong. Membuat kesan bahwa Rp 300 juta adalah harga murah justru menunjukkan betapa jauhnya pemerintah dari realitas ekonomi keluarga kelas menengah bawah.
Meskipun demikian, ada peluang besar yang terlewat: Indonesia seharusnya memperhatikan kendaraan listrik ringan, angkutan umum kecil, atau motor listrik dengan harga sangat murah, yaitu segmen yang lebih masuk akal, lebih sesuai dengan kebutuhan, dan mampu mempercepat perubahan yang ramah lingkungan. Namun, kita justru mengejar segmen mobil keluarga lima penumpang yang kompetisinya paling sengit dan diisi oleh perusahaan otomotif besar dunia.
Berikut adalah beberapa variasi dari teks tersebut: 1. Selanjutnya, transparansi dalam pembiayaan harus menjadi fokus utama. Proyek-proyek mobil nasional sering kali menghabiskan dana besar, baik secara langsung maupun melalui bentuk insentif. Tanpa sistem audit yang memadai, risiko pemborosan dan konflik kepentingan sangat tinggi. Rakyat berhak mengetahui: seberapa besar dana negara yang dialokasikan? Siapa yang paling banyak mendapat manfaat ekonomi? 2. Berikutnya, kejelasan dalam pengelolaan dana perlu mendapat perhatian khusus. Proyek mobil nasional sering kali memerlukan anggaran besar, baik secara langsung maupun melalui insentif. Tanpa mekanisme audit yang kuat, potensi pemborosan dan konflik kepentingan akan terus mengancam. Masyarakat berhak tahu: berapa uang negara yang digunakan? Siapa yang paling diuntungkan secara ekonomi? 3. Selanjutnya, transparansi pendanaan harus menjadi prioritas. Proyek mobil nasional sering kali menguras dana besar, baik secara langsung maupun melalui insentif. Tanpa sistem audit yang efektif, risiko pemborosan dan konflik kepentingan sangat mungkin terjadi. Publik berhak mengetahui: berapa dana negara yang dialokasikan? Siapa yang mendapat manfaat ekonomi terbesar? 4. Berikutnya, kejelasan dalam penggunaan dana harus menjadi perhatian utama. Proyek mobil nasional sering kali membutuhkan anggaran besar, baik langsung maupun dalam bentuk insentif. Tanpa mekanisme audit yang memadai, risiko pemborosan dan konflik kepentingan bisa terjadi. Rakyat berhak tahu: berapa jumlah uang negara yang dialokasikan? Siapa yang paling banyak merasakan manfaat ekonomi? 5. Selanjutnya, transparansi dalam pengelolaan dana perlu diperhatikan. Proyek mobil nasional sering kali memakan dana besar, baik secara langsung maupun melalui insentif. Tanpa sistem audit yang baik, kemungkinan pemborosan dan konflik kepentingan akan meningkat. Masyarakat berhak mengetahui: berapa uang negara yang digunakan? Siapa yang paling banyak mendapat manfaat ekonomi?
Judul ini tidak menyangkal gagasan mobil nasional. Justru, kita berharap Indonesia mampu menghasilkan produk kendaraan bermotor berkualitas global. Namun, untuk mencapainya, negara perlu jujur dalam melihat kenyataan. Impian tidak dapat menggantikan perhitungan teknis, strategi industri, dan komitmen jangka panjang.
Jika pemerintah benar-benar menginginkan mobil nasional berhasil, dasarnya harus dibangun sebelum pengumuman besar dilakukan: investasi penelitian, kerja sama antara universitas dan industri, pusat uji coba mandiri, hingga ekosistem komponen lokal yang handal. Tanpa hal itu, mobnas hanya akan menjadi proyek simbolis yang muncul sebagai judul berita, lalu hilang sebagai catatan kaki sejarah.
Harapan masyarakat yang sederhana. Jika mobil nasional benar-benar lahir, biarkan ia muncul dari kejujuran, bukan semangat sementara; dari perencanaan yang matang, bukan ambisi jangka pendek; dari kualitas nyata, bukan janji manis. Karena industri otomotif tidak berkembang hanya dengan kata-kata, tetapi melalui kerja keras yang konsisten, tekun, dan terukur.***




