Profil BYD yang Menarik

Profil BYD yang Menarik

Lintaskriminal.co.id –  BYD adalah singkatan dari “Build Your Dreams”, sebuah perusahaan otomotif dari Tiongkok yang saat ini dikenal sebagaiprodusen mobil listrik dan hybrid terbesar di dunia.

Berikut penjelasan singkat mengenai BYD:

  1. Didirikan pada 1995

    Awalnya, BYD bukan perusahaan otomotif, melainkan produsenbaterai isi ulangPada tahun 2003, mereka memasuki industri otomotif setelah mengakuisisi pabrik mobil kecil di Tiongkok.

  2. Berbasis di Shenzhen, China

    Kantor pusat BYD berada di Shenzhen, sebuah kota yang juga terkenal sebagai pusat inovasi teknologi (tempat kelahiran Huawei, DJI, dan Tencent).

  3. Fokus pada Kendaraan Berkelanjutan

    BYD menghasilkan kendaraan listrik murni (EV) dan mobil hibrida (plug-in hybrid electric vehicle/PHEV). Selain itu, mereka juga menghasilkanmobil listrik, truk listrik, hingga baterai dan sel surya.

  4. Teknologi Baterai Sendiri

    Keunggulan BYD ada pada Blade Battery, baterai fosfat besi lithium (LFP) yang diklaim lebih aman, tahan lama, dan ramah lingkungan.

  5. Produsen Mobil Listrik Terbesar

    Sejak tahun 2023, BYD telah mengungguli Tesla sebagai produsen kendaraan listrik terbesar di dunia, berdasarkan total penjualan kendaraan listrik (EV) dan kendaraan listrik plug-in hybrid (PHEV).

  6. Harga Lebih Terjangkau

    Mobil-mobil BYD rata-rata lebih murahdibandingkan dengan merek Eropa, Jepang, atau Tesla, tetapi tetap dilengkapi fitur terbaru dan teknologi mutakhir.

  7. Ekspansi Global

    BYD kini telah memasarkan kendaraannya di Eropa, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Asia Tenggara, termasukIndonesiadengan model seperti Dolphin, Atto 3, dan Seal.

Pajak Tahunan Wuling Binguo EV Kurang dari Rp500.000

Pajak Tahunan Wuling Binguo EV Kurang dari Rp500.000

JAKARTA, 10drama.com– Sejak pertama kali diperkenalkan, Wuling Binguo EV mendapat banyak perhatian dari masyarakat Indonesia. Mobil listrik asal Tiongkok ini tampil dengan gaya desain yang retro futuristik serta interior yang mewah.

Selain itu, Wuling Binguo EV juga ramah lingkungan serta memiliki biaya perawatan yang murah. Pemerintah juga memberikan berbagai insentif, khususnya terkait pajak tahunan.

Salah satu caranya adalah dengan menghapus Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). PKB dan BBNKB untuk kendaraan listrik berbasis baterai telah ditetapkan sebesar nol persen.

Aturan tersebut diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2023 Mengenai Dasar Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, dan Pajak Alat Berat Tahun 2023.

Pasal 10 Ayat 1 menyatakan, “Pemungutan pajak kendaraan bermotor listrik (KBL) berbasis baterai untuk orang atau barang ditentukan sebesar 0 persen dari dasar pengenaan pajak.”

Kemudian, dalam ayat kedua, terdapat tulisan, “Pengenaan BBNKB KBL Berbasis Baterai untuk orang atau barang ditentukan sebesar 0 persen dari dasar pengenaan BBNKB.”

Keuntungan ini dirasakan oleh pemilik Wuling Binguo EV produksi 2024 bernama Karina. Menurutnya, pajak tahunan Wuling Binguo EV tidak melebihi Rp 500.000.

“Pajaknya sangat murah, hanya ratusan ribu,” ujar Karina kepada 10drama.com, beberapa waktu lalu.

Pada tahun pertama, pemilik Binguo EV hanya wajib membayar Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ), serta mengurus Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) dan Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB).

PKB Rp 0

BBNKB Rp 0

SWDKLLJ Rp 143.000

Penerbitan STNK Rp 200.000

Penerbitan TNKB Rp 100.000

Total Rp 443.000

Selanjutnya, untuk tahun kedua hingga keempat, pemilik kendaraan listrik hanya perlu membayar SWDKLLJ. Kemudian, untuk pajak lima tahunan, biaya yang harus dibayarkan berbeda lagi.

PKB Rp 0

BBNKB Rp 0

SWDKLLJ Rp 143.000

Perpanjang STNK Rp 200.000

Pengesahan STNK Rp 50.000

Penerbitan TNKB Rp 100.000

Total Rp 493.000

Jika dibandingkan dengan kendaraan bermotor biasa, perbedaannya bisa sangat signifikan. Setiap tahunnya, pemilik mobil listrik tidak perlu menghabiskan lebih dari Rp 500.000 untuk biaya pajak kendaraan.

PHEV vs Listrik: Mana yang Lebih Praktis untuk Harian?

PHEV vs Listrik: Mana yang Lebih Praktis untuk Harian?

Mobil ramah lingkungan semakin diminati di Indonesia, dengan opsi utama berupa kendaraan listrik murni (EV) dan mobil hybrid yang bisa diisi ulang (PHEV). Kedua jenis ini memberikan penghematan bahan bakar serta emisi yang lebih sedikit dibanding mobil biasa, tetapi efisiensinya bisa berbeda tergantung cara penggunaannya. Memahami perbedaan ini akan memudahkan kamu dalam memilih teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan.

Bayangkan kamu tinggal di sebuah kota besar dengan jarak tempuh harian sekitar 30 km. Mobil listrik sepenuhnya bisa menempuh perjalanan tersebut tanpa memerlukan sedikit pun bensin, sedangkan PHEV menggabungkan daya listrik dan mesin bensin. Pertanyaannya adalah, yang mana lebih efisien dalam penggunaan energi dan biaya operasional?

1. Penggunaan energi dan jangkauan perjalanan

Mobil listrik murni memanfaatkan baterai sebagai sumber energi utama. Efisiensinya tinggi karena motor listrik mengubah sebagian besar energi menjadi tenaga gerak. Namun, jangkauannya bergantung pada kapasitas baterai dan keberadaan titik pengisian daya.

Meskipun PHEV mampu berjalan menggunakan motor listrik selama jarak tertentu, biasanya antara 40 hingga 80 km, sebelum mesin bensin mulai bekerja. Dalam perjalanan harian yang singkat, PHEV dapat sangat efisien, namun untuk perjalanan jauh, penggunaan bensin akan meningkat.

2. Biaya operasional

EV lebih unggul dalam penggunaan biaya energi per kilometer karena mengandalkan listrik yang harganya lebih murah dibanding bensin. Mengisi daya di rumah pada malam hari biasanya menjadi pilihan yang lebih hemat. PHEV bisa diisi daya dan digunakan seperti EV untuk jarak pendek, tetapi jika sering digunakan tanpa melakukan pengisian, efisiensinya akan menurun signifikan karena mesin bensin akan bekerja lebih sering.

3. Infrastruktur dan fleksibilitas

PHEV lebih fleksibel dalam perjalanan jarak jauh karena bisa mengisi bahan bakar bensin kapan saja, tanpa harus tergantung pada keberadaan stasiun pengisian listrik. Mobil listrik sepenuhnya membutuhkan infrastruktur pengisian yang cukup, terutama pengisian cepat selama perjalanan jauh. Jika kamu tinggal di daerah yang memiliki sedikit SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum), PHEV mungkin lebih sesuai.

Kesimpulannya, mobil listrik sepenuhnya merupakan pilihan paling efisien untuk penggunaan sehari-hari di kota dengan akses pengisian yang mudah, sedangkan PHEV memberikan keseimbangan yang ideal bagi mereka yang menginginkan efisiensi sekaligus fleksibilitas dalam perjalanan jauh. Tingkat efisiensi terbaik tetap bergantung pada kebiasaan berkendara dan fasilitas yang kamu miliki.

Apakah Mobil Blind Van Diperbolehkan Digunakan untuk Mengangkut Penumpang?

Harga Hyundai Ioniq 5 Bekas Turun Drastis! Diskon Ratusan Juta

Harga Hyundai Ioniq 5 Bekas Turun Drastis! Diskon Ratusan Juta

 

PORTAL PEKALONGAN – 

 JAKARTA– Pasar mobil listrik bekas di Indonesia tengah mengalami perubahan yang signifikan.

Hyundai Ioniq 5, yang pernah menjadi primadona sejak peluncurannya pada 2021, kini mengalami penurunan harga yang cukup besar.

Banyak penjual mobil bekas menurunkan harga hingga ratusan juta rupiah.

Ke mana Baterai EV Setelah Dibuang? Ternyata Ini Fungsinya

Ke mana Baterai EV Setelah Dibuang? Ternyata Ini Fungsinya

Lintaskriminal.co.id –– Sampah baterai kendaraan listrik (EV) menjadi masalah yang muncul di tengah upaya percepatan transisi energi bersih.

Meskipun kendaraan listrik dianggap lebih ramah lingkungan, sisa baterai bekasnya dapat menjadi limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) jika tidak dikelola dengan benar.

Dalam webinar bertajuk Baterei Kendaraan Listrik Bekas: Mengubah Sampah Menjadi Sumber Energi Baruyang diadakan Spora Institute, Minggu (14/9/2025), CEO Spora EV, Bowo Kusumo, menyampaikan bahwa pemerintah telah memiliki peraturan yang jelas mengenai pengelolaan limbah baterai kendaraan listrik.

“Untuk sampah baterai kendaraan listrik, aturan pemerintah sudah jelas. Tidak diperbolehkan langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir karena termasuk limbah B3,” kata Bowo Kusumo kepada Lintaskriminal.co.id.

Bowo mengatakan bahwa baterai kendaraan listrik bekas dapat menimbulkan risiko lingkungan akibat kandungan bahan kimianya.

Oleh karena itu, penanganannya harus dilakukan oleh perusahaan pengelola limbah B3 yang memiliki izin serta kemampuan teknologi sesuai dengan standar yang berlaku.

Namun, Bowo menyoroti bahwa masalah utama justru berada pada sisi logistik dalam pengumpulan dan pengangkutan baterai bekas dari pengguna akhir menuju fasilitas pemrosesan.

Ini merupakan tantangan yang belum sepenuhnya terselesaikan.

“Masalah logistik sangat rumit. Contohnya, bagaimana mengumpulkan baterai bekas dari berbagai lokasi, termasuk daerah terpencil, serta memastikan pengangkutannya aman,” katanya.

Selain itu, Bowo menganggap definisi baterai bekas sebagai limbah belum sesuai.

Karena baterai kendaraan listrik yang tidak lagi dapat digunakan dalam mobil, masih memiliki kapasitas energi yang cukup untuk kebutuhan lain.

“Kondisi baterai mobil listrik bekas tidak selalu rusak parah. Umumnya masih memiliki kapasitas sekitar 60-70 persen. Hal ini masih bisa dimanfaatkan, seperti untuk sistem penyimpanan energi di rumah atau skala pabrik,” katanya.

Peristiwa ini memberikan kesempatan untuk memanfaatkan kembali baterai bekas sebelum benar-benar sampai pada tahap daur ulang atau penghancuran.

Beberapa perusahaan di dunia sudah mulai memperluas pengembangan merekasecond-life batteryyaitu penggunaan baterai bekas kendaraan untuk keperluan stasioner seperti penyimpanan energi matahari.

Indonesia, menurut Bowo, perlu memulai pembangunan sistem pemanfaatan ulang baterai kendaraan listrik. Hal ini akan mendukung prinsip ekonomi sirkular dan mengurangi beban limbah B3.

“Lebih baik kita memanfaatkan energi yang masih tersisa daripada langsung mengklasifikasikannya sebagai limbah. Hal ini dapat menjadi sumber energi baru,” tegasnya.

Spora EV saat ini sedang melakukan penelitian dan pengujian terhadap model pemanfaatan kembali baterai bekas dalam sektor rumah tangga maupun industri kecil.

Pada diskusi yang diadakan secara virtual, Bowo juga menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, dan kalangan akademisi dalam merancang sistem pengelolaan baterai kendaraan listrik yang berkelanjutan.

Tentu saja pihak terkait tidak mampu bergerak sendiri. Diperlukan adanya kebijakan yang mendukung, insentif, serta partisipasi masyarakat agar ekosistem ini dapat terbentuk.

Bowo menegaskan, tantangan ini tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga mengenai pendidikan masyarakat tentang kepentingan pengelolaan limbah baterai.

“Kesadaran masyarakat juga sangat penting. Jangan sampai baterai bekas dibuang sembarangan, karena risikonya sangat berbahaya bagi lingkungan,” ujarnya.

Webinar ini dihadiri oleh ratusan peserta yang berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari para profesional energi, ilmuwan, hingga mahasiswa.

Diskusi berjalan dengan semangat membahas kemungkinan daur ulang dan penggunaan kembali baterai kendaraan listrik.

Semakin bertambahnya jumlah kendaraan listrik di Indonesia, masalah pengelolaan baterai bekas diperkirakan akan semakin mendesak dalam beberapa tahun mendatang.

Perbandingan Mobil Listrik dan Pertumbuhan Infrastruktur Pengisiannya

Perbandingan Mobil Listrik dan Pertumbuhan Infrastruktur Pengisiannya

Lintaskriminal.co.id –– Pertumbuhan kendaraan listrik berbasis baterai (KBLBB) di Indonesia terus meningkat secara signifikan.

Berdasarkan data dari Korlantas Polri pada bulan September 2025, jumlah kendaraan bermotor listrik mencapai 204.486 unit, sedangkan mobil pribadi listrik tercatat sebanyak 112.318 unit.

Namun, peningkatan penggunaan kendaraan listrik belum sepenuhnya sejalan dengan perkembangan infrastruktur pengisian baterai.

Berdasarkan data PLN pada Agustus 2025, hanya tersedia sebanyak 4.134 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), serta 1.902 unit Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU).

SPKLU lebih banyak digunakan untuk kendaraan empat roda, tetapi secara detail, hanya 362 unit yang khusus dialokasikan untuk mobil listrik. Di sisi lain, jumlah pelanggan dengan pengisian daya di rumah mulai meningkat, tercatat sebanyak 50.857 pelanggan hingga saat ini.

Dalam webinar dengan tema “Baterai EV Bekas: Mengubah Limbah Menjadi Energi Baru”, yang diadakan via Zoom pada hari Minggu (14/9/2025), Eko Adji Buwono dari ENTREV menyampaikan bahwa Indonesia sedang mengikuti jalur pengadopsian kendaraan listrik yang serupa dengan Tiongkok dan Amerika Serikat.

“Kenaikan eksponensial biasanya muncul pada tahun keempat setelah adopsi awal. Di Tiongkok dan Amerika Serikat, hal ini terjadi pada 2020, dan kami memprediksi Indonesia akan mengalami situasi serupa pada 2028,” kata Eko.

Sebagai perbandingan, pada tahun 2020, tingkat kendaraan listrik per stasiun pengisian listrik umum di Amerika Serikat mencapai 18:1, sedangkan di Tiongkok hanya 6:1.

Data Indonesia pada Desember 2024 menunjukkan rasio 17:1 dengan jumlah 53.764 unit KBLBB dan 3.163 SPKLU.

Dalam rencana pengembangan infrastruktur pengisian daya kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) pada periode 2025 hingga 2030, terdapat dua skenario perkembangan:

  1. Peningkatan secara linear pada periode 2025 hingga 2027, tetap mempertahankan rasio 17:1.

  2. Peningkatan yang pesat pada periode 2028–2030, diiringi dengan naiknya produksi lokal dan penurunan harga KBLBB, dengan target rasio 15:1.

Pemerintah dan para pelaku industri diharapkan dapat mempercepat pembangunan infrastruktur agar tidak terjadi ketidakseimbangan antara jumlah kendaraan listrik dengan fasilitas pendukungnya.

Jika tidak, kecepatan kendaraan listrik bisa terhambat karena habis baterai di tengah jalan.

VinFast Kembangkan 500 Bengkel Hadapi Persaingan Mobil Listrik

VinFast Kembangkan 500 Bengkel Hadapi Persaingan Mobil Listrik

Lintaskriminal.co.id -.CO.ID – JAKARTA. Pasar kendaraan listrik atau electric vehicle(EV) Indonesia sedang menjadi incaran para produsen global. Untuk mempertahankan kompetitif, VinFast berfokus pada peningkatan kualitas layanan pascapenjualan.

CEO VinFast Indonesia Kariyanto Hardjosoemarto menggarisbawahi peluang yang ditawarkan oleh target 2 juta mobil listrik dan 13 juta kendaraan roda dua berbasis listrik di jalan raya pada tahun 2030 yang ditetapkan pemerintah Indonesia.

Namun, dalam memanfaatkan peluang yang tersedia, Kariyanto menganggap penjualan unit hanya merupakan langkah awal. Perusahaan baru asal Vietnam ini memutuskan untuk fokus membangun kepercayaan melalui pelayanan setelah penjualan.

“Di Indonesia, di mana kendaraan listrik masih dalam tahap perkembangan awal, jaminan memiliki peran yang sangat penting. Bagi banyak pembeli pertama, kekhawatiran terkait penurunan nilai, daya tahan baterai, dan biaya perawatan sering kali lebih besar dibandingkan antusiasme terhadap teknologi yang lebih ramah lingkungan,” kata Kariyanto dalam pernyataannya, Sabtu (13/9/2025).

Menurutnya, salah satu hambatan dalam penerimaan kendaraan listrik di Indonesia adalah kekhawatiran konsumen mengenai biaya perawatan, ketersediaan bengkel resmi, teknisi yang kompeten, serta suku cadang asli. Faktor-faktor ini dianggap dapat menghambat keputusan pembelian mobil listrik.

Maka, VinFast menyiapkan strategi yang lebih proaktif. Pada tahun ini, perusahaan menargetkan pembangunan 500 bengkel resmi di seluruh Indonesia. VinFast juga bekerja sama dengan jaringan dealer setempat agar layanan purna jual berjalan secara konsisten.

Selain jaringan bengkel, VinFast menyediakan berbagai program garansi. Misalnya, garansi kendaraan dengan cakupan yang luas serta jaminan nilai tukar kembali hingga 73% dalam tiga tahun kepemilikan.

Perseroan mengklaim tingkat pengembalian pembelian (buyback) kendaraan mencapai 93% dalam enam bulan pertama, dan tetap bertahan pada tingkat 70% setelah tiga tahun. Kariyanto menyatakan angka ini lebih besar dibanding rata-rata sektor industri.

VinFast menawarkan pilihan pembelian kendaraan tanpa baterai dengan paket langganan baterai yang tidak terbatas jangkauannya. Dengan sistem ini, pelanggan tidak perlu khawatir menghadapi risiko penurunan kemampuan baterai. Perusahaan akan menanggung biaya perawatan, perbaikan, hingga penggantian jika kapasitas baterai menurun di bawah 70%.

“Untuk mempermudah lebih lanjut, VinFast menyediakan layanan pengisian daya gratis di jaringan stasiun V-Green di seluruh Indonesia,” tambah Kariyanto.

Pembandingan Mobil Listrik: Neta V vs BYD Atto 3, Pilih yang Mana?

Pembandingan Mobil Listrik: Neta V vs BYD Atto 3, Pilih yang Mana?

Lintaskriminal.co.id –– Persaingan di pasar mobil listrik di Indonesia semakin sengit, khususnya dengan munculnya berbagai jenis kendaraan dari produsen Tiongkok. – Kompetisi dalam pasar mobil listrik di Tanah Air semakin memanas, terutama karena kehadiran berbagai model dari perusahaan asal Tiongkok. – Persaingan di pasar mobil listrik Indonesia semakin ketat, terutama akibat munculnya banyak model dari produsen Tiongkok. – Kondisi persaingan di pasar mobil listrik di Indonesia semakin sengit, terutama dengan hadirnya berbagai pilihan dari merek Tiongkok.

Dua merek yang sering dibicarakan adalah Neta V dan BYD Atto 3. Kedua model ini memiliki keunikan masing-masing, mulai dari harga, kinerja, hingga fitur yang disediakan.

Dari segi kinerja, BYD Atto 3 menawarkan daya yang lebih besar. Menggunakan motor listrik Permanent Magnet Synchronous Motor (PMSM), Atto 3 menghasilkan tenaga sebesar 201 hp dan torsi maksimum 310 Nm. Kombinasi ini membuat akselerasi kendaraan terasa lebih cepat dan kuat.

Di sisi lain, Neta V dilengkapi dengan motor listrik yang memiliki daya 95 PS (setara 70 kW) dan torsi sebesar 150 Nm. Meskipun tenaganya lebih rendah dibandingkan Atto 3, Neta V tetap memberikan kinerja yang cukup memadai untuk kebutuhan harian di perkotaan.

Mengenai baterai, BYD Atto 3 dilengkapi dengan baterai berkapasitas 60,48 kWh, sementara Neta V memiliki baterai sebesar 40,7 kWh. Kapasitas baterai yang lebih besar pada Atto 3 didukung pula oleh efisiensi penggunaan listrik yang lebih baik.

Salah satu perbedaan yang sangat jelas antara kedua mobil tersebut adalah harganya. Neta V ditawarkan sebagai mobil listrik yang lebih terjangkau, dengan kisaran harga sekitar Rp300 jutaan. Harga yang murah ini menjadikannya pilihan menarik bagi para pengguna yang ingin beralih ke kendaraan listrik tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar.

Di sisi lain, BYD Atto 3 berada dalam kisaran harga yang lebih mahal, dengan harga dimulai dari Rp470 juta hingga melebihi Rp500 juta. Dengan harga tersebut, Atto 3 menawarkan fitur yang lebih lengkap, kinerja yang lebih kuat, serta tampilan yang lebih canggih.

Desain dan Fitur

BYD Atto 3 terkenal dengan tampilan yang modern dan kabin yang dilengkapi berbagai fitur canggih. Layar pusat kendaraan yang bisa diputar merupakan salah satu keunggulan utamanya. Selain itu, bahan interior yang digunakan terasa mewah, menciptakan sensasi berkendara yang menyenangkan.

Neta V, meskipun memiliki tampilan yang sederhana, tetap menarik perhatian. Fitur-fitur yang tersedia cukup praktis untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, beberapa kelemahan seperti jarak tanah yang rendah (130 mm) dan kemudi yang tidak bisa disesuaikan tingginya menjadi pertimbangan bagi calon pengguna.

Pada akhirnya, keputusan antara Neta V dan BYD Atto 3 tergantung pada kebutuhan serta anggaran pengguna.

Neta V cocok untuk mereka yang menginginkan kendaraan listrik dengan harga terjangkau, hemat energi, dan mudah digunakan dalam penggunaan perkotaan.

Sementara itu, BYD Atto 3 cocok untuk pengguna yang mencari kendaraan listrik dengan daya yang lebih kuat, fitur yang lebih lengkap, dan tampilan yang modern, serta memiliki anggaran yang lebih besar.

Berkat kehadiran kedua mobil tersebut, pasar mobil listrik di Indonesia semakin berkembang, menawarkan beragam pilihan kepada masyarakat yang ingin berperan dalam menjaga lingkungan yang lebih bersih.

Mobil Listrik Wuling Bingo S Dijual Rp100 Jutaan dengan Jarak 430 Km!

Mobil Listrik Wuling Bingo S Dijual Rp100 Jutaan dengan Jarak 430 Km!

Lintaskriminal.co.id –– Industri otomotif kembali dihebohkan oleh inovasi dari Wuling. Setelah kesuksesan seri Bingo sebelumnya, kini Wuling meluncurkan versi terbaru mereka yaitu Wuling Bingo S, sebuah mobil listrik kecil dengan gaya SUV yang menggabungkan desain modern, fitur canggih, serta harga yang sangat terjangkau. Dengan harga mulai dari Rp100 jutaan dan jarak tempuh hingga 430 km, Bingo S berpeluang menjadi perubahan besar di segmen mobil listrik entry-level.

Desain yang Kini Memadukan Nuansa SUV dengan Ukuran Ringkas

Wuling Bingo S mengusung konsep desain “Flowing Light Design Aesthetic” yang menggabungkan nuansa mewah dan sporty. Bagian depan menunjukkan ciri khas mobil listrik dengan gril tertutup dan lampu LED berbentuk “sayap terbang” yang melengkung namun tetap tajam. ventilasi aerodinamis pada bumper serta intake udara berbentuk trapesium memperkuat kesan dinamis.

Dimensi Bingo S sangat cocok untuk mobilitas perkotaan: panjang 4.265 mm, lebar 1.785 mm, tinggi 1.600 mm, dan jarak antar roda 2.610 mm. Desain bodi dengan dua warna dan tiang A, B, serta C berwarna hitam menghasilkan kesan “atap yang terangkat” yang modern. Roda ganda berukuran 16 inci menambah kesan elegan pada tampilan luar kendaraan.

Empat pilihan warna eksterior yaitu Relaxed Grey, Free Blue, Leisure Purple, dan Blank White memberikan alternatif penyesuaian yang menarik bagi para konsumen muda serta keluarga perkotaan.

 

Kinerja dan Jangkauan: Bukan Hanya Sekadar Mobil Kota

Di balik penampilannya yang rapi, Bingo S memiliki kinerja yang cukup baik. Kendaraan ini didukung oleh motor listrik tunggal TZ180XS275 yang menggerakkan roda depan, menghasilkan daya maksimum 75 kW (sekitar 101 dk) dan torsi tertinggi 180 Nm. Kecepatan maksimum yang dapat dicapai adalah 150 km/jam, yang cukup memadai untuk kebutuhan sehari-hari dan perjalanan antarkota.

Yang paling menarik perhatian adalah penggunaan baterai lithium iron phosphate (LFP) yang tersedia dalam dua ukuran kapasitas:

Kapasitas Baterai Jarak Tempuh (CLTC) Waktu Pengisian DC (30–80%)
31,9 kWh 325 km ± 35 menit
41,9 kWh 430 km ± 35 menit

 

Dengan jangkauan hingga 430 km, Bingo S bukan hanya mobil kota biasa, tetapi kendaraan listrik yang mampu memenuhi kebutuhan mobilitas harian serta perjalanan jarak menengah tanpa perlu khawatir kehabisan baterai.

 

Interior Fungsional dan Fitur Digital Terkini

Masuk ke dalam kabin, Bingo S memberikan suasana yang luas dan nyaman. Kombinasi warna cokelat dan putih menciptakan kesan mewah serta bersih. Desain interior dirancang untuk memberikan kenyamanan maksimal, dengan 25 slot penyimpanan yang tersebar di seluruh kabin.

Fitur digital yang tersemat pun tidak kalah menarik:

  • Panel instrumen layar datar 8,8 inci

  • Unit head layar sentuh 12,8 inci

  • Ventilasi AC horizontal memanjang

  • Kemudi tiga garis dua warna

  • Pengisian daya nirkabel

  • Asisten suara berbasis AI

  • Keyless entry dan start

Kombinasi fitur ini membuat Bingo S menjadi mobil listrik yang terjangkau namun tetap berkualitas. Pengalaman berkendara terasa canggih dan nyaman, sebanding dengan mobil listrik di kelas harga dua kali lipat.

 

Harga yang Kompetitif, Siap Menghadapi BYD Dolphin dan Neta V

Wuling Bingo S dijual dengan harga pre-sale mulai dari 68.800 yuan atau sekitar Rp155 juta. Meskipun belum mencapai angka Rp100 juta secara resmi, harganya tetap membuatnya menjadi salah satu mobil listrik paling murah dengan jangkauan di atas 400 km.

Jika suatu saat masuk ke pasar Indonesia dengan skema insentif dan produksi lokal, tidak menutup kemungkinan harga Bingo S bisa turun hingga Rp100–120 jutaan, menjadikannya saingan berat bagi BYD Dolphin, Neta V, serta mobil konvensional di kelas LCGC.

 

Peluang Pasar Indonesia: Kesempatan yang Tepat?

Pasar kendaraan listrik di Indonesia sedang berkembang pesat, didorong oleh insentif pemerintah serta meningkatnya kesadaran masyarakat akan mobil yang ramah lingkungan. Namun, hambatan utama masih berada pada harga dan pengembangan infrastruktur pengisian baterai.

Wuling Bingo S menghadapi tantangan tersebut dengan harga yang terjangkau, fitur yang lengkap, serta jarak tempuh yang kompetitif. Jika Wuling Indonesia mampu menyediakan layanan purna jual yang memadai dan edukasi konsumen yang baik, mobil ini berpotensi menjadi awal perubahan dalam adopsi kendaraan listrik di segmen menengah ke bawah.

Mobil Listrik Terjangkau yang Serius

Wuling Bingo S bukan hanya mobil listrik yang terjangkau. Ia menjadi simbol perubahan mobilitas perkotaan yang efisien, modis, dan menyeluruh. Dengan tampilan SUV mini, fitur digital terkini, serta jangkauan hingga 430 km, Bingo S memberikan nilai yang sulit dikalahkan dalam kelasnya.

Harga Murah, Permintaan Mobil Listrik Bekas Naik, Ini Tipe yang Paling Diminati

Harga Murah, Permintaan Mobil Listrik Bekas Naik, Ini Tipe yang Paling Diminati

10drama.com –– Permintaan terhadap kendaraan listrik bekas di pasar otomotif, khususnya di Jakarta, mengalami peningkatan.

Sebuah dealer mobil bekas bernama Jordy Mobil di MGK Kemayoran mengatakan bahwa penjualan mobil listrik bekas semakin meningkat, didorong oleh penurunan harga yang signifikan.

“Permintaan mobil listrik bekas semakin meningkat. Bahkan, BYD M6 saja laku dalam waktu kurang dari seminggu, terjual seharga Rp 325 juta,” kata Andy dari Jordy Mobil kepada 10drama.com, Kamis (21/8/2025).

Selain BYD M6, model lain yang populer adalah Wuling Air EV.

Menurut Andy, harga mobil listrik mini berbeda-beda tergantung pada tahun pembuatannya.

“Temanku kemarin menjual mobil Air EV Long Range dengan harga sekitar Rp 100 jutaan. Untuk versi tahun 2022 biasanya dijual sekitar Rp 125 jutaan,” tambahnya.

Meskipun permintaan tinggi, penjualan mobil listrik bekas tetap menghadapi berbagai tantangan, terutama karena adanyaperang hargadi pasar mobil listrik terbaru.

Ini memaksa para penjual mobil bekas untuk segera menjual unit yang dimiliki agar tidak mengalami kerugian.

“Jika dia (pedagang) sudah lama memegang mobil, lalu ada diskon besar-besaran dari mobil baru, maka pasti sulit untuk terjual. Intinya, menjual mobil listrik bekas sekarang tidak boleh disimpan terlalu lama,” kata

Namun, ia mengakui bahwa ketika pembeli aktif mencari, unit mobil listrik bekas bisa laku dengan sangat cepat.

“Kondisinya tidak terlalu buruk, tetapi ketika ada yang mencari, pasti cepat sekali laku. Karena mungkin harganya tidak jauh berbeda (dengan mobil bensin),” katanya.

Andy menuturkan, temannya baru-baru ini berhasil menjual mobil Hyundai Ioniq 5 dengan harga sekitar Rp 425 juta.

Beberapa mobil listrik bekas masih memiliki masa garansi dari pabrikan, tergantung pada usia dan keadaan kendaraan tersebut.

Mengenai keuntungan, Andy mengatakan kondisinya bergantung pada persediaan yang dimiliki.

“Jika posisi kita tidak memiliki (stok mobil listrik bekas), lalu kita mencari dan menjualnya kembali, itu bisa menguntungkan. Namun bagi mereka yang sudah menyimpan stok selama berbulan-bulan, pasti merugi. Jadi ada keuntungan dan kerugiannya,” katanya.

Saat ini, Andy mengatakan bahwa showroom-nya sedang mengalami kekurangan persediaan, khususnya untuk model BYD M6 dan Wuling Air EV yang saat ini banyak diminati.

“Orang tidak ingin menjual karena mungkin dianggap terlalu murah, jadi lebih baik digunakan saja,” tutupnya.

Copyright © 2026 10drama.com