9 Makanan Sehat untuk Kesehatan Liver

9 Makanan Sehat untuk Kesehatan Liver

10drama.com, Jakarta – Hati atau liver merupakan organ yang sangat penting dan menjalankan berbagai tugas krusial dalam tubuh, mulai dari mencerna makanan, menyimpan cadangan energi, menghasilkan protein, hingga membersihkan racun dan bahan berbahaya dari darah. Karena perannya yang begitu besar, menjaga kesehatan hati menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat secara keseluruhan.

Salah satu metode yang efisien dalam membantu fungsi hati adalah dengan mengindahkan jenismakananyang dikonsumsi setiap hari. Beberapa jenis makanan tertentu telah terbukti secara ilmiah mengandung nutrisi yang membantu menjaga kesehatan organ hati. Beberapa di antaranya dapat mengurangi peradangan, menghindari penumpukan lemak berlebih, serta memperbaiki kadar enzim hati yang tidak normal.

Dilansir dari Healthline dan Medical News Today, berikut 11 jenis makanan yang telah diteliti manfaatnya untuk menjaga kesehatan hati:

1. Kopi

Kopi bukan hanya menjadi minuman yang biasa dikonsumsi di pagi hari, tetapi juga dikenal memiliki manfaat penting bagi kesehatan organ hati. Beberapa penelitian menemukan bahwa mengonsumsi kopi secara teratur, khususnya tiga cangkir atau lebih setiap hari, berkaitan dengan penurunan risiko penyakit sirosis (kerusakan hati yang bersifat permanen), kanker hati, serta kematian akibat gangguan hati kronis.

Kandungan antioksidan dalam kopi, seperti polifenol dan senyawa yang berperan dalam produksi glutathione, diyakini dapat membantu mengurangi penumpukan lemak dan kolagen di hati. Kedua zat tersebut menjadi tanda utama kerusakan organ tersebut. Oleh karena itu, bagi orang yang tidak memiliki keterbatasan terhadap kafein, kopi bisa menjadi bagian dari pola makan yang mendukung kesehatan hati.

2. Teh Hijau

Teh hijau telah lama dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan, termasuk dalam mendukung fungsi organ hati. Dalam beberapa penelitian, teh hijau terbukti mampu menurunkan tingkat enzim hati seperti ALT dan AST pada penderita penyakit hati lemak non-alkohol (NAFLD). Selain itu, mengonsumsi teh hijau secara teratur juga dikaitkan dengan pengurangan risiko kanker hati.

Namun, penting untuk membedakan antara minum teh hijau sebagai minuman biasa dengan mengonsumsi ekstrak teh hijau dalam bentuk suplemen. Beberapa kasus kerusakan hati justru terjadi karena penggunaan ekstrak teh hijau dengan dosis tinggi. Oleh karena itu, disarankan untuk memilih teh hijau dalam bentuk alami dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum mengonsumsi suplemen berbasis tanaman ini.

3. Jeruk Bali (Grapefruit)

Jeruk Bali mengandung dua jenis antioksidan utama, yakni naringenin dan naringin. Kedua senyawa ini mampu menurunkan peradangan serta menjaga sel hati dari kerusakan. Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa mengonsumsi senyawa tersebut dapat memperlambat perkembangan penyakit fibrosis hati, yaitu kondisi di mana jaringan ikat berlebih menggantikan jaringan hati sehat akibat peradangan yang terus-menerus.

Meskipun sebagian besar penelitian masih dilakukan pada hewan, bukti awal menunjukkan bahwa jeruk bali memiliki kemungkinan memberikan perlindungan terhadap fungsi hati, asalkan dikonsumsi dalam jumlah yang wajar dan tidak bertentangan dengan pengobatan tertentu (karena buah ini bisa bereaksi dengan beberapa jenis obat).

4. Blueberry dan Cranberry

Kedua jenis buah beri ini mengandung antosianin, yaitu senyawa antioksidan yang memberikan warna biru dan merah gelap pada buah tersebut. Selain berfungsi sebagai antioksidan, antosianin juga menunjukkan kemampuan anti-peradangan dan anti-kanker.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa suplemen cranberry selama enam bulan mampu meningkatkan kondisi hati yang mengalami penumpukan lemak. Di samping itu, percobaan di laboratorium menemukan bahwa ekstrak blueberry bisa menghambat perkembangan sel kanker hati. Meskipun masih terbatasnya penelitian pada manusia, mengonsumsi blueberry dan cranberry secara teratur dapat membantu memenuhi kebutuhan antioksidan yang diperlukan untuk menjaga kesehatan hati.

5. Anggur Merah dan Ungu

Anggur, khususnya jenis merah dan ungu, mengandung bahan aktif seperti resveratrol yang dianggap mampu melindungi organ hati. Studi pada hewan menunjukkan bahwa mengonsumsi anggur atau jus anggur bisa mengurangi peradangan, menghambat kerusakan sel, serta meningkatkan tingkat antioksidan dalam tubuh.

Meskipun bukti pada manusia masih beragam, mengonsumsi anggur sebagai bagian dari pola makan seimbang tetap dianggap sebagai pilihan yang baik. Namun penggunaan ekstrak biji anggur dalam bentuk suplemen belum disarankan secara umum karena bukti klinis yang tersedia masih terbatas.

6. Sayuran Cruciferous

Sayuran seperti brokoli, kembang kol, kubis, kale, dan brussels sprouts termasuk dalam kategori cruciferous yang kaya akan serat dan senyawa sulfur. Sayuran ini dipercaya mampu memicu enzim detoksifikasi dalam hati serta menurunkan potensi peradangan.

Dalam penelitian terhadap tikus, mengonsumsi brokoli secara teratur berperan dalam menghambat pertumbuhan kanker dan penyakit hati lemak. Meskipun data pada manusia masih terbatas, mengkonsumsi lebih banyak jenis sayuran ini direkomendasikan dalam pola makan sehari-hari.

7. Kacang-Kacangan

Biji-bijian seperti almond, kacang walnut, dan pistachio mengandung lemak baik, vitamin E, serta zat antioksidan. Zat-zat ini berperan dalam menurunkan stres oksidatif dan peradangan pada organ hati. Penelitian menemukan bahwa pola makan yang kaya akan biji-bijian berkaitan dengan penurunan kemungkinan terkena penyakit hati lemak.

Sebagai camilan bergizi atau pelengkap pada salad dan sereal, kacang-kacangan dapat menjadi pilihan yang baik untuk kesehatan jantung, selama dikonsumsi secukupnya.

8. Ikan Berlemak

Salmon, mackerel, sarden, dan tuna merupakan contoh ikan berlemak yang mengandung omega-3, yaitu jenis lemak tak jenuh yang bermanfaat dalam mengurangi peradangan. Omega-3 juga dikenal dapat membantu menurunkan kadar trigliserida dan lemak hati pada penderita NAFLD.

Namun, agar keseimbangan asupan lemak tetap terjaga, sebaiknya mengonsumsi omega-3 sambil mengurangi konsumsi omega-6 yang berlebihan dari minyak nabati, karena perbandingan keduanya sangat berpengaruh terhadap kesehatan hati.

9. Minyak Zaitun

Minyak zaitunkaya akan lemak tak jenuh tunggal yang bermanfaat bagi proses metabolisme. Beberapa studi menunjukkan bahwa mengonsumsi minyak zaitun secara rutin berkaitan dengan penurunan kadar lemak pada hati dan perbaikan profil enzim hati. Dengan memasukkan minyak zaitun sebagai pengganti minyak goreng biasa atau mentega, Anda tidak hanya membantu menjaga kesehatan jantung tetapi juga kesehatan organ hati.

5 Tips Kesehatan Liver yang Penting

5 Tips Kesehatan Liver yang Penting

10drama.com – Liveratau jantung merupakan salah satu organ terbesar dan paling rumit dalam tubuh manusia yang melaksanakan berbagai fungsi krusial untuk mendukung kelangsungan hidup. Dengan beban kerja yang begitu besar, menjaga fungsi jantung tetap optimal sangat penting agar seluruh sistem tubuh dapat beroperasi dengan baik.

Kerusakan pada hatiseperti yang terjadi pada penyakit hati seperti sirosis atau penyakit hati berlemak nonalkoholik (NAFLD), dapat mengganggu fungsi penting organ ini dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan yang serius. Oleh karena itu, penting untuk mulai menerapkan kebiasaan sehari-hari yang bisa membantu menjaga kesehatan hati.

Dilansir dari Hopkins Medicine dan WebMD, berikut lima cara yang bisa dilakukan untuk menjaga dan merawat organ hati:

1. Mengurangi Konsumsi Alkohol

Konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan kerusakan pada organ hati. Meskipun banyak orang mengira hanya mereka yang memiliki kebiasaan minum berat yang berisiko menderita sirosis, kenyataannya konsumsi alkohol dalam jumlah sedang pun, jika dilakukan secara teratur, bisa menyebabkan kerusakan jangka panjang.

Alkohol merusak sel-sel hati dan menyebabkan peradangan serta terbentuknya jaringan parut. Mengurangi konsumsi alkohol atau berhenti sama sekali adalah langkah penting untuk menjaga struktur dan fungsi hati tetap baik.

2. Menghindari Pemaparan Bahan Beracun dan Zat Kimia

Banyak produk rumah tangga, insektisida, serta bahan kimia lainnya mengandung zat racun yang dapat memberatkan dan merusak kinerja hati jika digunakan dalam jangka waktu lama. Paparan zat-zat ini bisa terjadi melalui makanan yang tercemar atau melalui kontak langsung dengan kulit dan saluran pernapasan.

Oleh karena itu, penting untuk mencuci buah dan sayuran sebelum dimakan, menyimpan bahan kimia dengan benar, serta selalu memperhatikan label peringatan pada produk pembersih atau pestisida. Mengurangi paparan racun dari luar dapat membantu mengurangi beban kerja hati.

3. Menghindari Penyebaran Virus Hepatitis

Infeksi virus hepatitis, terutama hepatitis A, B, dan C, dapat memicu peradangan akut atau kronis pada organ hati, yang dalam jangka panjang berpotensi berkembang menjadi sirosis atau kanker hati.

Pencegahan bisa dilakukan melalui berbagai metode berikut ini:

  • Vaksinasi: Saat ini tersedia vaksin untuk hepatitis A dan B, serta sangat disarankan bagi orang yang belum pernah menerima vaksin.
  • Perilaku seksual yang benar: Virus hepatitis B dan C bisa menyebar melalui darah serta cairan tubuh, sehingga tindakan hubungan seks yang aman dapat membantu menurunkan kemungkinan penularan.
  • Kebersihan diri: Hepatitis A sering menyebar melalui makanan atau air yang tercemar. Mencuci tangan secara teratur, khususnya sebelum menyantap makanan atau setelah pergi ke kamar mandi, adalah cara yang baik untuk mencegah penularannya.

4. Bijak dalam Menggunakan Obat dan Suplemen

Banyak orang mengonsumsi obat tanpa resep dan suplemen tanpa memikirkan dampaknya terhadap organ hati. Padahal, hati berperan dalam mencerna sebagian besar obat yang masuk ke tubuh. Penggunaan berlebihan, campuran yang tidak tepat, atau pengambilan suplemen herbal tertentu bisa menyebabkan kerusakan hati mendadak.

Sangat penting untuk selalu mematuhi petunjuk penggunaan obat, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum mengonsumsi suplemen, serta menghindari penggunaan produk yang tidak jelas keamanannya. Memeriksa bahan dan efek samping suatu produk dapat membantu mencegah kerusakan hati akibat zat-zat yang bersifat hepatotoksik.

5. Memelihara Kebiasaan Makanan yang Sehat dan Aktivitas Harian yang Dinamis

Gaya hidup yang tidak sehat, khususnya yang menyebabkan obesitas, menjadi penyebab utama munculnya penyakit hati berlemak nonalkoholik. Mengonsumsi makanan yang kaya lemak jenuh, gula berlebih, dan rendah serat dapat meningkatkan kemungkinan penumpukan lemak di dalam hati.

Untuk menghindarinya, penting untuk melakukan hal-hal berikut:

  • Mengonsumsi makanan yang seimbang, termasuk buah-buahan, sayuran, biji-bijian utuh, protein rendah lemak, serta lemak baik seperti yang berasal dari ikan atau kacang-kacangan.
  • Melakukan kegiatan fisik secara rutin, seperti berjalan kaki, bersepeda, atau berolahraga ringan minimal 30 menit setiap hari.
  • Menghindari makanan olahandan minuman manis, yang mampu memicu penumpukan lemak di hati serta peradangan.
Copyright © 2026 10drama.com