AI Akan Menggantikan Jutaan Pekerjaan, Profesi Apa yang Paling Rentan?

AI Akan Menggantikan Jutaan Pekerjaan, Profesi Apa yang Paling Rentan?

JAKARTA, 10drama.com– Kemajuan kecerdasan buatan atauartificial intelligence(AI) berjalan sangat cepat dan diperkirakan akan mengubah wajah pekerjaan di dunia dalam jangka dua hingga tiga puluh tahun mendatang.

Beberapa laporan internasional memprediksi bahwa hingga 60 persen dari pekerjaan saat ini akan mengalami dampak besar karena penggunaan otomatisasi dan sistem cerdas.

Perubahan Besar di Dunia Pekerjaan

Dilansir dari Forbes, Minggu (24/8/2025), laporan McKinsey memprediksi bahwa pada tahun 2030 sekitar 30 persen pekerjaan di Amerika Serikat (AS) dapat sepenuhnya otomatis, sementara 60 persen lainnya akan mengalami perubahan signifikan akibat penerapan kecerdasan buatan.

Goldman Sachs bahkan memperkirakan hingga 50 persen pekerjaan bisa otomatis pada tahun 2045, didorong oleh perkembangan AI generatif dan robotika.

Bank investasi tersebut juga menyebutkan bahwa sekitar 300 juta pekerjaan global dalam bahaya, yang setara dengan seperempat dari pasar tenaga kerja dunia.

Namun, pekerjaan yang bersifat proyek seperti konstruksi, pemasangan, dan perawatan diperkirakan lebih tahan terhadap pengaruh AI.

Larry Fink, CEO BlackRock, menganggap tanda-tanda perubahan tersebut sudah terlihat. “Kami akan melihat perubahan struktur pekerjaan kantor pada 2035,” katanya, dilansir dariForbes.

Pemimpin perusahaan JPMorgan Chase, Jamie Dimon, juga mengingatkan bahwa kecerdasan buatan akan segera menggantikan pekerjaan rutin.

“Dalam 15 tahun, sebagian besar pekerjaan yang bersifat berulang akan diambil alih oleh AI,” tulisnya dalam surat kepada pemegang saham.

Pekerjaan yang Paling Cepat Digantikan oleh Mesin Cerdas

Tidak semua jenis pekerjaan akan mengalami pengaruh secara bersamaan. Pekerjaan yang melibatkan tugas yang berulang, berbasis data, dan administratif cenderung menjadi prioritas dalam proses otomatisasi.

1. Manajemen dan Pelayanan Pelanggan

Penelitian Institute for Public Policy Research (2024) mengungkap bahwa sekitar 60 persen pekerjaan administratif bisa diotomatisasi. Termasuk dalam hal ini adalah input data, pengaturan jadwal, dan layanan pelanggan.

Larry Fink memberikan contoh bagaimana AI digunakan oleh BlackRock untuk meningkatkan efisiensi operasional.

Fink mengatakan BlackRock sedang menyederhanakan fungsi back-office menggunakan AI, sehingga mengurangi pengeluaran.

Peran-peran ini, yang memerlukan pemrosesan data berulang, mengalami keausan dalam jangka pendek seiring dengan meningkatnya akurasi dan skalabilitas AI.

2. Akuntansi serta Pengenalan Analisis Data

Bidang akuntansi, pencatatan keuangan, serta analisis data dasar juga termasuk dalam kategori rentan.

Platform AI seperti Terminal Bloomberg telah mampu memproses data dan menghasilkan laporan lebih cepat dibandingkan manusia.

JPMorgan mengantisipasi bahwa 20 persen peran analis akan terancam otomatisasi pada tahun 2030.

“Dalam 15 tahun, sebagian besar pekerjaan berulang di bidang perbankan akan dikuasai oleh AI,” tulis Dimon.

 

3. Jabatan Profesional Hukum Tingkat Dasar

Tugas-tugas seperti bantuan hukum, penelitian kontrak, dan penyusunan dokumen hukum menjadi fokus berikutnya.

Berdasarkan penelitian dari Stanford (2025), asisten hukum berbasis AI seperti Harvey atau CoCounsel telah mampu memproses dokumen hukum dengan tingkat keakuratan sebesar 90 persen.

Dalio menyoroti kemampuan kecerdasan buatan dalam menganalisis kumpulan data yang sangat besar, sehingga mengancam posisi-posisi yang memerlukan riset mendalam di dunia akademik dan konsultasi.

Namun, strategi hukum yang kompleks dan perwakilan di pengadilan tetap memerlukan manusia karena melibatkan penilaian serta pertimbangan etis.

4. Media dan Sektor Kreatif

Desain grafis, penulisan kreatif, dan jurnalisme dasar menghadapi perubahan besar akibat alat seperti DALL-E serta platform berbasis GPT yang mampu menghasilkan konten dalam jumlah besar.

Sistem AI seperti DALL-E dan ChatGPT kini mampu menghasilkan materi visual maupun teks dalam waktu singkat.

Laporan dari Center for Research Pew (2024) mengungkapkan bahwa 30 persen pekerjaan di sektor media berpotensi diotomatisasi pada tahun 2035.

Bill Ackman, pendiri Pershing Square, menganggap tren ini tidak bisa dihindari. “Konten iklan akan segera dikuasai oleh AI, tetapi kreativitas manusia dalam seni berkualitas tinggi akan bertahan lebih lama,” katanya di platform X.

5. Teknologi serta Pemrograman Dasar

Meskipun terdengar bertentangan, pekerjaan di bidang teknologi juga tidak sepenuhnya aman.

Pengembangan perangkat lunak, teknik, dan ilmu data memiliki dua sisi: AI meningkatkan efisiensi tetapi juga menggantikan pekerjaan pemrograman dan desain yang rutin.

Forum Ekonomi Dunia (2025) memperkirakan 40 persen pekerjaan pemrograman bisa diotomatisasi pada tahun 2040.

Bessent melihat perkembangan dalam posisi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan seperti keamanan siber, tetapi pekerjaan STEM yang standar secara bertahap akan digantikan oleh algoritma.

Meskipun demikian, penelitian, inovasi, dan pengembangan teknologi baru diperkirakan tetap akan diatur oleh manusia dalam jangka panjang.

Profesi yang Masih Bertahan

Sebaliknya, pekerjaan yang membutuhkan empati dan interaksi antar manusia—seperti perawat, terapis, guru sekolah dasar, hingga pemimpin lembaga—diprediksi lebih sulit digantikan.

Penelitian The Lancet (2023) memprediksi bahwa 25 persen tugas administratif medis akan berkurang pada tahun 2035, tetapi perawatan pasien masih memerlukan intervensi manusia.

Di sektor pendidikan, laporan OECD (2024) mengatakan bahwa hanya 10 persen dari tugas mengajar bisa diotomatisasi sampai tahun 2040.

Profesi yang membutuhkan kepemimpinan, kecerdasan emosional, serta kemampuan untuk memotivasi tim tetap akan berfokus pada manusia.

Perlunya Keterampilan Baru

Untuk tetap bersaing, karyawan perlu meningkatkan kemampuan yang sulit digantikan oleh AI, seperti berpikir kritis, kecerdasan emosional, dan literasi digital.

Scott Bessent, mantan pejabat Kementerian Keuangan Amerika Serikat, mengatakan bahwa AI justru dapat meningkatkan daya saing bila diiringi dengan program pelatihan kembali.

Ia memprediksi pada tahun 2040, sekitar 50–60 persen pekerjaan akan mengalami perubahan bentuk, sebelum AI menjadi dominan pada 2050.

AI Menghasilkan Halusinasi, Tapi Masih Butuh Mesin Pencari Tradisional

AI Menghasilkan Halusinasi, Tapi Masih Butuh Mesin Pencari Tradisional

Saya sering menggunakan chat AI dari Microsoft karena kemampuannya dalam merangkum jurnal, membaca situs web, atau mencari judul buku dan makalah yang tidak ditemukan di mesin pencari biasa seperti Google, Bing, atau Yandex. Namun, suatu hari saya menemukan bahwa jawaban AI terasa sedikit aneh. Nama peneliti tidak sesuai dengan topik yang ditelitinya. Peneliti tersebut terkenal di bidang kimia, tetapi makalahnya berisi topik biomolekuler. Mungkin ada hubungan antara kimia dan biomolekul, tetapi sebagai orang awam, saya tetap merasa tidak nyaman dengan hal itu.

Akhirnya saya melakukan pencarian di Google dan menemukan bahwa peneliti tersebut sebenarnya tidak pernah menghasilkan makalah seperti yang disebutkan oleh chat AI. Saya juga pernah menemukan informasi yang disajikan oleh AI ternyata berasal dari tebakan mereka sendiri.

AI merespons bahwa jawaban tersebut sudah sesuai dengan karakter saya sebagai editor dan pendidik. Dari mana guru itu? Ternyata AI menebak bahwa saya seorang pendidik karena menemukan bahwa di internet saya menulis hal-hal yang bersifat edukatif di emperbaca.com dan membahas tentang pendidikan di 10drama.comiana.

Sebenarnya, jawaban yang saya harapkan tidak terkait dengan situasi saya sebagai editor maupun dengan pendidikan.

Pernah juga saat saya bukan tautan yang disertakan dalam jawaban chat AI, tautan tersebut ternyata tidak berfungsi karena domainnya sudah tidak aktif. Pada awal-awal saya menggunakan chat AI, saya tidak pernah membuka tautan yang diberikan. Namun, sejak AI memberikan judul makalah yang tidak pernah ada, saya merasa perlu membuka tautan tersebut bila AI menyertakannya dalam jawabannya.

Ternyata, memverifikasi sendiri jawaban yang diberikan oleh chat AI memang sangat dianjurkan. Dalam penggunaan chat AI, hal ini dikenal dengan istilah human-in-the-loop.

Human-in-the-Loop (HITL)

Human-in-the-loop (HITL) merupakan metode di mana manusia secara aktif terlibat dalam proses pelatihan, penilaian, dan pengoperasian sistem kecerdasan buatan. Bukan berjalan sepenuhnya otomatis, model AI menerima masukan langsung dari manusia guna meningkatkan ketepatan, memperbaiki kesalahan, serta mengurangi bias dalam data.

Sistem manusia dalam loop bermanfaat ketika kita terus-menerus menggunakan chat AI untuk “melatih” dan “mengendalikan” agar informasi yang diberikan oleh AI sesuai dengan konteks dan sejalan dengan realitas yang kita harapkan.

Sebagai contoh, chat AI menebak bahwa saya adalah seorang pendidik selain dari artikel di 10drama.comiana, ternyata juga berasal dari percakapan saya dengannya selama beberapa bulan terakhir. Entah tentang apa saja percakapan tersebut (saya juga lupa), yang jelas pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan kepada chat AI ternyata membuatnya menyimpulkan bahwa saya seorang pendidik.

Karena ia mengira saya seorang pendidik, maka ketika chat AI tidak memiliki basis data untuk menjawab pertanyaan yang saya ajukan, ia kemudian membuat jawaban berdasarkan pola interaksi saya dengannya sebelumnya. Oleh karena itu, agar “persepsinya” berubah, saya harus langsung memberitahu siapa saya sesungguhnya.

Saya juga perlu mulai mengetikkan pertanyaan dengan lebih terperinci, lengkap, dan menyertakan konteks agar AI tidak memberikan jawaban yang tidak akurat lagi.

Kesalahan dan ketidakakuratan informasi yang disampaikan oleh chat AI, seperti yang saya alami, dikenal dengan sebutan halusinasi AI.

Munculnya gangguan visual dari model chat AI atau kecerdasan buatan yang tidak bisa dimatikan merupakan bagian dari dampak sosial-ekonomi dan keamanan dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan. Hal ini sering kali diingatkan oleh tokoh-tokoh terkemuka dalam bidang AI seperti Geoffrey Hinton, pencetus deep learning, Sam Altman selaku CEO OpenAI, serta Elon Musk sebagai pendiri Neuralink.

Elon menggambarkan halusinasi AI sebagai kecenderungan kecerdasan buatan untuk menghasilkan hasil yang terlihat meyakinkan, namun pada kenyataannya tidak akurat atau bahkan palsu.

Halusinasi AI

Meskipun Elon membicarakan halusinasi AI, istilah ini tidak berasal darinya. Pada 2018-2019, istilah halusinasi AI diperkenalkan oleh komunitas peneliti NLP (Natural Language Processing) untuk menggambarkan hasil dari model AI generatif seperti terjemahan atau percakapan, yang terlihat percaya diri tetapi sebenarnya salah atau dibuat-buat.

Pada bulan Juli 2021, Meta menjadi perusahaan pertama yang menetapkan definisi resmi mengenai halusinasi AI sebagai “pernyataan yang terlihat meyakinkan, meskipun tidak benar.”

Jenis pengalaman ilusi yang sering dilakukan oleh kecerdasan buatan:

Kesalahan fakta terjadi ketika AI menyampaikan pernyataan yang tidak benar atau tidak dapat diverifikasi. Kesalahan intrinsik terjadi ketika hasil AI bertentangan dengan data atau konteks yang sudah diketahui benar. Kesalahan ekstrinsik terjadi ketika AI menambahkan informasi baru yang melebihi cakupan sumber tanpa adanya batasan verifikasi. Contohnya adalah memberikan judul artikel padahal artikel tersebut tidak ada dalam dunia nyata.

Kecenderungan halusinasi pada model percakapan seperti ChatGPT, Gemini, atau Copilot mungkin semakin sering terjadi karena saat ini hampir seluruh data dunia nyata telah diolah dalam pelatihan AI, sehingga sumber data utama mulai menipis.

Para ilmuwan kecerdasan buatan saat ini sedang mempertimbangkan penggunaan data sintetis. Data sintetis merupakan kumpulan informasi yang dibuat secara buatan untuk meniru sifat statistik data dunia nyata tanpa mengandung data asli. Data tersebut dihasilkan melalui algoritma generatif dan simulasi berbasis teknologi kecerdasan buatan, sehingga secara matematis mirip dengan data asli meskipun tidak memiliki data asli sama sekali.

Bahaya yang muncul adalah perkembangan konten yang dihasilkan oleh AI membuat semakin sulit membedakan antara informasi asli dan buatan. Hal ini memberikan celah bagi penyebaran informasi palsu, deepfake, serta pengaruh terhadap opini publik melalui dataset atau AI yang belum diverifikasi.

AI atau Mesin Pencari?

Mesin pencari saat ini telah mengintegrasikan teknologi AI seperti Google RankBrain, Google BERT, dan Bing Copilot AI. AI akan memproses data dan merangkum serta menyusun informasi sebelum menampilkan jawaban. Jawaban yang diberikan kepada kita lebih lengkap dan mendetail karena mencakup sumber asli (website, dokumen, atau publikasi resmi).

AI yang terdapat dalam mesin pencarian memudahkan kita mendapatkan informasi tanpa perlu mengklik tautan atau mengunjungi situs web resmi yang menyediakan data tersebut. Sangat memudahkan bagi yang malas bersusah payah dan lama mencari sumber informasi yang akurat.

Namun, karena AI “mampu berpikir sendiri” mengikuti pola yang digunakan oleh manusia, AI di mesin pencari tetap rentan mengalami kebingungan.

Mesin pencari seperti Google, Yandex, Bing, hingga DuckDuckGo mengidentifikasi, mengindeks, dan mengurutkan konten di internet agar pengguna dapat segera mendapatkan jawaban atas pertanyaan mereka. Sementara itu, AI belajar pola, membuat prediksi, memahami bahasa, mengenali gambar, dan sebagainya, tanpa terbatas hanya pada pencarian web.

Intinya, mesin pencari hanya menyajikan informasi yang tersedia di internet, sedangkan AI mampu memberikan informasi berdasarkan pemrosesan sendiri sesuai dengan pola pikir pengguna manusia.

Dengan demikian, mesin pencari tradisional tetap relevan dalam memverifikasi informasi, melacak sumber asli, serta mendapatkan data terkini. Sementara itu, chat AI cocok digunakan untuk eksplorasi gagasan, ringkasan, atau menjawab pertanyaan konseptual, namun hasilnya disarankan diperiksa kembali menggunakan mesin pencari.

***

Pertama, menggunakan AI terlihat sangat sederhana. Cukup ketikkan instruksi atau perintah, dan AI akan menghasilkan gambar, video, atau teks sesuai keinginan kita. Namun, semakin sering digunakan, AI bisa jauh menyimpang dari tujuan yang diharapkan. Seringkali kita mendapatkan informasi yang tidak akurat. Batas antara dunia nyata dan dunia virtual semakin kabur.

Jadi, jangan khawatir dianggap ketinggalan zaman hanya karena tidak pernah memakai berbagai jenis kecerdasan buatan. Terkadang menjadi ketinggalan zaman diperlukan untuk membatasi jumlah informasi yang kita terima. Menerima informasi yang benar-benar dibutuhkan dapat menjaga kehidupan kita tetap bahagia.

Jika ingin mendapatkan informasi yang merujuk langsung pada sumber asli, lebih baik menggunakan mesin pencari seperti Google atau Bing daripada bertanya ke chat AI. Meskipun sedikit melelahkan dan memakan waktu, yang terpenting adalah hasil yang diperoleh bukan berasal dari khayalan AI.

Confluent Perkenalkan Streaming Agents, Bawa AI Agensial ke Real-Time

Confluent Perkenalkan Streaming Agents, Bawa AI Agensial ke Real-Time

Confluent, Inc, perusahaan pemimpin dalam data streaming, hari ini mengumumkan Streaming Agents, fitur terbaru di Confluent Cloud yang mendukung Apache Flink, mempermudah pengembangan dan skalabilitas agen AI yang memantau, menganalisis, serta merespons data secara real-time.

Streaming Agents menghilangkan penghalang dalam penerapan AI berbasis agen di tingkat perusahaan dengan menggabungkan pemrosesan data dan alur kerja AI, serta menawarkan koneksi yang mudah dan aman ke berbagai bagian bisnis, termasuk Large Language Models (LLMs), model embedding, alat, dan sistem lainnya. Fitur ini mempercepat penerapan AI berbasis agen, memudahkan alur kerja yang lebih efisien, waktu implementasi yang lebih singkat, serta menghasilkan model bisnis dan peluang baru yang sangat inovatif.

“AI yang berfokus pada tindakan, atau agentic AI, tercantum dalam rencana setiap perusahaan. Namun, sebagian besar perusahaan masih terjebak di tahap prototipe yang tidak selesai, sehingga ketinggalan, sementara yang lain berlomba mencapai hasil yang bisa diukur,” ujar Shaun Clowes (Chief Product Officer di Confluent).

“Meskipun agen AI yang paling canggih pun akan kehilangan arah tanpa memiliki konteks bisnis terkini. Streaming Agents mempermudah tugas-tugas rumit dalam mengintegrasikan alat dan data yang menciptakan kecerdasan nyata, memberikan dasar yang kuat bagi organisasi untuk menerapkan agen AI yang mendorong perubahan signifikan di seluruh bisnis,” katanya.

Laporan IDC menyebutkan bahwa meskipun perusahaan rata-rata melakukan 23 uji coba konsep AI generatif antara tahun 2023 hingga 2024, hanya tiga dari mereka yang berhasil mencapai tahap produksi. Dari angka tersebut, hanya 62% yang berhasil memenuhi ekspektasi.

Agen akan memiliki kemampuan yang kuat berkat alat dan data yang tersedia, namun proses kerja saat ini terlalu rumit dan mahal, menghambat bisnis dalam memanfaatkan seluruh potensi dari AI agen.

Meskipun kerangka kerja AI yang tersedia mempermudah awal dalam penggunaan agen, banyak perusahaan menghadapi kesulitan mengintegrasikan data real-time ke dalam inisiatif agen AI, sehingga menyebabkan respons yang tidak tepat dan tidak dapat dipercaya.

“Meskipun sebagian besar perusahaan sedang menginvestasikan dana dalam AI yang bersifat mandiri, struktur data mereka masih belum mampu mendukung kemampuan pengambilan keputusan mandiri yang diperlukan oleh sistem-sistem tersebut,” ujar Stewart Bond (Wakil Presiden Divisi Perangkat Lunak Intelijen dan Integrasi Data di IDC).

“Perusahaan sebaiknya lebih mengutamakan solusi AI mandiri yang menawarkan integrasi yang sederhana dan aman, serta memanfaatkan data dalam waktu nyata untuk memberikan konteks yang diperlukan dalam pengambilan keputusan yang cerdas,” katanya.

Membuat dan Meningkatkan Agen AI Real-Time Melalui Agen Streaming

Agen Streaming mengintegrasikan teknologi AI berbasis agen langsung ke dalam sistem pemrosesan streaming guna membantu perusahaan dalam membangun, menerapkan, dan mengelola agen yang berbasis kejadian dengan menggunakan Apache Kafka dan Apache Flink.

Dengan menggabungkan pemrosesan data dan kemampuan berpikir AI, agen dapat mengakses informasi kontekstual terkini dari sumber yang menyediakan data secara real-time, sehingga mampu beradaptasi dengan cepat dan berkomunikasi dengan agen serta sistem lain ketika situasi berubah.

Agen Streaming selalu beroperasi dan bekerja untuk kepentingan bisnis, berjalan secara dinamis, menangani aliran data yang besar, serta merespons sinyal real-time secara langsung dengan kemampuan berpikir yang memperhatikan konteks, mirip dengan tindakan yang dilakukan oleh manusia.

Sebagai contoh, Streaming Agents mampu menetapkan harga yang kompetitif dengan terus-menerus mengawasi harga di berbagai toko online dan secara otomatis memperbarui harga produk di situs penjual agar sesuai dengan penawaran paling menarik bagi konsumen.

Fitur utama dari Streaming Agents meliputi:

Alat Pemanggil untuk otomatisasi konteks: Pemanggilan alat melalui Protokol Konteks Model (MCP) memungkinkan agen memilih alat eksternal yang sesuai, seperti basis data, perangkat lunak sebagai layanan (SaaS), atau API, untuk melakukan tindakan yang relevan. Pemanggilan alat mempertimbangkan apa yang terjadi dalam bisnis dan apa yang dilakukan oleh sistem serta agen lain.

Koneksi untuk keamanan integrasi: Koneksikan dengan aman ke model, basis data vektor, dan MCP langsung melalui Flink. Koneksi ini menjaga kerahasiaan kredensial sensitif, memfasilitasi penggunaan yang lebih luas dengan berbagi koneksi antara berbagai tabel, model, dan fungsi, serta mengelola secara sentral untuk penerapan skala besar.

Tabel Eksternal dan Pencarian untuk Meningkatkan Akurasi AI: Pastikan data yang sedang berjalan diperkaya dengan sumber data selain Kafka, seperti basis data relasional dan REST APIs, agar mendapatkan pandangan data terkini dan lengkap. Hal ini meningkatkan akurasi pengambilan keputusan AI, pencarian vektor, serta retrieval-augmented generation (RAG), mengurangi biaya dan kompleksitas dengan memanfaatkan Flink SQL, serta memanfaatkan fitur keamanan dan jaringan Confluent Cloud.

Kemampuan untuk mengulang proses iterasi dan menjaga keamanan: Agen dapat dikembangkan dan diuji dengan data nyata tanpa dampak langsung, memungkinkan penerapan yang diam-diam, pengujian A/B, serta pengulangan yang lebih cepat.

Agen Streaming tersedia saat ini dalam versi pra-peluncuran terbuka.

Kasus Meta dan Character.AI Diduga Menipu Anak-Anak Di Selidiki Jaksa Agung Texas

Kasus Meta dan Character.AI Diduga Menipu Anak-Anak Di Selidiki Jaksa Agung Texas

Kepala Jaksa Negara Bagian Amerika Serikat, Texas, Ken Paxton sedang melakukan penyelidikan terhadapchatbot pikiran tiruan (AI) yang dimilikiMeta dan Character.AIDua organisasi ini dianggap melakukan tindakan yang tidak jujur dan menyesatkan karena mempromosikan dirinya sebagai alat bantu kesehatan mental.

“Pada era digital saat ini, kita perlu terus berjuang untuk menjaga anak-anak Texas dari teknologi yang menipu dan eksploitatif,” ujarnya melalui situs resmi Jaksa Agung Texas pada Senin, 18 Agustus 2025.

Menurut Jaksa Agung, platform bisa digunakan oleh orang yang rentan, termasuk anak-anak, dan muncul seperti terapi profesional, meskipun tidak memiliki sertifikasi atau pengawasan medis yang sesuai.

Chatbot AI sering kali tidak hanya memberikan saran umum, tetapi juga terbukti berpura-pura sebagai ahli kesehatan mental yang memiliki lisensi, menyatakan kualifikasi tertentu, dan mengklaim menawarkan layanan konseling yang dapat diandalkan. Di sisi lain,chatbot AI menekankan kerahasiaan, ketentuan layanan yang menyatakan bahwa interaksi pengguna akan direkam, diawasi, dan dimanfaatkan untuk iklan guna pengembangan algoritma.

Maka, Ken Paxton mengeluarkan Perintah Investigasi Perdata (CID) terhadap Meta dan Character.AI. “Dengan berpura-pura sebagai sumber dukungan emosional,”platform AI bisa memperdayai pengguna yang rentan, khususnya anak-anak, sehingga mereka mengira mendapatkan layanan kesehatan mental yang sah,” katanya.

Penyelidikan ini juga menuntut pertanggungjawaban perusahaan yang dimaksud dalam melindungi data masyarakat Texas. Selain itu, jaksa juga melakukan pemeriksaan terhadap kemungkinan pelanggaran terhadap Undang-Undang SCOPE dan akan memastikan semua alat berbasis AI beroperasi secara sah, transparan, serta tidak merugikan masyarakat.

Mengutip dari Techcrunch, juru bicara Character.AI mengatakan perusahaan ini baru saja mulai mengeksplorasi iklan yang ditujukan secara spesifik diplatform. Kebijakan privasi berlaku sama bagi seluruh pengguna yang menyesuaikan preferensi pribadi.

Penelitian tersebut tidak memanfaatkan konten percakapan diplatform,” dilaporkan dalam laporan yang terbit pada Selasa, 18 Agustus 2025. Namun, pihak Meta belum memberikan tanggapan terkait penyelidikan tersebut.

Apa Itu Deepfake? Pengertian dan Dampak Teknologinya

Apa Itu Deepfake? Pengertian dan Dampak Teknologinya

10drama.com– Kemajuan teknologi tidak selalu memberikan dampak yang baik. Keberadaan teknologi terbaru justru dapat dimanfaatkan secara salah dan digunakan untuk tujuan yang merugikan. Salah satunya adalahdeepfake yang lahir dari teknologi kecerdasan buatan. 

Deepfake artinya adalah teknologi yang memungkinkan pembuatan gambar, video, dan rekaman audio palsu dengan kualitas sedemikian rupa sehingga terlihat nyata dan meyakinkan.

Secara sederhana, apa itu deepfake? Deepfake adalah jenis teknologi AI yang meniru wajah, suara, dan gerakan manusia untuk membuat konten digital seolah-olah asli.

Teknologi deepfake menjadi berisiko jika digunakan untuk membuat konten di mana seseorang tampak melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah mereka lakukan.

Deepfake dapat meniru suara serta wajah manusia. Lalu, bagaimana mekanisme kerjanya?

Deepfake dan cara kerjanya

Dikutip dari 10drama.com, TechTarget menjelaskan bahwa istilah deepfake berasal dari penggabungan kata “deep learning” dan “fake”. Makna deepfake dalam konteks ini mengacu pada teknologi yang menggunakan deep learning untuk menciptakan materi palsu.

Deep learningmerupakan bagian dari teknologi kecerdasan buatan yang menggunakan algoritma untuk mengubah atau menciptakan konten visual dan suara.

Sementara fake, adalah istilah yang menggambarkan bahwa konten yang dihasilkandeepfakemerupakan palsu atau tidak nyata.

Konten deepfake berbeda dengan video atau gambar yang diubah secara manual menggunakan aplikasi seperti Photoshop.Deepfakesendiri dibuat dengan menggunakan algoritma khusus yang menggabungkan rekaman lama dan baru.

Sebagai contoh, wajah seseorang pada gambar dipelajari menggunakan teknik pembelajaran mesin (machine learning/ML). Kemudian bahan analisis tersebut nantinya akan digunakan untuk dibuat versi “tiruannya” dalam konteks video lain.

Adapun cara kerja teknologi ini yaitu menggunakan kombinasi dua algoritma yaitu generator dan diskriminator. Kedua algoritma ini akan menghasilkan sistem bernama Generative Adversarial Network (GAN).

GAN ini kemudian akan bekerja dengan mengenali pola dalam gambar atau video dari sumber asli yang ingin direkayasa, lalu pola tersebut digunakan untuk membuat konten palsu sesuai keinginan si pengguna.

Saat membuat konten foto deepfakemisalnya, sistem GAN akan melihat foto sumber dari berbagai sudut dan menangkap seluruh detail serta perspektifnya agar dapat ditiru seakurat mungkin.

Metode ini juga mirip dengan cara saat menghasilkan konten videodeepfake. Namun, perbedaannya adalah sistem akan melakukan analisis yang jauh lebih mendetail hingga ke tingkat perilaku, gerakan, dan pola bicara dalam video sumber.

Setelah menganalisis pola-pola tersebut, sistem akan mengumpulkan seluruh informasi dan meneruskannya melalui diskriminator beberapa kali agar meningkatkan kesamaan gambar atau video dengan sumber aslinya.

Bisa meniru wajah dan suara

Seperti yang telah disebutkan di atas, teknologideepfakedapat menciptakan wajah dan suara seseorang secara sangat realistis dan terlihat meyakinkan. Konten yang ditampilkan diklaim mampu meniru gerakan bibir, bahkan ekspresi, serta intonasi suara dari orang yang direkayasa tersebut.

Konten olahan deepfake biasanya dibuat dengan dua cara. Pertama, menggunakan konten seperti video asli yang berisi wajah atau gerakan tubuh seseorang yang ingin diubah. Kedua, mengganti wajah orang tersebut ke dalam konten lain (face swap).

Bukan hanya gambar atau video, teknologideepfakejuga mampu menirukan suara seseorang secara mirip.

Metode kerjanya mirip dengan konten foto dan video, di mana model AI akan belajar pola suara seseorang dan menghasilkan rekaman yang terdengar hampir sama dengan suara aslinya.

Deepfakeaudio sering dikombinasikan denganlipsync, yaitu konten palsu yang memanfaatkan sinkronisasi bibir di mana suara seseorang disesuaikan dengan gerakan bibir dalam video asli, sehingga terlihat nyata seolah-olah dikatakan langsung oleh orang tersebut.

Bahaya deepfake di kehidupan nyata

Konten-konten yang dihasilkan teknologi deepfakebisa berisiko. Karena materi ini dapat dimanipulasi untuk melakukan penipuan, pemerasan, merusak nama baik, hingga menyebarkan konten pornografi.

Sementara pelaku tindak pidana ini sering memanfaatkandeepfakeuntuk menyebarkan berita palsu yang bahkan melibatkan tokoh politik atau figuran publik agar terlihat lebih meyakinkan.

Penipuan berkedok deepfakehal ini juga dilaporkan pernah terjadi di berbagai negara lain dengan informasi yang salah yang bervariasi, meliputi:

  • Pendiri Meta, Mark Zuckerberg yang menunjukkan kebanggaannya terhadap jumlah pengguna Facebook.
  • Mantan presiden Amerika Serikat, Joe Biden yang dikabarkan mengalami penurunan kemampuan kognitif. Video tersebut dibuat dengan tujuan memengaruhi pemilihan presiden tahun 2020.
  • Foto Paus Fransiskus memakai jaket tebal
  • Mantan presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terlibat pergulatan dengan petugas kepolisian.
  • Video CEO Facebook Mark Zuckerberg yang menyampaikan pidato mengenai kekuatan negatif perusahaannya
  • Video Ratu Elizabeth yang sedang menari dan berbicara mengenai kekuatan teknologi

Tips mendeteksi konten deepfake

Dihimpun 10drama.comTekno dari laman TechTargetada tiga cara utama yang dapat dilakukan untuk mengidentifikasi konten-konten yang beredar di internet dan kemungkinan dibuat menggunakan teknologideepfake

Pertama, perhatikan ekspresi wajah atau gerakan mata dalam video tersebut. Dijelaskan bahwa posisi wajah pada konten palsu umumnya terlihat tidak alami dan mata jarang berkedip, berbeda dengan video yang menampilkan manusia asli.

Kedua, perhatikan pencahayaan atau bayangan yang terlihat pada subjek dalam video. Konten deepfake sering kali menunjukkan pencahayaan yang tidak sempurna dan terasa tidak alami. Selain itu, ketika video diperbesar, akan terlihat tidak wajar.

Ketiga, periksa keselarasan antara gerakan bibir dan suara yang dihasilkan. Dijelaskan bahwa video palsu sering kali menunjukkan ketidaksesuaian antara pergerakan mulut dengan suara yang terdengar.

Berikut beberapa tips yang diharapkan dapat membantu pembaca lebih waspada dan terhindar dari informasi palsu yang dibuat dengan bantuan teknologi.deepfake

Dengan memahami konsep deepfake, makna deepfake, serta ciri-cirinya, diharapkan pembaca lebih waspada terhadap berita palsu yang dihasilkan oleh teknologi ini.

Meta Menghadirkan Fitur Dubbing Suara AI di Reels

Meta Menghadirkan Fitur Dubbing Suara AI di Reels

10drama.com –, JAKARTA – Meta menghadirkan fitur dubing suara berbasis kecerdasan buatan (AI) diReels secara global.

Fitur ini memungkinkan pengguna untuk menerjemahkan ucapan mereka ke dalam bahasa lain dengan tambahan pilihan lip-sync, sehingga gerakan bibir sesuai dengan hasil terjemahan.

Mark Zuckerberg pertama kali memperkenalkan teknologi tersebut dalam acara Meta Connect 2024.

Pada tahap pertama, penerjemahan hanya tersedia antara bahasa Inggris dan Spanyol.

Meta memastikan bahwa dukungan terhadap bahasa lain akan segera datang.

Saat ini, fitur tersebut hanya tersedia untuk kreator Facebook yang memiliki lebih dari 1.000 pengikut, sementara pemilik akun publik Instagram dapat menggunakannya secara langsung.

Fitur ini bekerja dengan melatih suara asli pengguna, kemudian menghasilkan rekaman audio terjemahan yang tetap mempertahankan nada dan intonasi suara tersebut.

Fitur lip-sync akan menyesuaikan gerakan mulut sesuai dengan hasil terjemahan, sehingga tampil lebih alami.

Cara menggunakannya, pengguna hanya perlu memilih opsi “Translate your voice with Meta AI” sebelum mengunggah Reels.

Di tempat tersebut, pengguna dapat menambahkan lip-sync sambil memeriksa hasil terjemahan AI sebelum dipublikasikan.

Kelak, penonton akan melihat notifikasi yang menunjukkan bahwa suara menggunakan terjemahan berbasis AI.

Meta mengatakan fitur yang paling efektif digunakan untuk video dengan orientasi wajah menghadap ke kamera (face-to-camera).

Pengguna sebaiknya tidak menutupi wajah atau memakai musik latar yang terlalu keras.

Teknologi dapat mendukung hingga dua orang berbicara, tetapi sebaiknya tidak saling mengganggu.

Perusahaan menekankan bahwa fitur dubbing bertujuan untuk membantu para kreator memperluas cakupan penonton dari berbagai bahasa.

Meta juga menyediakan informasi kinerja berdasarkan bahasa sehingga para kreator dapat mengawasi sejauh mana efektivitas konten mereka dalam setiap bahasa.(engadget/ant/jpnn)

Elon Musk Siap Rilis Grok 4.20, Hadapi GPT-5

Elon Musk Siap Rilis Grok 4.20, Hadapi GPT-5

10drama.com -, JAKARTA — xAI milik Elon Musk tengah menguji versi terbaru Grok4.20, yang dikabarkan mampu bersaing denganGPT-5dalam beberapa ukuran, seperti ARC-AGI-2.

Di sebuah unggahan di X, Elon Musk telah mengungkapkan informasi mengenai Grok 4.20 yang rencananya akan dirilis pada akhir Agustus.

Model kecerdasan buatanTeknologi (Artificial Intelligence/AI) terbaru ini akan berbentuk “multimodal asli”, yang berarti Grok 4.20 mampu memproses aliran bit video/audio secara langsung, serta memahami kontennya tanpa perlu mengubahnya terlebih dahulu.

“Sebagai contoh, dia akhirnya akan mengerti suasana hati dan penekanan dalam cara seseorang berbicara,” jelas Musk, dilaporkan oleh BleepingComputer, Rabu (13/8/2025).

Sebelumnya, Elon Musk telah mengonfirmasi pengembangan model dasar V7, yang telah menyelesaikan pelatihan awal pekan lalu.

xAI sebelumnya telah merilis model Grok 4, yang kinerjanya melebihi kompetitornya. Grok 4 unggul dalam penilaian matematika dan sains yang terstruktur, serta memperkenalkan sistem multi-agen dalam Grok 4 Heavy untuk lingkungan penelitian dan pemikiran jangka panjang.

Namun, ternyata model AI ini lebih lambat dibandingkan Grok 3. Hal ini disebabkan oleh pemahaman terhadap gambar dan video yang belum sepenuhnya sempurna dalam penggunaan sehari-hari.

Hal ini menyebabkan pengguna harus merancang prompt dengan cermat, serta memangkas masukan karena batasan jendela konteks yang relatif sempit. Jika pengguna menginginkan kinerja terbaik dari Grok 4 Heavy, mereka harus membayar lebih untuk itu.

Grok 4 juga dianggap lebih sesuai bagi para pengembang dan ilmuwan, karena mereka mampu menjelajahi model kecerdasan buatan tersebut.

Bagi pengguna pemula, mereka mungkin lebih nyaman menggunakan Grok 3 karena kecepatan dan responsnya, atau bisa memilih model utama lainnya yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.

Bila dibandingkan dengan model AI terbaru dari OpenAI, yaitu GPT-5, Grok 4 jauh tertinggal dalam hal kecepatan. Menurut laporan Artificial Analysis, ketika kedua model ini diuji, GPT-5 mampu menghasilkan 156 token output per detik, sedangkan Grok 4 hanya mampu menghasilkan 72 token output per detik.

Namun, dari sisi intelijen, kedua model AI tersebut memiliki skor yang sedikit berbeda. Berdasarkan Indeks Kecerdasan Analisis Buatan, GPT-5 memperoleh skor 69, sedangkan Grok 4 mendapatkan skor 68.(Muhamad Rafi Firmansyah Harun)

3 Keterampilan Tak Tergantikan oleh AI, Ini Dia!

3 Keterampilan Tak Tergantikan oleh AI, Ini Dia!

10drama.com –Pengembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat menimbulkan kekhawatiran masyarakat mengenai hilangnya beberapa pekerjaan di masa depan.

Banyak tugas administratif dan masalah teknis kini telah digantikan oleh kecerdasan buatan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap AI yang berpotensi mengurangi kesempatan kerja.

Namun, sejumlah ahli teknologi dan ilmuwan menyatakan bahwa terdapat beberapaskillatau keterampilan manusia yang rumit, bahkan mungkin tidak mungkin digantikan oleh AI.

Keterampilan ini tidak hanya melibatkan kemampuan teknis, tetapi juga aspek manusia yang bersifat khas.

Lalu, keterampilan apa saja yang dimiliki manusia yang tidak bisa digantikan oleh AI?

Rasa ingin tahu manusia

Dikutip dari Business Insider, Selasa (6/5/2025), ilmuwan kecerdasan buatan terkenal sekaligus dosen di California Institute of Technology, Anima Anandkumar, memberikan saran kepada pemuda yang khawatir tentang masa depan, yaitu selalu mengasah rasa ingin tahu.

“Saya menganggap salah satu pekerjaan yang tidak akan tergantikan oleh AI adalah kemampuan untuk memiliki rasa ingin tahu dan mengejar tantangan yang rumit,” kata Anima.

“Maka, bagi generasi muda, saran saya adalah jangan takut terhadap AI atau khawatir tentang keterampilan apa yang perlu dipelajari agar tidak digantikan, tetapi tetaplah berada di jalur yang dipandu oleh rasa ingin tahu,” tambahnya.

Diketahui bahwa Anandkumar pernah menjabat sebagai direktur riset AI tingkat senior di Nvidia dan ilmuwan di Amazon Web Services. Ia meninggalkan pekerjaannya di sektor swasta pada tahun 2023 untuk kembali berkecimpung di dunia pendidikan akademis.

“Jangan khawatir terhadap AI. Manfaatkannya sebagai alat untuk meningkatkan rasa penasaran, belajar keterampilan baru, ilmu yang baru, dan lakukan dengan cara yang jauh lebih menarik,” tambahnya.

Kemampuan empati, visi jangka panjang, serta tujuan strategis

Dikutip dari The Economic Times, Sabtu (2/8/2025), Sridhar Vembu, CEO Zoho Corporation, menyatakan bahwa meskipun perkembangan AI sangat pesat, teknologi ini masih kurang memiliki empati, penilaian, serta visi jangka panjang yang biasanya dimiliki oleh manusia.

Menurutnya, teknologi tersebut memiliki kelemahan yaitu kemampuan pemahaman konteks.

Kemampuan tersebut mencakup pemahaman terhadap tujuan strategis, pemahaman akan masalah pelanggan, serta keterbatasan yang ada di antara berbagai fungsi.

Ia menyampaikan bahwa manusia sebagai insinyur memiliki tugas untuk merancang, memperluas skala, serta berinovasi terhadap AI dengan tanggung jawab.

“Tanpa pengawasan manusia, model AI yang canggih juga bisa berkembang menjadi bias, ketidakefisienan, atau celah keamanan,” katanya.

Oleh karena itu, fungsi manusia tetap sangat penting, tidak hanya dalam memanfaatkan AI, tetapi juga dalam mengarahkan dan memastikan penggunaannya dengan tanggung jawab.

Pemikiran interdisipliner

Dikutip dari Business Insider, CEO Autodesk Andrew Anagnost menekankan perlunya pendekatan lintas bidang dalam menghadapi perkembangan teknologi AI yang pesat.

Menurutnya, bila AI sudah mampu menulis kode, maka keterampilan yang lebih penting bagi manusia adalah kemampuan memahami konsep berpikir sistem dan menghubungkan berbagai bidang ilmu.

Anagnost memiliki latar belakang pendidikan dalam bidang teknik penerbangan serta ilmu komputer, keduanya menjadi dasar yang kuat untuk pendekatan lintas disiplin.

Ia mengakui bahwa memahami suatu bidang secara mendalam sangat penting, tetapi menilai bahwa keahlian yang terlalu spesifik kurang berguna di dunia kerja saat ini, kecuali bagi mereka yang berkeinginan menjadi peneliti murni.

Di tengah perkembangan AI yang mampu menguasai keterampilan teknis tertentu, Anagnost berpendapat bahwa memahami berbagai bidang ilmu pengetahuan serta terlibat dalam merancang dan menentukan cara kerja suatu produk akan semakin relevan.

Ia menyampaikan, manusia perlu menjalankan peran sebagai pengatur kreatif yang mengarahkan dan mengelola output dari sistem AI.

Keunggulan GPT-5 Terbaru dari OpenAI

Keunggulan GPT-5 Terbaru dari OpenAI

OPENAI resmi meluncurkan GPT-5, model AI terbaru yang akan mendukung ChatGPT generasi berikutnya. “GPT-5 adalah langkah besar dalam kecerdasan dibandingkan semua model sebelumnya, menunjukkan kinerja terbaik dalam pemrograman, matematika, penulisan, kesehatan, pengenalan visual, dan lainnya,” kataOpenAIdalam sebuah tulisan di blog mereka, Kamis, 7 Agustus 2025.

GPT-5 adalah model AIModel pertama OpenAI yang menggabungkan kemampuan berpikir logis dari seri O dengan kecepatan respons dari seri GPT. Model ini menandai masa depan baru bagi ChatGPT—dan pengembangnya, OpenAI — yang menunjukkan ambisi lebih luas OpenAI untuk menciptakan sistem AI yang lebih mirip agen daripada chatbot.

Meskipun chatbot AI yang didukung oleh GPT-4 mampu memberikan jawaban yang cerdas terhadap berbagai pertanyaan, GPT-5 memungkinkan ChatGPT menyelesaikan berbagai tugas untuk pengguna—seperti mengembangkan perangkat lunak, mengelola kalender pengguna, atau menyusun ringkasan penelitian.

Dengan GPT-5, OpenAI juga berupaya meningkatkan kemudahan penggunaan ChatGPT. Alih-alih meminta pengguna untuk menentukan pengaturan yang sesuai, GPT-5 dilengkapi dengan router real time yang menentukan metode terbaik dalam memberikan jawaban, baik itu menjawab pertanyaan pengguna secara cepat maupun menyisihkan waktu tambahan untuk merenungkan jawaban.

Kelebihan GPT-5

CEO OpenAI Sam Altman menyatakan bahwa GPT-5 merupakan model terhebat di dunia dan menjadi kemajuan penting dalam perjalanan perusahaan untuk menciptakan AI yang mampu melebihi manusia dalam tugas-tugas yang memiliki nilai ekonomi tertinggi—yaitu kecerdasan buatan umum (AGI). “Memiliki sesuatu seperti GPT-5 hampir tak terbayangkan sebelumnya dalam sejarah,” ujar Altman dilansir dariTech Crunch.

OpenAI menyatakan bahwa GPT-5 merupakan model paling canggih dalam beberapa bidang, sedikit mengungguli AI terkenal dari Anthropic, Google DeepMind, dan xAI milik Elon Musk pada indikator utama. Namun, GPT-5 sedikit kalah dibandingkan model AI yang belum matang di bidang lain.

Di SWE-bench Verified—sebuah uji tugas pengembangan perangkat lunak dunia nyata yang diambil dari GitHub—GPT-5 meraih skor 74,9 persen dalam uji coba pertama. Artinya, GPT-5 hanya sedikit lebih unggul dibandingkan model Claude Opus 4.1 terbaru dari Anthropic yang mendapatkan skor 74,5 persen, serta Gemini 2.5 Pro dari Google DeepMind yang mencatatkan skor 59,6 persen.

Pada ujian terakhir Humanity—sebuah ujian berat yang mengukur kemampuan model AI dalam matematika, humaniora, dan sains—versi GPT-5 dengan kemampuan pemikiran lanjut (GPT-5 Pro) meraih skor 42 persen ketika menggunakan alat bantu. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan hasil xAI melalui Grok 4 Heavy, yang mencapai skor 44,4 persen dalam ujian tersebut.

Dalam ujian pertanyaan sains tingkat doktoral akademik GPQA Diamond, GPT-5 pro mencatatkan skor 89,4 persen dalam uji coba pertama, melebihi Claude Opus 4.1 yang meraih 80,9 persen dan Grok 4 Heavy yang mendapatkan 88,9 persen.

Dalam pengujian yang menilai akurasi respons model AI terkait topik kesehatan, HealthBench Hard Hallucinations, OpenAI mengungkapkan bahwa GPT-5 hanya mengalami halusinasi sebesar 1,6 persen. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan model GPT-4o dan o3 sebelumnya, yang masing-masing memiliki skor 12,9 persen dan 15,8 persen.

Selain itu, OpenAI menyebutkan bahwa GPT-5 unggul dibanding model AI lainnya dalam bidang yang lebih subjektif dan sulit diukur, seperti desain kreatif serta penulisan. GPT-5 dilaporkan memberikan respons yang lebih alami dan menunjukkan rasa yang lebih baik daripada model AI lainnya dalam tugas-tugas kreatif.

Sejak peluncurannya, GPT-5tersedia bagi seluruh pengguna gratis ChatGPT sebagai model utama mereka. Wakil Presiden ChatGPT OpenAI Nick Turley menyatakan bahwa ini merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam memberikan akses ke model AI reasoning kepada pengguna gratis untuk pertama kalinya.

Bocoran Terbaru: Apple Siapkan “Otak Baru” GPT-5 untuk iPhone & Mac! Apa Kejutannya?

Bocoran Terbaru: Apple Siapkan “Otak Baru” GPT-5 untuk iPhone & Mac! Apa Kejutannya?

10drama.com –Sebuah inovasi teknologi besar akan segera diluncurkan, di mana Apple akan memasukkan model kecerdasan buatan terbaru GPT-5 dari OpenAI ke dalam sistem inti mereka.

Integrasi ini menawarkan pengalaman pengguna yang sebelumnya tidak pernah ada di iOS 26, iPadOS 26, dan macOS Tahoe 26, menggabungkan kemampuan ChatGPT dengan Apple Intelligence.

Berdasarkan laporan 9to5Mac yang diterbitkan pada 7 Agustus 2025 dan disebutkan Senin, pembaruan perangkat lunak ini direncanakan hadir pada bulan mendatang, menjadi awal dari era baru dalam interaksi digital.

Mengapa GPT-5 Mengubah Semua Hal untuk Apple Intelligence?

Saat ini, Apple Intelligence di iOS 18, iPadOS 18, macOS Sequoia, dan visionOS 2 masih menggunakan model GPT-4o. Namun, kehadiran GPT-5 akan membawa peningkatan yang signifikan, memungkinkan Apple Intelligence untuk melakukan berbagai tugas dengan akurasi dan tingkat pemahaman yang lebih baik.

Penggunaan ChatGPT dalam Apple Intelligence bersifat opsional, memberikan pengguna kebebasan penuh untuk menggunakannya.

Jika diizinkan, Apple Intelligence akan memperkenalkan tiga dimensi baru dalam kemampuan perangkat Anda.

Pertama, Siri akan mengalami perubahan, mampu memberikan jawaban yang jauh lebih lengkap, termasuk informasi terperinci dalam foto atau dokumen Anda, berkat akses langsung ke ChatGPT.

Kedua, Alat Penulis akan didukung oleh ChatGPT, memungkinkan Anda menyusun teks atau menghasilkan gambar berdasarkan deskripsi sederhana, mengubah cara Anda berkarya.

Ketiga, kemampuan Visual Intelligence dan pengendalian kamera akan menjadi alat yang efektif untuk memahami lebih mendalam mengenai objek serta lokasi di sekitar Anda secara langsung, mengubah cara Anda berinteraksi dengan dunia nyata.

Perlindungan Privasi Apple: Jaminan Keamanan Informasi Anda

Apple menjadikan privasi pengguna sebagai hal yang paling utama dalam pengintegrasian ChatGPT ini. Mereka telah mengambil langkah-langkah ketat, seperti menyembunyikan alamat IP pengguna dan memastikan bahwa OpenAI tidak akan menyimpan permintaan yang Anda ajukan.

Namun, perlu dicatat bahwa jika Anda memutuskan untuk menghubungkan akun OpenAI pribadi Anda, maka kebijakan penggunaan data dari OpenAI akan berlaku, sebuah opsi yang tersedia bagi pengguna.

Fitur Khusus Lain pada iOS 26 dan Langkah-Langkah yang Diambil oleh OpenAI ke Masa Depan

iOS 26 tidak hanya terkait dengan GPT-5. Sistem operasi ini akan memperkenalkan Live Translation, fitur inovatif yang mampu menerjemahkan percakapan secara langsung dalam FaceTime, panggilan telepon, dan pesan teks.

Peningkatan dalam Visual Intelligence memungkinkan penggunaan interaksi dan pencarian langsung terhadap konten yang muncul di layar, sehingga meningkatkan efisiensi multitasking Anda.

Apple juga memberikan akses bagi para pengembang, memungkinkan mereka menggunakan model AI yang terintegrasi dalam perangkat. Ini membuka banyak peluang untuk mengembangkan aplikasi yang lebih canggih dan andal, didukung oleh teknologi inti Apple Intelligence.

Di sisi lain, OpenAI juga mengumumkan dua model bahasa besar (LLM) dengan bobot terbuka, salah satunya dikhususkan untuk perangkat Mac yang menggunakan chip Apple Silicon, serta program yang bertujuan meningkatkan penggunaan ChatGPT secara lebih sehat.

Akses GPT-5: Fleksibilitas Pemilihan Penggunaan

Berita baiknya, model GPT-5 akan tersedia secara gratis bagi seluruh pengguna, memastikan kemudahan akses terhadap teknologi AI terkini. Namun, untuk mereka yang memerlukan kemampuan yang lebih kuat, OpenAI menawarkan paket berbayar yang menarik.

Ini merupakan layanan langganan ChatGPT Plus dengan biaya 20 dolar AS (sekitar Rp325 ribu) per bulan, serta paket Pro yang dibanderol 200 dolar AS (sekitar Rp3,2 juta) per bulan untuk penggunaan tanpa batas.

Pengguna yang memilih paket premium ini bisa dengan mudah mengakses fitur-fitur tersebut melalui Apple Intelligence, serta menikmati seluruh keuntungan yang disediakan oleh ChatGPT.

Copyright © 2026 10drama.com