Lintaskriminal.co.id -.CO.ID-JAKARTABank-bank kecil di kategori kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 1 memiliki harapan positif terhadap akhir tahun 2025 dan tahun 2026, meskipun sektor ini masih menghadapi tantangan dari perlambatan pertumbuhan kredit.
Sebelumnya, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan akan berada di kisaran 8%-11% secara tahunan atau year on year (YoY) pada tahun 2025.
BI juga memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan belum akan mencapai optimal pada tahun depan, dengan target berkisar antara 8% hingga 12%. Meskipun demikian, angka tersebut sebenarnya lebih tinggi dibandingkan target pertumbuhan tahun ini.
Sampai Oktober 2025, pertumbuhan kredit berada pada tingkat 7,36% per tahun. Pertumbuhan pada periode tersebut juga menunjukkan penurunan dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 7,70% YoY.
PT Bank Oke Indonesia, misalnya, menghadapi akhir tahun 2025 dengan semangat yang tinggi setelah kinerja keuangan perusahaan menunjukkan peningkatan yang signifikan dan melebihi berbagai target dalam Rencana Bisnis Bank (RBB).
Kepala Kepatuhan Bank OK, Efdinal Alamsyah, menyampaikan bahwa hingga akhir November 2025, sebagian besar indikator utama telah mencapai bahkan melampaui target yang ditentukan.
Kinerja kredit, DPK, dan laba sampai saat ini masihon track dan menunjukkan arah yang positif sambil tetap mempertahankan prinsip kehati-hatian dan efisiensi,” katanya kepada Lintaskriminal.co.id, Jumat (5/12/2025).
Menurut Efdinal, sejumlah parameter utama dalam RBB telah tercapai hampir 100% pada November 2025. Bahkan, beberapa indikator menunjukkan pencapaian yang jauh melebihi perkiraan awal.
Keuntungan bersih, misalnya, telah melebihi target yang signifikan. Dengan proyeksi keuntungan bersih (net profit) sebesar Rp 104 miliar hingga akhir 2025, namun realisasinya pada November telah mencapai Rp 152 miliar.
Aset dari OK Bank berkembang lebih baik dibandingkan rencana awal. Dari target sebesar Rp 12,6 triliun, OK Bank telah mencapai total aset sebesar Rp 13,5 triliun. Di sisi lain, penyaluran kredit berhasil mencapai target sebesar Rp 10 triliun, sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) melebihi proyeksi yang ditetapkan sebesar Rp 8 triliun, dengan realisasi mencapai Rp 8,8 triliun.
Meski kinerja pada tahun 2025 tergolong baik, Efdinal merasa prospek tahun 2026 tetap penuh tantangan. “Tahun depan masih penuh rintangan karena ketidakpastian global dan tekanan margin,” ujarnya.
Dalam menghadapi perubahan tersebut, perusahaan menyiapkan beberapa fokus strategis. OK Bank akan memperkuat pertumbuhan kredit berkualitas, meningkatkan proporsi dana murah (CASA), dan memacufee-based income, mempercepat proses digitalisasi layanan, serta meningkatkan penerapan pengelolaan risiko.
“Kami akan meningkatkan kinerja dengan ekspansi yang terpilih, penguatan alat dan layanan digital, penghematan biaya, inovasi produk dan layanan, serta penguatan tata kelola,” ujar Efdinal.
Dengan pencapaian yang melebihi target dan strategi yang lebih fokus, OK Bank yakin mampu mempertahankan laju kinerja positif serta menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan pada tahun depan.
Tiga uang setali, Direktur Keuangan Bank Raya, Rustarti Suri Pertiwi, mengungkapkan bahwa perusahaan yakin prospek kinerja ke depan akan semakin solid, didukung oleh pengembangan bisnis digital berkualitas dan penguatan dasar operasional.
Kami memperkirakan prospek kinerja Bank Raya akan terus berkembang di masa depan, didukung oleh kinerja yang kuat melalui ekspansi bisnis digital berkualitas dan inovasi.product champion, peningkatan kualitas aset, serta perbaikan proses bisnis yang meningkatkan efisiensi,” katanya.
Hingga Triwulan III/2025, Bank Raya mampu mencatatkan laba bersih sebesar Rp 41,97 miliar, naik 23,9% dibanding tahun sebelumnya (yoy). Pertumbuhan kinerja juga terlihat dari peningkatan penghimpunan dana. Total Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat mencapai Rp 9,15 triliun, meningkat 16,5% (yoy).
Pertumbuhan DPK ini juga didorong oleh perbaikan komposisi dana murah. Total CASA meningkat signifikan menjadi Rp 2,72 triliun, tumbuh sebesar 38,8% (yoy), sehingga rasio CASA perusahaan meningkat menjadi 29,78%. Rustarti menegaskan bahwa peningkatan proporsi CASA menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat struktur pendanaan Bank Raya di masa depan.
Namun, perusahaan tetap waspada terhadap berbagai tantangan yang berpotensi memengaruhi kinerja sektor perbankan. Beberapa di antaranya adalah fluktuasi ekonomi global serta meningkatnya ketegangan politik di berbagai daerah yang bisa berdampak langsung pada perekonomian dalam negeri. Meskipun demikian, perseroan tetap mengawasi beberapa tantangan yang mungkin memengaruhi kinerja industri perbankan. Di antaranya ialah ketidakstabilan ekonomi global dan meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai wilayah yang dapat berdampak langsung terhadap perekonomian nasional. Sementara itu, perusahaan tetap mengantisipasi berbagai tantangan yang berpotensi memengaruhi kinerja sektor perbankan. Beberapa di antaranya meliputi volatilitas ekonomi global dan meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai wilayah yang dapat memberikan pengaruh langsung terhadap perekonomian domestik.
Untuk mempertahankan laju pertumbuhan, Bank Raya merancang strategi bisnis yang lebih komprehensif. “Kami akan melakukan perluasan dengan memanfaatkan sinergi di dalam ekosistem BRI Group melalui pendekatan eksplorasi dan pemanfaatan, serta mengajak berbagai komunitas untuk memperluas pangsa pasar,” ujar Rustarti.
Dengan dasar digital yang semakin kokoh serta dukungan ekosistem BRI Group, Bank Raya yakin mampu mempertahankan kinerja yang baik dan memperluas cakupan pasar secara terus-menerus.
Selanjutnya, Moch Amin Nurdin, Advisor Banking & Finance Development Center, menganggap bahwa secara umum kinerja bank-bank KBMI 1 menunjukkan hasil yang cukup memuaskan, meskipun masih ada beberapa tantangan mendasar yang menghantui, terutama dalam hal pertumbuhan kredit dan kebutuhan modal.
Amin menyampaikan bahwa sebagian besar dari sekitar 60 bank KBMI 1 menunjukkan kinerja yang stabil.
“Secara kinerja, Bank KBMI 1 ini baik. Rata-rata performanya bagus dari 60 bank lain yang ada di sana,” katanya. Meskipun pangsa aset, DPK, dan kredit KBMI 1 hanya sekitar 10% dari keseluruhan industri perbankan nasional, kinerja operasional mereka tetap dijaga dengan baik.
Namun, Amin menyoroti bahwa pertumbuhan kredit dari bank-bank KBMI dalam 1 tahun ini diperkirakan tidak mencapai target. “Pertumbuhan kreditnya tidak akan tercapai. Target bisnis secara umum untuk hal-hal yang berkaitan dengan kredit juga tidak akan tercapai,” ujarnya. Kondisi ini sejalan dengan tren perlambatan kredit di tingkat nasional.
Ia menyebutkan bahwa kebutuhan investasi untuk meningkatkan layanan digital menjadi tantangan besar bagi bank KBMI 1, karena membutuhkan dana yang cukup besar. “Modal juga menjadi kendala bagi mereka,” tegas Amin.
Meskipun penuh tantangan, Amin menganggap bahwa kesempatan pertumbuhan bagi bank KBMI 1 masih sangat besar, terutama karena mereka beroperasi di segmen ritel dan UMKM menengah bawah yang masih memiliki pasar yang luas.
“Segmen mereka cukup bagus dalam menangani ritel dan UMKM. Pasar masih memiliki peluang yang luas, meskipun sektor UMKM belum sepenuhnya pulih setelah pandemi enam tahun lalu,” katanya.
Amin menekankan bahwa untuk bisa bersaing dan bertahan di tengah dinamika industri yang semakin ketat, bank-bank KBMI 1 perlu mengambil beberapa langkah strategis. “Yang utama adalah efisiensi. Selanjutnya pengembangan digital, mengejar pertumbuhan aset, serta pastinya membutuhkan tambahan modal dari pemiliknya,” katanya.
Ia menganggap bahwa opsi konsolidasi masih tersedia, baik melalui penggabungan, pembelian, atau memperkenalkan mitra strategis. Namun tindakan tersebut perlu mempertimbangkan risiko terhadap pelanggan, khususnya bagi mereka yang memiliki hubungan dengan lebih dari satu bank kecil.
“Jika harus melakukan penggabungan, pasti akan ada risiko yang cukup besar. Nasabah dan pinjaman bisa saling bertabrakan. Itu adalah tantangan yang tidak mudah,” tegasnya.
Menurutnya, dalam jangka 2–3 tahun ke depan, bank-bank KBMI 1 akan mengalami perubahan struktural yang besar. Namun, untuk tahun mendatang, fokus utama mereka adalah menyelesaikan tantangan-tantangan dasar yang ada agar dapat mempertahankan kelangsungan usaha.




