5 Fakta Menarik Burung Elang-Ular Sulawesi, Predator Langit Indonesia!

5 Fakta Menarik Burung Elang-Ular Sulawesi, Predator Langit Indonesia!

Karena posisinya yang berada di kawasan peralihan, tidak mengherankan jika Pulau Sulawesi memiliki berbagai jenis hewan yang mirip dengan spesies dari zona Asiatis maupun Australis. Salah satu contoh hewan yang menunjukkan ciri-ciri zona Asiatis adalah elang-ular sulawesi (Spilornis rufipectus). Karena itu, dari ukuran, penampilan, hingga cara spesies elang ini memilih makanan cukup mirip dengan kerabatnya yang tinggal di kawasan Asia.

Justru, dalam klasifikasi taksonomi, elang-ular sulawesi memang termasuk dalam genusSpilornis yang merupakan burung pemangsa khas wilayah Asia Selatan, termasuk Asia Tenggara. Kerabat terdekat mereka adalah elang-ular bido (Spilornis cheela) yang memiliki sebaran wilayah yang luas. Tentu saja, terdapat berbagai fakta menarik lain mengenai elang-ular Sulawesi selain hubungan mereka dengan spesies elang di kawasan Asia. Penasaran dengan penjelasan lengkapnya? Langsung gulir layar kamu ke bawah, ya!

1. Bagaimana penampilan burung elang ular Sulawesi?

Burung elang sulawesi merupakan jenis elang berukuran sedang. Panjang tubuhnya sekitar 46—54 cm, sayapnya mencapai 105—120 cm, dan beratnya berkisar antara 675—925 gram. Terdapat perbedaan bentuk antara jantan dan betina pada spesies ini, di mana betina memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan jantan.

Dilansir Eagle Encyclopedia, elang-ular sulawesi tampil dengan bulu yang dominan berwarna cokelat. Namun, pada bagian perut terdapat bercak putih dan di sekitar ujung sayap serta ekornya terdapat pola garis hitam dan putih. Di sisi lain, bagian kepala, paruh, dan sepasang kaki burung elang ini cenderung berwarna kuning terang.

2. Tempat tinggal yang disukai dan makanan kesukaan

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, elang-ular sulawesi adalah burung yang hanya ditemukan di Pulau Sulawesi. Secara khusus, mereka menyebar secara merata mulai dari Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, hingga Sulawesi Selatan. Selain itu, beberapa populasi elang-ular sulawesi juga terdapat di pulau-pulau kecil, seperti Kepulauan Sula. BerdasarkanData Zone by Birdlife, luas wilayah yang mereka kuasai sekitar 576 ribu kilometer persegi.

Sementara itu, habitat yang dapat dihuni oleh elang-ular Sulawesi cukup beragam. Contohnya adalah hutan tropis dan subtropis di dataran rendah, savana, padang rumput, serta wilayah sekitar areal pertanian atau perkebunan manusia. Ketinggian tempat yang mereka pilih berkisar antara 0—1.000 meter di atas permukaan laut, namun biasanya berada pada ketinggian 205—850 meter di atas permukaan laut.

Tentu saja, elang-ular Sulawesi merupakan predator yang sungguh-sungguh. Makanan mereka mencakup berbagai jenis seperti kadal, hewan pengerat, dan ular. Mereka mencari mangsa dari udara dengan terbang secara diam-diam. Setelah menemukan sasaran, elang-ular Sulawesi akan meluncur dengan cepat menuju target sambil menggunakan cakar yang sangat tajam untuk menangkapnya. Menariknya, burung elang ini sering mengunjungi daerah yang pernah terbakar. Karena setelah kejadian tersebut, mereka dapat menemukan makanan dengan lebih mudah.

3. Kehidupan sosial

Pada umumnya, elang-ular sulawesi lebih suka hidup sendiri. Mereka biasanya terbang sendirian saat mencari makanan atau beristirahat di atas cabang pohon. Perilaku ini menunjukkan posisi elang tersebut sebagai pemuncak rantai makanan di lingkungan alaminya.

Hanya pada saat musim kawin atau sedang merawat anak, elang-ular sulawesi terlihat bersama dengan individu lain.Planet of Birds melaporkan bahwa pasangan elang-ular Sulawesi akan berada di dahan yang sama. Terkadang keduanya saling memanggil dengan suara,“fli wi keek” atau “keek-kek” secara berulang.

4. Sistem reproduksi

Sebenarnya masih sedikit hal yang telah kita pahami mengenai sistem reproduksi elang-ular Sulawesi. Hanya saja, dilansirPlanet of Birds, diketahui bahwa burung muda ini menetas sekitar bulan Mei sehingga diperkirakan bahwa musim kawin berlangsung antara bulan Januari—April. Selain itu, spesies ini diduga merupakan spesies yang bersifat monogami, yaitu hanya berpasangan dengan satu pasangan saja hingga salah satunya meninggal.

Dalam satu musim kawin, elang-ular sulawesi betina hanya menghasilkan satu telur. Telur tersebut membutuhkan waktu inkubasi selama 35—40 hari. Baik induk jantan maupun betina secara bergantian menjaga telur dan tetap merawat anak dengan baik setelah menetas. Hal yang menarik adalah pasangan elang-ular sulawesi sering menggunakan sarang yang sama untuk merawat keturunan mereka. Di tempat tersebut, anak elang akan diajarkan keterampilan yang diperlukan agar dapat hidup mandiri.

5. Status konservasi

Berdasarkan Daftar Merah IUCN, saat ini elang-ular Sulawesi termasuk dalam kategori kekhawatiran rendah (Least Concern). Jumlah populasi mereka di alam liar diperkirakan sekitar 10.000 individu. Diperkirakan, tren jumlah burung ini cenderung stabil sehingga status perlindungan mereka tidak akan menurun dalam waktu dekat, menurut laporan.Data Zone by Birdlife.

Hanya saja, perlu diingat bahwa pembukaan lahan yang dilakukan secara besar-besaran dan tidak bertanggung jawab di Pulau Sulawesi bisa menjadi ancaman serius. Tidak hanya berisiko kehilangan tempat tinggal, kerusakan lingkungan alami juga mengurangi ketersediaan makanan bagi elang-ular sulawesi. Oleh karena itu, pembukaan lahan untuk tujuan apapun harus dilakukan dengan lebih tanggung jawab, terutama dalam hal pemulihan ekosistem agar tetap terjaga kelestariannya.

4 Fakta Burung Finch, Pilihan Para Tambang untuk Mendeteksi Gas Beracun 5 Fakta Burung Cekakak Air, Pemburu Kecil yang Sangat Sabar

5 Fakta Menarik Burung Camar Belcher, Pencuri Terkenal yang Agresif

5 Fakta Menarik Burung Camar Belcher, Pencuri Terkenal yang Agresif

Jika sedang berada di pantai atau tengah laut, pasti kita sering melihat satu jenis burung dengan ciri khas bulu berwarna putih dan hitam. Ya, burung apa lagi kalau bukan burung camar (famili Laridae). Keluarga burung yang memiliki kerabat dekat dengan dara-laut (famili Sternidae) ini terdiri dari 22 genus dan 104 spesies berbeda, sehingga termasuk dalam keluarga burung yang paling beragam. Salah satu spesies burung camar yang akan kita bahas kali ini adalah camar belcher atau camar ekor pita (Larus Belcheri).

Nama burung ini berasal dari penjelajah asal Inggris, Sir Edward Belcher, yang pertama kali berhasil mencatat keberadaan burung laut ini. Pola warna bulu burung camar ini cukup mirip dengan saudara-saudaranya. Bagian sayap atas dan ekor umumnya berwarna hitam atau abu-abu gelap, sedangkan bagian bulu lainnya berwarna putih. Namun, terdapat pengecualian bagi beberapa individu, di mana kepala mereka bisa berwarna hitam atau putih. Bagian paruh menjadi ciri khas dari camar belcher karena ujung paruh kuningnya memiliki pola warna hitam dan merah.

Jika membicarakan ukuran, burung camar belcher termasuk dalam spesies berukuran sedang. Panjang tubuhnya sekitar 49—52 cm, rentang sayapnya mencapai 120 cm, dan beratnya berkisar antara 436—640 gram. Terdapat beberapa hal menarik mengenai spesies burung ini, dan kita akan segera membahasnya satu per satu. Mari simak penjelasan di bawah ini!

1. Peta penyebaran dan lingkungan pilihan

Burung belcher merupakan bagian dari burung di Dunia Baru, sehingga peta penyebarannya berada di sekitar benua Amerika. DilansirData Zone by BirdlifeSecara khusus, burung ini menyebar sepanjang pesisir barat Amerika Selatan, mencakup wilayah negara seperti Chili, Peru, Ekuador, Panama, serta Kepulauan Falkland. Luas wilayah yang menjadi tempat tinggal camar belcher diperkirakan mencapai 1,09 juta kilometer persegi.

Berdasarkan peta penyebaran dan ciri khas burung camar secara umum, dapat dengan mudah diperkirakan bahwa daerah pesisir pantai menjadi tempat tinggal yang disukai oleh camar belcher. Secara lebih spesifik, mereka cenderung berada di pesisir yang memiliki banyak batu besar, pantai berpasir, dan teluk. Burung ini tidak termasuk dalam spesies yang bermigrasi, sehingga tempat tinggalnya tetap sama sepanjang tahun.

2. Makanan kesukaan dan metode mendapatkannya

Seperti saudara-saudaranya yang lain, burung camar belcher merupakan hewan omnivora. Makanan burung ini mencakup berbagai jenis ikan, molluska, crustacea, telur, burung kecil, hewan pengerat, reptil, serangga, bangkai hewan, hingga sampah manusia. Burung laut ini termasuk dalam kategori hewan yang bersifat oportunis dalam mencari makanan.

Artinya, camar belcher mampu berkeliling dan menangkap mangsa secara mandiri, tetapi jika ada cara mendapatkan makanan dengan lebih mudah, mereka tidak ragu untuk melakukannya.South Dakota Birds menurut laporan, burung camar ini lebih sering berkeliaran di sekitar pantai untuk mencari makanan, namun jika diperlukan mereka juga bisa berenang hingga ke tengah laut. Di sisi lain, ketika menemui spesies camar lain atau hewan umumnya, camar belcher cenderung berubah menjadi pencuri. Masalahnya, tindakan pencurian dari burung ini terkadang melibatkan pengejaran dan kekerasan, hingga burung yang menjadi target pencurian melepaskan makanannya.

3. Kehidupan sosial

Camar belcher merupakan hewan sosial yang membentuk kelompok dengan wilayah tertentu. Jumlah anggota dalam satu kelompok bisa mencapai ratusan individu yang terdiri dari pasangan dan keturunan mereka. Kelompok burung ini biasanya bekerja sama dalam mencari makanan, dan saat musim kawin tiba, mereka berkumpul untuk memulai siklus reproduksi.

Banyak jenis komunikasi suara yang bisa dihasilkan oleh camar belcher. MengutipXeno-cantoTujuan komunikasi vokal ini adalah untuk memanggil pasangan, memberi peringatan kepada individu lain tentang ancaman predator, hingga memberitahu anggota koloni bahwa terdapat sumber makanan. Oh ya, koloni burung ini juga membuat sarang di lokasi yang sama, yaitu pulau kecil di dekat pantai. Sarang camar belcher dibuat dari ranting, sisa tumbuhan, lumut, dan bahan-bahan lain yang ditempatkan di atas batu agar tidak terbawa ombak.

4. Sistem reproduksi

Musim perkawinan untuk camar belcher terjadi pada bulan Desember. Pada masa itu, seluruh anggota koloni berkumpul di lokasi yang sama dan mulai mencari pasangan. Hewan ini dapat dikatakan semi monogami karena dalam satu musim kawin, seekor camar belcher hanya akan berpasangan dengan satu individu, dan pasangan tersebut bisa tetap bersama selama beberapa musim kawin berbeda atau bisa juga mencari pasangan baru.

Dilansir Animalia, burung camar betina akan menghasilkan sekitar 1—3 telur setiap musim kawin. Proses penetasan telur burung ini memakan waktu sekitar 28—30 hari dan betina juga berperan dalam menjaga kehangatan telur tersebut. Setelah anak mereka menetas, baik ayah maupun ibu sama-sama bertanggung jawab dalam merawat dan memberi makan anak mereka. Umur maksimum yang bisa dicapai oleh burung camar ini adalah sekitar 11,5 tahun.

5. Status konservasi

Berdasarkan data dari IUCN Red List, saat ini camar belcher termasuk dalam kategori hewan dengan risiko rendah (Least Concern). Menariknya, jumlah populasi burung laut ini terus meningkat setiap tahun. Meskipun demikian, mereka juga menghadapi ancaman yang cukup besar akibat kerusakan habitat alami dan kedatangan pengunjung yang terus-menerus.

Namun, jumlah individu yang masih tersisa saat ini tidak dapat dipastikan dengan pasti, mengingat penyebaran yang sangat luas dan kebiasaan hidup mereka yang berkelompok. Perselisihan dengan manusia terkadang terjadi karena burung camar belcher sering mencari makan di tempat sampah rumah tangga. Selain itu, burung ini terkadang mengganggu kegiatan para nelayan dengan mencuri ikan yang mereka tangkap.

Jika hanya melihat bagian depan,camarBelcher tampaknya merupakan spesies burung dengan penampilan dan pola bulu yang indah. Namun, siapa sangka jika di balik penampilannya, terdapat sifat “pencuri” yang sangat kental pada mereka. Jadi, ketika berkunjung ke pantai, waspadalah terhadap spesies burung camar ini!

6 Jenis Burung Pemakanan yang Menyusup, Burung Gagak yang Mencuri Makanan Manusia 5 Fakta Menarik Ikan Kecil, Sering Berenang dan Mencari Makan di Sekitar Pantai

Copyright © 2026 10drama.com