10drama.comDi tengah era digital, berbagai pilihan hiburan semakin beragam. Televisi tradisional yang dahulu menjadi favorit utama kini menghadapi persaingan ketat dari situs seperti YouTube.
Berdasarkan survei We Are Social, lebih dari 80% pengguna internet di Indonesia secara teratur menonton YouTube, sedangkan minat terhadap televisi mengalami penurunan khususnya di kalangan pemuda.
Dilaporkan oleh Geediting pada Sabtu (9/8), dari sudut pandang psikologi, preferensi ini bukan hanya tentang “selera tontonan”, tetapi juga mencerminkan sifat-sifat kepribadian tertentu.
Orang yang lebih kerap mengakses YouTube dibanding menyalakan televisi konvensional umumnya memiliki cara berpikir, kebiasaan, dan prinsip yang sedikit berbeda dibanding penonton TV tradisional.
Berikut 8 sifat kepribadian yang biasanya terlihat.
1. Cenderung Lebih Mandiri dalam Memperoleh Informasi
Stasiun televisi biasa memiliki jadwal tayangan yang tetap dan materi yang ditentukan oleh pihak stasiun.
Di sisi lain, YouTube memberikan kebebasan penuh dalam memilih apa yang ingin ditonton serta kapan saja untuk menontonnya.
Dari sudut pandang psikologi, seseorang yang memilih YouTube umumnya memiliki locus of control internal—yaitu keyakinan bahwa mereka sepenuhnya mengendalikan pilihan dan pengalaman mereka.
Mereka tidak menyukai keterbatasan jam tayang atau pemilihan oleh pihak lain.
Contoh: Seseorang dapat memilih untuk menonton film dokumenter sejarah pukul 2 pagi atau menonton panduan masak saat sedang ingin mencoba resep yang baru.
2. Lebih Mengutamakan Konten yang Pribadi dan Berkaitan
YouTube memanfaatkan sistem algoritma untuk menyarankan konten video yang sesuai dengan ketertarikan pengguna.
Ini memenuhi kebutuhan akan relevansi pribadi—sebuah konsep dalam psikologi yang dikenal sebagai eksposur selektif, di mana individu cenderung mencari informasi yang sesuai dengan minat, nilai, atau keyakinan mereka.
Penonton televisi, di sisi lain, seringkali harus menerima materi yang bersifat lebih umum dan mencakup lingkup yang lebih luas.
Contoh: Jika seseorang tertarik pada dunia teknologi, tampilan YouTube-nya akan diisi dengan ulasan perangkat, berita teknologi, dan panduan pemrograman, bukan sinetron atau acara hiburan.
3. Cenderung Memiliki Rasa Penasaran yang Besar
Banyak orang memanfaatkan YouTube tidak hanya sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran—mulai dari keterampilan nyata, bahasa asing, hingga konsep fisika.
Psikolog mengistilahkan hal ini sebagai keinginan untuk mencari pengetahuan baru, yang dikenal sebagai need for cognition.
Orang yang memiliki rasa penasaran tinggi merasa puas ketika menemukan data yang sebelumnya belum diketahui.
Contoh: Mereka mungkin menghabiskan beberapa jam untuk menonton video yang membahas sejarah kuno, mekanisme kerja AI, atau metode fotografi.
4. Lebih Fleksibel terhadap Teknologi Terbaru
Kebiasaan menonton YouTube umumnya dimiliki oleh orang-orang yang mudah beradaptasi dengan kemajuan teknologi.
Ini berkaitan dengan sifat ketertarikan terhadap ide, tren, serta pengalaman baru.
Mereka tidak mengalami kesulitan dalam beralih dari media lama ke media baru, justru merasa tertarik untuk mencoba fitur atau platform yang lebih baru.
Contoh: Mengikuti perkembangan konten berbentuk pendek seperti YouTube Shorts atau mempelajari cara menggunakan fitur playlist untuk mengelola video kesukaan.
5. Cenderung Memiliki Pola Hidup yang Fleksibel
Orang yang mengakses YouTube tidak memiliki keterikatan dengan jadwal tayangan seperti televisi.
Ini umumnya mencerminkan pola hidup yang lebih fleksibel dan berbasis permintaan.
Dalam psikologi, hal ini berkaitan dengan kecenderungan terhadap komunikasi yang tidak sinkron—aktivitas yang tidak wajib dilakukan secara bersamaan oleh semua pihak.
Contoh: Menonton video sambil menunggu di bandara, saat istirahat kerja, atau sebelum tidur, tanpa khawatir melewatkan acara.
6. Lebih Mengutamakan Komunikasi Saling Berbalik
Televisi tradisional biasanya bersifat satu arah: penonton hanya menerima data.
YouTube, di sisi lain, memungkinkan komunikasi langsung dengan pembuat konten melalui kolom komentar, chat langsung, atau fitur komunitas.
Psikologi komunikasi mengistilahkan ini sebagai interaksi parasosial, di mana hubungan antara penonton dan pembuat konten terasa lebih intim meskipun keduanya tidak saling mengenal secara langsung.
Contoh: Memberikan komentar pada video, mengikuti siaran langsung, atau bahkan menjadi anggota dari komunitas penggemar tertentu.
7. Lebih Menghargai Materi yang Asli
Banyak pembuat konten YouTube yang tampil secara alami, tanpa naskah ketat atau produksi yang besar.
Ini menarik bagi mereka yang menghargai keaslian.
Dalam bidang psikologi, individu yang cenderung memilih materi yang autentik umumnya memiliki kepekaan tinggi terhadap keaslian dan ketulusan.
Contoh: Memilih menyaksikan vlog perjalanan yang sederhana namun tulus, dibandingkan tayangan wisata di televisi yang terlalu diatur.
8. Cenderung Mampu Mengatur Penggunaan Media dengan Bijak
Meskipun tidak semua, beberapa pengguna YouTube mampu mengatur sendiri durasi dan jenis konten yang mereka tonton sesuai dengan keinginan mereka.
Mereka tidak terjebak dalam menonton acara yang penuh dengan iklan atau tayangan yang tidak sesuai.
Di bidang psikologi, hal ini termasuk dalam self-regulation—kemampuan mengontrol perilaku dan waktu guna mencapai tujuan tertentu.
Contoh: Menggunakan YouTube untuk mencari panduan 10 menit yang lalu langsung beralih ke kegiatan yang bermanfaat, bukan sekadar menonton dalam waktu lama tanpa arah.
Kesimpulan
Orang yang lebih memilih menonton YouTube dibandingkan televisi tradisional umumnya memiliki sifat yang lebih mandiri, penuh rasa ingin tahu, fleksibel, serta terbuka terhadap hal-hal baru.
Pemilihan media tidak hanya terkait dengan teknologi, tetapi juga mencerminkan pola pikir dan nilai yang dipegang.
Bukan berarti menonton televisi dianggap “ketinggalan zaman”—setiap jenis media memiliki kelebihannya masing-masing.
Namun, perubahan ini menggambarkan bahwa cara kita mengakses informasi kini semakin individual, interaktif, dan sesuai dengan ritme kehidupan masing-masing.
***




