5 Alasan Hewan Buas Menyerang Manusia, Bukan Hanya Karena Lapar!

5 Alasan Hewan Buas Menyerang Manusia, Bukan Hanya Karena Lapar!

Hewan liar sering dianggap sebagai makhluk jahat yang akan menyerang manusia kapan saja. Padahal, di hutan, mereka tidak mudah menyerang tanpa alasan yang jelas. Sebagian besar serangan hewan buas terjadi karena dorongan naluri atau tanggapan terhadap situasi tertentu. Faktanya, manusia sering kali tidak menyadari bahwa mereka telah memicu insting bertahan hidup dari hewan-hewan tersebut. Oleh karena itu, memahami alasan di balik serangan mereka dapat membuat kita lebih cerdas saat berada di alam.

Melalui artikel ini, kamu akan memahami bahwa serangan hewan buas tidak hanya disebabkan oleh lapar atau hasrat untuk menghisap darah. Ada berbagai faktor alami yang memicu perilaku agresif, mulai dari rasa terancam hingga naluri menjaga wilayah. Semua hal ini terjadi sebagai bagian dari upaya mereka bertahan hidup di lingkungan alami. Jika kamu menyukai aktivitas di luar ruangan, sangat penting untuk mengetahui alasan-alasan ini agar bisa lebih waspada. Mari simak penjelasan lengkapnya!

1. Mencegah gangguan dari pihak luar terhadap wilayah tersebut

Banyak hewan liar sangat memiliki sifat teritorial dan memiliki naluri kuat dalam menjaga daerahnya. Ketika manusia secara tidak sengaja memasuki wilayah mereka, naluri ini langsung berjalan. Mereka bisa merasa diancam dan menanggapi dengan serangan untuk mengusir “orang asing.” Kejadian ini sering terjadi di lingkungan alami seperti hutan, savana, atau sungai tempat mereka berburu. Contohnya adalah harimau, beruang, atau buaya yang dikenal sangat menjaga wilayahnya.

Naluri territorial tidak hanya berkaitan dengan menjaga makanan, tetapi juga mempertahankan kekuasaan di lingkungan sekitar. Bahkan, ketidakhadiran niat untuk mengganggu, kehadiran manusia saja bisa dianggap sebagai ancaman yang serius. Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami batas wilayah hewan buas saat berada di alam liar. Jangan masuk ke area yang menjadi tempat tinggal atau jalur berburu mereka. Dengan demikian, kamu dapat mengurangi kemungkinan terjadinya serangan yang sebenarnya bisa dihindari.

2. Menjaga anak atau kelompoknya dari ancaman bahaya

Insting melindungi anak atau kelompok sangat kuat pada hewan, termasuk hewan predator. Ketika manusia dianggap membahayakan keturunan atau kawanan mereka, hewan bisa menjadi sangat ganas. Bahkan, hewan yang biasanya tenang pun dapat berubah menjadi agresif jika anaknya dalam bahaya. Fenomena ini sering terjadi pada spesies seperti beruang betina, gajah, atau singa betina. Mereka siap menyerang siapa saja untuk menjaga keamanan kelompoknya.

Perilaku ini dikenal sebagai defensive aggression, yaitu tindakan agresif yang timbul dari naluri bertahan hidup. Banyak insiden serangan hewan liar yang bermula dari manusia yang tidak menyadari sudah terlalu dekat dengan anak-anak hewan liar. Tanpa kesempatan untuk mundur, hewan buas cenderung memilih menyerang terlebih dahulu. Inilah sebabnya para pendaki atau penjelajah hutan dianjurkan tetap waspada di dekat sarang atau anak-anak hewan. Karena bagi hewan buas, melindungi keturunan adalah prioritas utama.

3. Merasa kaget atau terjebak di lingkungan tempat tinggalnya sendiri

Hewan liar cenderung menyerang ketika merasa terancam atau kaget akibat kehadiran manusia. Kejadian ini sering terjadi saat bertemu tiba-tiba di hutan atau ketika jalur mereka terblokir. Dalam keadaan panik, hewan lebih memilih menyerang sebagai cara melindungi diri. Reaksi ini bukan disebabkan oleh sifat agresif alami, tetapi sebagai upaya bertahan dari ancaman yang tidak mereka mengerti. Contohnya seperti serangan beruang atau ular yang merasa diganggu tanpa sengaja.

Kondisi ini sering terjadi ketika manusia berjalan tanpa memperhatikan lingkungan sekitar di hutan atau daerah yang dihuni satwa liar. Hewan yang merasa terancam cenderung melihat manusia sebagai ancaman langsung. Tanpa pilihan lain, mereka melakukan serangan untuk melindungi diri. Oleh karena itu, sangat penting untuk selalu waspada dan menjaga jarak yang aman saat berada di alam bebas. Dengan demikian, kamu dapat menghindari pertemuan yang bisa berujung pada serangan tiba-tiba.

4. Tertarik akibat bau atau gerakan manusia yang memicu naluri berburu

Beberapa hewan buas memiliki kemampuan indra penciuman dan penglihatan yang sangat tajam. Mereka bisa tertarik oleh aroma tubuh, makanan, atau gerakan manusia yang dianggap mirip dengan mangsa mereka. Gerakan mendadak atau aroma tertentu dapat memicu insting berburu mereka secara spontan. Hal ini sering terjadi pada predator seperti hiu, buaya, atau singa yang memiliki naluri berburu yang sangat kuat. Tanpa disadari, manusia bisa memicu insting tersebut melalui tindakan-tindakan sederhana.

Sebagai contoh, mengenakan parfum yang terlalu wangi saat berada di hutan atau bergerak dengan kencang di dekat air yang ditempati buaya. Perilaku semacam ini bisa menarik perhatian predator dan memicu serangan. Bagi mereka, tanda-tanda kecil ini cukup untuk dianggap sebagai kesempatan mangsa. Oleh karena itu, penting untuk menjaga gerakan tetap tenang serta menghindari aroma yang dapat menarik perhatian predator. Kesadaran akan hal ini bisa menjadi penolong ketika kamu sedang berada di daerah yang dihuni hewan liar.

5. Terjadi persaingan wilayah tinggal akibat perubahan kondisi lingkungan

Perubahan lingkungan hidup akibat penebangan hutan, pembangunan infrastruktur, atau eksploitasi sumber daya alam menyebabkan satwa liar kehilangan tempat tinggal. Akibatnya, mereka sering kali masuk ke wilayah manusia guna mencari makanan atau tempat berlindung. Dalam situasi ini, kemungkinan terjadinya kontak dan serangan terhadap manusia meningkat. Hewan yang dipaksa meninggalkan habitat aslinya bisa menjadi lebih agresif karena rasa stres dan takut. Perilaku ini bukanlah alami, melainkan hasil dari konflik yang diakibatkan oleh perubahan lingkungan.

Misalnya, konflik antara manusia dan harimau di Sumatra yang sering terjadi akibat penebangan hutan. Hewan buas merasa terancam dan cenderung lebih agresif terhadap manusia. Mereka memasuki permukiman bukan karena ingin menyerang, melainkan karena habitat mereka semakin sempit. Kondisi ini sering kali tidak disadari oleh masyarakat yang tinggal di dekat daerah konflik. Oleh karena itu, menjaga lingkungan alami sangat penting untuk menghindari konflik antara manusia dengan hewan liar.

Tidak pernah ada serangan hewan buas terhadap manusia tanpa penyebab. Dari insting menjaga diri, merasa diancam, hingga persaingan wilayah hidup, semuanya memiliki pemicu yang dapat dijelaskan secara ilmiah. Oleh karena itu, kita sebagai manusia perlu lebih memahami tingkah laku hewan buas di sekitar kita. Dengan sikap bijaksana dan menjaga jarak, konflik bisa diminimalisir sehingga kita dapat hidup bersama dengan alam. Karena di alam liar, naluri bertahan hidup adalah aturan utama yang tidak boleh diabaikan.

5 Binatang Liar yang Berada di Daerah Rawan, Sering Berenang dan Menyelam Apakah Seluruh Hewan Pemangsa Dianggap Sebagai Hewan Liar? 7 Hewan Liar yang Menyerang dari Bawah Permukaan, Pintar dalam Memburu Mangsa

5 Fakta Menarik Burung Elang-Ular Sulawesi, Predator Langit Indonesia!

5 Fakta Menarik Burung Elang-Ular Sulawesi, Predator Langit Indonesia!

Karena posisinya yang berada di kawasan peralihan, tidak mengherankan jika Pulau Sulawesi memiliki berbagai jenis hewan yang mirip dengan spesies dari zona Asiatis maupun Australis. Salah satu contoh hewan yang menunjukkan ciri-ciri zona Asiatis adalah elang-ular sulawesi (Spilornis rufipectus). Karena itu, dari ukuran, penampilan, hingga cara spesies elang ini memilih makanan cukup mirip dengan kerabatnya yang tinggal di kawasan Asia.

Justru, dalam klasifikasi taksonomi, elang-ular sulawesi memang termasuk dalam genusSpilornis yang merupakan burung pemangsa khas wilayah Asia Selatan, termasuk Asia Tenggara. Kerabat terdekat mereka adalah elang-ular bido (Spilornis cheela) yang memiliki sebaran wilayah yang luas. Tentu saja, terdapat berbagai fakta menarik lain mengenai elang-ular Sulawesi selain hubungan mereka dengan spesies elang di kawasan Asia. Penasaran dengan penjelasan lengkapnya? Langsung gulir layar kamu ke bawah, ya!

1. Bagaimana penampilan burung elang ular Sulawesi?

Burung elang sulawesi merupakan jenis elang berukuran sedang. Panjang tubuhnya sekitar 46—54 cm, sayapnya mencapai 105—120 cm, dan beratnya berkisar antara 675—925 gram. Terdapat perbedaan bentuk antara jantan dan betina pada spesies ini, di mana betina memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan jantan.

Dilansir Eagle Encyclopedia, elang-ular sulawesi tampil dengan bulu yang dominan berwarna cokelat. Namun, pada bagian perut terdapat bercak putih dan di sekitar ujung sayap serta ekornya terdapat pola garis hitam dan putih. Di sisi lain, bagian kepala, paruh, dan sepasang kaki burung elang ini cenderung berwarna kuning terang.

2. Tempat tinggal yang disukai dan makanan kesukaan

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, elang-ular sulawesi adalah burung yang hanya ditemukan di Pulau Sulawesi. Secara khusus, mereka menyebar secara merata mulai dari Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, hingga Sulawesi Selatan. Selain itu, beberapa populasi elang-ular sulawesi juga terdapat di pulau-pulau kecil, seperti Kepulauan Sula. BerdasarkanData Zone by Birdlife, luas wilayah yang mereka kuasai sekitar 576 ribu kilometer persegi.

Sementara itu, habitat yang dapat dihuni oleh elang-ular Sulawesi cukup beragam. Contohnya adalah hutan tropis dan subtropis di dataran rendah, savana, padang rumput, serta wilayah sekitar areal pertanian atau perkebunan manusia. Ketinggian tempat yang mereka pilih berkisar antara 0—1.000 meter di atas permukaan laut, namun biasanya berada pada ketinggian 205—850 meter di atas permukaan laut.

Tentu saja, elang-ular Sulawesi merupakan predator yang sungguh-sungguh. Makanan mereka mencakup berbagai jenis seperti kadal, hewan pengerat, dan ular. Mereka mencari mangsa dari udara dengan terbang secara diam-diam. Setelah menemukan sasaran, elang-ular Sulawesi akan meluncur dengan cepat menuju target sambil menggunakan cakar yang sangat tajam untuk menangkapnya. Menariknya, burung elang ini sering mengunjungi daerah yang pernah terbakar. Karena setelah kejadian tersebut, mereka dapat menemukan makanan dengan lebih mudah.

3. Kehidupan sosial

Pada umumnya, elang-ular sulawesi lebih suka hidup sendiri. Mereka biasanya terbang sendirian saat mencari makanan atau beristirahat di atas cabang pohon. Perilaku ini menunjukkan posisi elang tersebut sebagai pemuncak rantai makanan di lingkungan alaminya.

Hanya pada saat musim kawin atau sedang merawat anak, elang-ular sulawesi terlihat bersama dengan individu lain.Planet of Birds melaporkan bahwa pasangan elang-ular Sulawesi akan berada di dahan yang sama. Terkadang keduanya saling memanggil dengan suara,“fli wi keek” atau “keek-kek” secara berulang.

4. Sistem reproduksi

Sebenarnya masih sedikit hal yang telah kita pahami mengenai sistem reproduksi elang-ular Sulawesi. Hanya saja, dilansirPlanet of Birds, diketahui bahwa burung muda ini menetas sekitar bulan Mei sehingga diperkirakan bahwa musim kawin berlangsung antara bulan Januari—April. Selain itu, spesies ini diduga merupakan spesies yang bersifat monogami, yaitu hanya berpasangan dengan satu pasangan saja hingga salah satunya meninggal.

Dalam satu musim kawin, elang-ular sulawesi betina hanya menghasilkan satu telur. Telur tersebut membutuhkan waktu inkubasi selama 35—40 hari. Baik induk jantan maupun betina secara bergantian menjaga telur dan tetap merawat anak dengan baik setelah menetas. Hal yang menarik adalah pasangan elang-ular sulawesi sering menggunakan sarang yang sama untuk merawat keturunan mereka. Di tempat tersebut, anak elang akan diajarkan keterampilan yang diperlukan agar dapat hidup mandiri.

5. Status konservasi

Berdasarkan Daftar Merah IUCN, saat ini elang-ular Sulawesi termasuk dalam kategori kekhawatiran rendah (Least Concern). Jumlah populasi mereka di alam liar diperkirakan sekitar 10.000 individu. Diperkirakan, tren jumlah burung ini cenderung stabil sehingga status perlindungan mereka tidak akan menurun dalam waktu dekat, menurut laporan.Data Zone by Birdlife.

Hanya saja, perlu diingat bahwa pembukaan lahan yang dilakukan secara besar-besaran dan tidak bertanggung jawab di Pulau Sulawesi bisa menjadi ancaman serius. Tidak hanya berisiko kehilangan tempat tinggal, kerusakan lingkungan alami juga mengurangi ketersediaan makanan bagi elang-ular sulawesi. Oleh karena itu, pembukaan lahan untuk tujuan apapun harus dilakukan dengan lebih tanggung jawab, terutama dalam hal pemulihan ekosistem agar tetap terjaga kelestariannya.

4 Fakta Burung Finch, Pilihan Para Tambang untuk Mendeteksi Gas Beracun 5 Fakta Burung Cekakak Air, Pemburu Kecil yang Sangat Sabar

5 Hewan Pemakan Tumbuhan dengan Gigitan Terkuat di Dunia, Lebih Kuat dari Jaguar dan Singa

5 Hewan Pemakan Tumbuhan dengan Gigitan Terkuat di Dunia, Lebih Kuat dari Jaguar dan Singa

Karnivora merupakan hewan yang memakan daging hewan dengan berbagai metode, mulai dari menyerang, menangkap, hingga menggigit. Banyak karnivora memiliki gigitan dengan kekuatan di atas 1000 PSI yang digunakan untuk merobek kulit dan daging mangsanya.

Contoh buaya air tawar memiliki kekuatan gigitan sebesar 3600 PSI yang mampu menghancurkan tulang dan berputar di dalam air untuk merobek mangsa. Jaguar dengan daya gigitan sekitar 1500 PSI untuk menggigit tulang belakang atau tengkorak mangsa. Hiuh putih besar merobek daging anjing laut dengan kekuatan gigitan mencapai 1800 PSI. Itu contoh dari karnivora.

Ternyata ada herbivora yang memiliki kekuatan gigitan lebih dari 800 hingga 2000 PSI, meskipun bukan untuk menangkap mangsa. Penasaran apa manfaat dari kekuatan gigitan kuat ini? Simak penjelasannya.

1. Kanguru

Kanguru memiliki gigitan yang paling lemah dengan kekuatan 925 PSI, hampir sama dengan beruang grizzly. Gigi kanguru tidak bergantung pada gigi depan untuk mengoyak mangsa. Sebaliknya, kanguru hanya memiliki gigi taring panjang sepanjang 2 inci yang digunakan untuk merobek rumput, ranting pohon, dan semak-semak. Sementara itu, gigi gerahamnya berfungsi untuk mengunyah dan menghancurkan biji-bijian.

Selain itu, kanguru memiliki berbagai kemampuan, yaitu ekornya mampu mengusik predator dan juga digunakan untuk menjaga keseimbangan tubuh saat melompat. Kanguru juga mampu berlari dengan kecepatan 44 mil per jam.

2. Gajah

Bagusnya, kekuatan gigitan gajah mencapai sekitar 2175 PSI, yang lebih besar dibandingkan karnivora seperti harimau dan singa. Gigitan sekuat itu hanya digunakan untuk mengunyah daun, kulit pohon, ranting, buah, dan biji-bijian keras. Mereka memiliki gigi geraham dengan bentuk bergelombang agar meningkatkan efisiensi saat mengunyah makanan.

Dengan menghancurkan biji yang keras, gajah berperan dalam penyebaran biji di lingkungan sekitarnya yang kemudian dapat dimanfaatkan oleh hewan dan tumbuhan lain. Gajah memanfaatkan gigi belakang yang besar untuk mengunyah tanaman.

Panjang gerahamnya sekitar 20 cm dengan berat 4 kg. Gajah merupakan hewan sosial yang hidup dalam kelompok terdiri dari 15 individu yang dipimpin oleh betina yang mengawasi anak-anaknya.

3. Badak

Badak menunjukkan kekuatan gigitan hingga 1000 PSI untuk melindungi diri dari predator seperti singa, hyena, dan buaya nil. Selain itu, alat ini juga digunakan untuk melawan sesama badak dalam persaingan wilayah dan memperebutkan betina yang siap kawin. Gigi badak terdiri dari gigi tajam yang panjangnya lebih dari 5 inci. Gigi geraham besar mereka berfungsi untuk menghancurkan batang dan daun agar dapat dicerna.

Badak adalah hewan yang tampak berat namun mampu berlari hingga kecepatan 34 mil per jam. Jantan bersifat individual, sedangkan betina hidup dalam kelompok kecil. Jantan dewasa menandai wilayah kekuasaannya dengan kotoran dan air seni. Badak berkomunikasi melalui suara dengusan, teriakan, dan geraman.

4. Gorila

A-z animalsmengatakan, gorila memiliki kekuatan gigitan sebesar 1300 PSI yang membantunya dalam mengunyah buah, daun, bambu muda, kulit pohon, biji-bijian, dan batang yang keras. Kekuatan gigitan gorila berasal dari rahangnya yang besar.

Gigi taring jantan yang ukurannya dua kali lebih besar dibandingkan betina digunakan untuk memotong dan merobek tanaman. Secara umum, jantan mampu mengonsumsi hingga 40 pon makanan dalam sehari.

Jantan gorila menunjukkan gigi taringnya guna menunjukkan dominasi di wilayah yang ia kuasai. Meskipun jarang, gajah dapat memanfaatkan kekuatan gigitannya untuk melindungi diri dari ancaman.

Gorila membangun sarang menggunakan ranting dan daun, baik di permukaan tanah maupun di pohon. Kecerdasan yang dimiliki oleh gorila membuat mereka mampu merawat sesama rekan mereka.

5. Kuda nil

Dilansir africa-safaris, kekuatan gigitan kuda nil berkisar antara 1800 hingga 2000 PSI, cukup kuat untuk memecahkan tulang dan merobek perahu. Gigi taringnya memiliki ukuran 40 cm, dengan total gigi sebanyak 35 dan mampu membuka mulut hingga 150 derajat. Kuda nil mengonsumsi berbagai jenis rumput, buah-buahan, serta tanaman air. Kuda nil memakan sekitar 60 pon setiap harinya.

Jantan saling bertarung dengan menggunkan gigitannya untuk merebut atau menjaga wilayah mereka. Pada masa kawin, jantan terlibat dalam pertempuran sengit yang sering menyisakan luka parah akibat gigitan.

Sebagai hewan pemakan tumbuhan, kuda nil secara terbuka menunjukkan keberaniannya dengan menggigit predator seperti buaya, singa, dan hyena yang mengganggu ketenangan anaknya.

Fakta menunjukkan bahwa kekuatan gigitan singa, hewan karnivora ganas tersebut, lebih lemah dibandingkan gajah, gorila, dan kuda nil. Oleh karena itu, hewan herbivora ini jangan dianggap remeh.

Jangan bersikap kasar terhadap hewan herbivora, meskipun mereka tidak secara alami menyerang manusia. Lebih baik bersikap baik kepada mereka agar terhindar dari gigitannya.

Apakah Gigitan Kucing Lebih Berisiko Daripada Gigitan Anjing? Ini Fakta yang Perlu Diketahui Mengapa Gigitan Nyamuk Menyebabkan Gatal? Ini Fakta yang Perlu Diketahui 6 Puskesmas di Bandar Lampung menjadi tempat rujukan untuk kasus gigitan hewan rabies

5 Fakta Unik Monyet Digo yang Suka Bersosialisasi dengan Spesies Lain

5 Fakta Unik Monyet Digo yang Suka Bersosialisasi dengan Spesies Lain

Pernahkah kamu mendengar istilah monyet digo?Macaca ochreata)? Monyet ini termasuk dalam genusMacacasehingga termasuk dalam kelompok kera Dunia Lama (Cercopithecidae). Menariknya, ternyata kera ini merupakan hewan yang hanya ditemukan di Indonesia, loh.

Tepatnya, mereka tinggal di Pulau Sulawesi. Mengenai lokasi spesifik dan fakta menarik apa saja yang dapat kita temukan dari spesies monyet ini, kita akan segera membahasnya. Jadi, jika kalian penasaran dan ingin mengenal lebih jauh tentang monyet digo, langsung saja gulirkan layar ke bawah!

1. Bagaimana penampilan kera digo?

Monyet digo menampilkan rambut berwarna gelap di bagian punggung dan kepala, namun berubah menjadi cokelat muda pada bagian perut serta keempat kakinya. Kepala dari primata ini cenderung bulat dengan sedikit tambahan rambut di area bawah telinga dan pipi yang berwarna cokelat abu-abu. Seperti monyet Dunia Lama lainnya, monyet digo memiliki ekor yang panjangnya sekitar 35—40 cm.

Dilansir New England Primate Conservancy, berat yang dapat dicapai seekor monyet digo sekitar 5—12 kg. Di sisi lain, panjang tubuh mereka tanpa ekor sekitar 50—59 cm. Terdapat perbedaan fisik antara jantan dan betina pada spesies ini, di mana jantan memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan betina. Selain itu, gigi taring atas pada jantan juga lebih besar dibandingkan dengan betina.

2. Peta penyebaran, lingkungan hidup, dan makanan kesukaan

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, peta penyebaran monyet digo hanya terbatas pada Pulau Sulawesi. Secara lebih rinci, primata ini dapat ditemukan di Sulawesi Tenggara serta pulau-pulau kecil di sekitarnya, seperti Pulau Buton dan Pulau Muna. Khusus untuk spesies yang tinggal di dua pulau tersebut, mereka dianggap sebagai subspesies monyet digo dengan nama ilmiah tertentu.Macaca ochreata brunnescens.

Sementara itu, habitat yang disukai monyet digo adalah hutan hujan tropis dengan ketinggian yang tidak terlalu tinggi. DilansirIUCN Red List, rata-rata ketinggian yang disukai oleh primata ini sekitar 800 meter di atas permukaan laut. Namun, terkadang monyet digo juga bisa masuk ke wilayah permukiman penduduk, terutama ketika makanan di hutan sedang langka.

Mengenai makanan, monyet digo termasuk dalam kategori omnivora. Makanan utama mereka terdiri dari berbagai jenis buah, bunga, daun, serta tanaman pertanian. Namun, untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, mereka juga memakan berbagai jenis serangga dan artropoda.

3. Selalu melakukan komunikasi dengan spesies lain

Perilaku sosial monyet digo dapat dikatakan sangat menarik. Mereka telah membentuk kelompok yang terdiri dari 12 hingga 30 individu. Setiap anggota kelompok saling berkomunikasi, saling membantu dalam perawatan diri, memberi peringatan ketika ada ancaman, serta bekerja sama secara harmonis. Namun, interaksi monyet digo tidak hanya terbatas pada sesama anggota kelompok karena mereka cukup cerdas untuk berhubungan dengan spesies lain.

Misalnya, dalam Jurnal WASIAN dengan judul, “Karakteristik Habitat dan Populasi Monyet Butung (Macaca ochreata) di Taman Wisata Alam Tanjung Peropa, Sulawesi Tenggara” karya Zsa Zsa Fairuztania dan Abdul Haris Mustari, monyet digo selalu bergerak bersama spesies burung yang dikenal sebagai kadalan sulawesi (Ramphacoccyx calyorhynchus) dan srigunting rambut berujung panjang (Dicrurus hottentottus). Tujuannya adalah untuk mendapatkan makanan bagi burung tersebut.

Oleh karena itu, ketika monyet digo bergerak dan mendapatkan makanan, serangga di sekitarnya sering kali terbang. Serangga ini menjadi sumber makanan utama kedua dari spesies burung yang telah disebutkan sebelumnya. Jika kedua burung tersebut terus mengikuti monyet digo, mereka bisa memperoleh makanan dengan mudah. Di sisi lain, monyet digo tidak merasa dirugikan maupun diuntungkan dari interaksi ini. Mereka tidak keberatan dengan kehadiran burung, sehingga interaksi ini dikenal sebagai simbiosis komensalisme.

Selain berinteraksi dengan burung, monyet juga terlibat dalam interaksi dengan spesies monyet lainnya, seperti monyet jambul atau monyet tonkean (Macaca tonkeana). Interaksi dengan kera jambul ini lebih menarik karena terkadang keduanya bersatu membentuk kelompok yang besar. Bahkan, perilaku dan aturan sosial kedua spesies ini hampir sama karena seringnya mereka berinteraksi. Oleh karena itu, sering ditemukan kera hibrida yang merupakan hasil perkawinan antara dua spesies kera ini.

4. Sistem reproduksi

Tidak banyak informasi yang diketahui mengenai sistem reproduksi monyet digo. Namun, perilaku mereka berinteraksi dengan spesies monyet lain memberikan dugaan kuat bahwa cara reproduksi mereka mirip dengan kerabat dekatnya. Artinya, musim kawin untuk monyet ini bisa terjadi sepanjang tahun, selama betina menunjukkan tanda-tanda siap untuk bereproduksi. Tanda tersebut berupa pembengkakan di area sekitar alat kelamin.

New England Primate Conservancymenyebutkan bahwa setelah menikah, betina akan mengandung selama sekitar 170 hari. Pada satu siklus reproduksi, hanya satu anak yang lahir. Tahun pertama kehidupan monyet go akan dihabiskan dengan menempel pada tubuh induknya sambil belajar berbagai keterampilan yang berguna untuk hidupnya nanti. Setelah itu, baru anak tersebut mampu hidup mandiri, namun tetap tinggal dalam kelompok tempat ia dilahirkan.

5. Status konservasi

Berdasarkan Daftar Merah IUCN, kondisi perlindungan monyet digo saat ini berada pada tingkat terancam punah,Vulnerable). Selain itu, jumlah mereka terus menurun setiap tahun. Sementara itu, penyebab penurunan ini tidak lain karena tindakan manusia.

Disebutkan bahwa perubahan fungsi lahan yang luas di Sulawesi Tenggara menyebabkan monyet digo kehilangan lingkungan alaminya. Keadaan ini semakin memburuk karena banyaknya industri perkebunan kelapa sawit dan kakao yang dibangun, sehingga menghancurkan hutan secara besar-besaran. Belum lagi, aktivitas tambang ilegal yang sering menggunakan bahan kimia berbahaya seperti merkuri, mencemari sumber makanan dan air monyet digo hingga menyebabkan kematian dalam jumlah besar.

Upaya perlindungan terhadap spesies primata ini telah dilakukan secara intensif. Salah satu metodenya adalah dengan menetapkan kawasan perlindungan bagi monyet digo, seperti yang berada di Rawa Aopa Watomahai, Padang Mata Osu, Tanjung Peropa, Tanjung Batikolo, Cagar Alam Faruhumpenai, Buton Utara, Hutan Lambusango, dan Napabalano yang menjadi titik utama dalam upaya konservasi monyet digo. Mudah-mudahan status konservasinya tidak semakin memburuk agar primata endemik Indonesia ini tetap terjaga kelestariannya, ya!

5 Fakta Menarik Golden-Headed Lion Tamarin, Kera Berambut Mirip Singa 5 Fakta Menarik Monyet Ka’apor Capuchin, Hewan Liar yang Pemalu di Hutan Amazon

Copyright © 2026 10drama.com