PR JABAR– Upaya Indonesia mencapai tujuan Net Zero Emissions (NZE) mendapatkan dukungan kuat dari kalangan akademis dan sektor industri energi. Acara peluncuran bantuan BP Berau Ltd. untuk Pusat Pemanfaatan Karbon Dioksida dan Gas Suar (PPKDGS) ITB atau dikenal sebagai Indonesia Center of Excellence for CCS and CCUS (CoE CCS and CCUS), diadakan di Gedung Labtek XVII Dato’ Dr. Low Tuck Kwong – ITB pada hari Senin, 8 Desember 2025. Profesor Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga menjabat sebagai Kepala Indonesia Center of Excellence for CCS and CCUS, Prof. Sanggono Adisasmito, menyatakan bahwa Teknologi Carbon Dioxide Capture, Utilization, and Storage (CCUS) merupakan komponen penting dalam Program Transisi Energi Nasional.
Prof. Sanggono menyampaikan bahwa Indonesia kini memasuki tahap penerapan nyata teknologi CCUS. ITB secara aktif terlibat dalam berbagai proyek sejak tahun 2020, termasuk pengembangan Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) di Wilayah Gas Vorwata, Papua.
Pada tahun 2020, para Ahli ITB mendampingi para Pakar dari BP dalam meninjau penerapan CCUS di Lapangan Gas Vorwata. Karbon dioksida yang dipisahkan dari proses LNG akan disuntikkan kembali untuk meningkatkan produksi gas,” kata Prof. Sanggono. “Peningkatan produksi gas ini secara langsung meningkatkan produksi LNG, sehingga biaya infrastruktur CCUS dapat terpenuhi dari peningkatan produksi tersebut.
Teknologi yang digunakan dikenal dengan nama Enhanced Gas Recovery (EGR), berbeda dengan Enhanced Oil Recovery (EOR) yang biasa digunakan di lapangan minyak. Proyek Tangguh UCC (Ubadari, Compression, CCUS) yang menggunakan teknologi CCUS merupakan proyek EGR besar pertama di Indonesia yang bertujuan menangkap CO2 dari industri LNG dan menyuntikkan sekitar 25 juta ton CO2 ke reservoir Vorwata di Provinsi Papua Barat. Diperkirakan peningkatan produksi gas mencapai 1,3 Triliun Cubic Feet (TCF). Proyek ini sudah memasuki tahap pembangunan dan direncanakan selesai pada tahun 2030.
Selain di bidang LNG, Prof. Sanggono menganggap bahwa CCS merupakan pilihan paling masuk akal untuk menurunkan emisi dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batubara. Ia menyatakan bahwa wacana pensiun dini PLTU seharusnya digabungkan dengan solusi CCS agar transisi energi tetap efisien dan tidak memberatkan Biaya Pokok Pengadaan (BPP) listrik.
Biaya listrik rata-rata saat ini sekitar USD 0,08 per kWh. Jika PLTU dilengkapi CCS, biaya bisa naik menjadi USD 0,13 hingga 0,20 per kWh. Namun hal ini masih lebih murah dibanding BPP Listrik PLTD di Indonesia Timur yang mencapai USD 0,20–0,30 per kWh,” katanya. “Oleh karena itu, lebih baik memasang CCS daripada menghentikan pembangkit lebih dini untuk mengurangi emisi.
SKK Migas: CCUS Bukan Hanya Solusi Teknis, Tapi Juga Aspek Ekonomi
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, turut mendukung pendapat bahwa teknologi CCUS merupakan langkah penting dalam mendukung komitmen Indonesia terhadap Perjanjian Paris untuk mencapai emisi nol bersih. Ia menekankan bahwa penggunaan CO₂ tidak hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga membuka kesempatan ekonomi baru.
Di Pusat Pengelolaan Karbon Dioksida dan Gas Flare ini, kami berharap penelitian yang dilakukan dapat mengurangi gas flare hingga nol,” kata Djoko. “CO₂ yang dikumpulkan bisa dimanfaatkan untuk EOR, menjaga tekanan reservoir, serta membuat minyak lebih mudah mengalir dari batuan.
Djoko menegaskan bahwa meskipun teknologi CCUS masih dianggap mahal, biayanya akan berkurang seiring dengan peningkatan kapasitas produksi. Selain itu, penggunaan CO₂ berpeluang menciptakan pendapatan tambahan melalui perdagangan karbon, kredit karbon, serta peningkatan hasil produksi minyak dan gas.
Ia juga menyampaikan bahwa SKK Migas telah melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan ITB dalam berbagai studi, seperti studi kelayakan, penilaian cadangan, serta penyusunan Rencana Pengembangan (POD). Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat pemanfaatan CCUS dan inovasi sektor migas di Indonesia.
Kunjungan Pejabat dan Eksekutif Migas
Kunjungan ke ITB pada 8 Desember 2025 dihadiri oleh beberapa pejabat dan pimpinan perusahaan minyak nasional serta internasional, antara lain:
- Djoko Siswanto – Kepala SKK Migas
- Noor Arifin Muhammad – Direktur Teknik dan Lingkungan Minyak dan Gas Bumi, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian ESDM
- Kathy Wu – Presiden Wilayah di BP Asia Pasifik
- Daniel Fletcher – Kepala Pengembangan Bisnis CCUS di BP Inggris
-
Matthias Raab – Direktur Eksekutif CO₂CRC Australia
Triyani Utaminingsih – Pemimpin Perusahaan PT Rekayasa Industri
- Dewi Mersitarini – Kepala Kelompok CCS/ CCUS di PT Pertamina (Persero)
- I Gusti Suarnaya Sidemen – Rekan CCS/ CCU di Institut Penelitian Ekonomi untuk ASEAN dan Timur Asia (ERIA)
- Traino Joko Priyono – Manajemen Proyek Pengembangan Bisnis di PT Pupuk Indonesia (Persero).
Para perwakilan mendapatkan penjelasan mengenai latar belakang dan fungsi CoE CCS and CCUS sebagai lembaga lintas disiplin yang berperan dalam pengembangan teknologi, penyusunan peraturan, serta penguatan pasar karbon. ITB juga memamerkan berbagai hasil karya terbaru yang didukung oleh peralatan Laboratorium Modern sebagai Pusat Unggulan Antar Perguruan Tinggi (PUAPT) untuk Tema Pengurangan Risiko Bencana (DRR) dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) pada Tahun Anggaran 2024.
Para tamu juga mengunjungi Laboratorium Enhanced Oil Recovery (EOR), Subsurface Modeling, dan Carbon Capture & Utilization. Mereka mempelajari tahap injeksi CO₂, pengujian sampel batuan (core), serta pemodelan pemanfaatan CO₂ dalam tekanan reservoir.
Puncak acara berlangsung melalui prosesi penyerahan bantuan oleh BP Berau Ltd. beserta mitra-mitranya. Sambutan dari BP Berau Ltd. disampaikan oleh Kathy Wu dan sambutan dari pimpinan ITB disampaikan oleh Prof. Lavi Rizki Zuhal, Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi (WRRI) ITB, sebagai wujud komitmen bersama dalam memperkuat penelitian energi bersih di Indonesia.
ITB sebagai Pusat Penelitian Energi Bersih Nasional
Kunjungan sejumlah pihak terkait menunjukkan peran ITB sebagai salah satu Pusat Riset Energi Bersih dan Teknologi Migas yang terkemuka di kawasan Asia Tenggara. Berbagai Laboratorium dan Pusat Unggulan yang ada di ITB menjadi tempat untuk menghasilkan inovasi, termasuk teknologi CCUS yang kini menjadi standar internasional dalam pengurangan emisi karbon.
Melalui kolaborasi antara Akademisi, Pemerintah, dan Dunia Usaha; Indonesia diharapkan mampu mempercepat peralihan energi tanpa mengorbankan kestabilan pasokan energi maupun pertumbuhan ekonomi.
“Kolaborasi yang baik merupakan kunci utama. ITB siap menjadi mitra strategis bagi Pemerintah dan Industri guna memastikan bahwa Indonesia mampu memimpin penerapan CCUS di kawasan Asia Tenggara,” ujar Prof. Sanggono.
Pengesahan bantuan fasilitas untuk Indonesia Center of Excellence for CCS dan CCUS di Kampus ITB (8 Desember 2025), dihadiri oleh Djoko Siswanto (Kepala SKK Migas), Prof. Lavi Rizki Zuhal (Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB), Kathy Wu (Presiden Regional BP Asia Pacific), dan Noor Arifin Muhammad (Direktur Teknik dan Lingkungan Migas, Ditjen Migas, Kementerian ESDM).




