HP AI Terjangkau: Laptop dan Desktop NPU HP yang Mengguncang Pasar AI Indonesia

HP AI Terjangkau: Laptop dan Desktop NPU HP yang Mengguncang Pasar AI Indonesia

HP OmniBook Ultra dan HP OmniStudio X27

10drama.com –HP kini menghadirkan teknologi AI ke pasar entry-level melalui dua produk andalan: HP OmniBook Ultra dan HP OmniStudio X27.

Kedua perangkat dilengkapi dengan Unit Pemrosesan Neural (NPU) yang memungkinkan pelaksanaan kecerdasan buatan secara lokal—tanpa bergantung pada layanan awan.

Harga mulai dari Rp28 jutaan untuk laptop AI dan Rp21 jutaan untuk AIO, HP memberikan pengalaman AI berkualitas tanpa perlu mengeluarkan dana besar.

HP OmniBook Ultra 14″ – Laptop AI Generasi Berikutnya dengan NPU yang Efisien

Chipset: AMD Ryzen AI (Ryzen AI 9 365 atau HX 375), dilengkapi NPU hingga 55 TOPS untuk mempercepat pengolahan AI yang nyaris setara dengan laptop premium.

Layar: 14 inci resolusi 2.2K IPS dengan rasio 16:10, layar sentuh, hingga 100% cakupan warna sRGB.

RAM & Penyimpanan: Maksimal 32 GB LPDDR5x dan SSD Gen4 NVMe hingga 2 TB.

Fitur Produktivitas: Kamera AI 9 MP menggunakan Poly Camera Pro, tombol Copilot khusus, pengisian cepat HP, serta daya tahan baterai hingga 21 jam.

Harga: Dimulai dari Rp27.999.000 di Indonesia.

Pengalaman nyata yang diberikan oleh pengguna Reddit menjelaskan:

“Perdagangan kesepakatan sekitar USD 900–999 dengan RAM 32 GB, Ryzen AI 9, Thunderbolt 4—oleh karena itu HP OmniBook Ultra menjadi laptop AI yang sangat kompetitif.” (windowscentral.com)

HP OmniStudio X27 – Komputer Meja AIO AI dengan NPU Lokal dan Layar 4K

Prosesor NPU: Intel Core Ultra 7 (varian 256V/258V) yang dilengkapi NPU hingga 47–48 TOPS, siap mendukung penggunaan AI lokal seperti video auto framing, penghapusan suara bising, dan Copilot Plus.

Layar dan Suara: Layar IPS 27 inci 4K UHD (350–550 nits), sertifikat IMAX Enhanced, pengaturan suara Poly Studio.

Memori dan Penyimpanan: RAM hingga 32 GB, SSD PCIe Generasi 4 hingga 2 TB.

Fitur Kecerdasan Buatan dan Privasi: Kamera webcam AI 5 MP yang bisa muncul, sensor kehadiran (Presence), pengingat kesehatan digital (waktu layar).

Harga dan Ketersediaan: Dimulai dari Rp21.499.000 di HP.com Indonesia.

Jagat Review menyebutnya:

Langsung kencang, RAM 32 GB, SSD 2 TB, Intel Core Ultra, mampu menjalankan AI secara lokal tanpa koneksi internet.

Ringkasan Perbandingan: HP AI Terjangkau yang Menarik untuk Dipertimbangkan

Produk NPU TOPS Bentuk Faktor RAM / Penyimpanan Harga Mulai (IDR) Keunggulan Utama

OmniBook Ultra 14 inci dengan berat ringan 14 inci, 32 GB / 2 TB seharga Rp27.999.000, portabel, tombol Copilot, dan daya tahan baterai yang lama

OmniStudio X27 AIO hingga 48 Desktop All-in-One 32 GB / 2 TB Rp21.499.000 Komputer all-in-one dengan AI, layar besar 4K, kamera webcam yang cerdas dan bisa muncul otomatis

Siapa Tujuan Produk Ini?

Sesuai untuk pengguna yang ingin:

Penghasil konten, pekerja lepas, dan siswa yang membutuhkan fitur AI seperti pengeditan otomatis, framing zoom, serta transkripsi suara langsung di perangkat.

Pengguna yang memerlukan kinerja yang menggabungkan efisiensi daya dan kecerdasan buatan lokal tanpa memerlukan koneksi internet.

Pembeli yang tertarik mencoba teknologi Copilot Plus dan HP AI Companion namun tetap memperhatikan anggaran yang terjangkau.

✅ Kesimpulan

HP berhasil menyediakan akses ke AI tanpa perlu mengeluarkan uang banyak.

OmniBook Ultra 14″ dan OmniStudio X27 adalah opsi AI-PC dengan NPU lokal yang tangguh—menghadirkan fitur yang biasanya hanya tersedia di seri flagship ke pasar yang lebih luas.

Harga mulai dari Rp21 hingga 28 jutaan, HP AI terjangkau ini layak dipertimbangkan oleh siapa saja yang membutuhkan produktivitas AI yang cerdas dengan anggaran yang wajar.***

Mengapa Musk dan CEO Nvidia Pilih Fisika Daripada Coding di Era AI

Mengapa Musk dan CEO Nvidia Pilih Fisika Daripada Coding di Era AI

Elon Musk, CEO Tesla dan CEONvidia Jensen Huangmemilih mempelajari ilmu fisika dibandingkan membuat kode komputer atau coding di tengah perkembangan AI. Apa alasannya?

Pemilik Tesla dan SpaceX, Elon Musk, telah lama mengadvokasi ilmu fisika sebagai dasar dari semua penyelesaian masalah yang penting.

“Fisika dan Matematika,” ujar Elon Musk merespons unggahan CEO Telegram Pavel Durov di X, yang mengajak siswa untuk menguasai matematika, dilaporkan oleh MoneyControl, Sabtu (25/7).

Elon Musk secara terus-menerus menyatakan bahwa memahami prinsip-prinsip dasar, kebenaran mendasar yang berasal dari fisika, merupakan kunci dalam menciptakan inovasi yang dapat diukur.

Dukungan Elon Musk terhadap ilmu fisika sejalan dengan proyek-proyek yang ia jalankan dalam dunia nyata. Mulai dari roket hingga kendaraan otonom, tantangan yang ia hadapi memerlukan pemahaman fisika yang jauh melebihi logika perangkat lunak.

Seperti juga dengan CEO Nvidia, Jensen Huang. Ketika ditanya oleh jurnalis tentang jurusan apa yang akan dia pilih, jika saat ini masih berusia 20 tahun.

“Untuk Jensen Huang yang masih muda, berusia 20 tahun, yang saat ini lulus, dia mungkin akan memilih ilmu fisika daripada perangkat lunak atau software,” kata CEO Nvidia saat melakukan perjalanan ke Beijing, Tiongkok, dilaporkan oleh The Economic Times, Selasa (22/7).

Jensen Huang lulus kuliah saat berusia 20 tahun. Pemilik perusahaan termahal di dunia ini meraih gelar sarjana teknik elektro dari Oregon State University pada tahun 1984 dan gelar magister dari Stanford University pada 1992, seperti tercantum dalam profil LinkedIn-nya.

Ia membangun Nvidia bersama rekannya, Chris Malachowsky dan Curtis Priem, pada April 1993, saat sedang makan malam di restoran Denny’s di San Jose, California. Saat ini, Nvidia menjadi perusahaan pertama di dunia yang mencapai nilai pasar sebesar 4 triliun dolar AS.

Jensen Huang pernah menyampaikan bahwa, dalam satu setengah dekade terakhir, dunia telah melewati berbagai tahap perkembangan kecerdasan buatan. “AI modern benar-benar muncul sekitar 12 hingga 14 tahun lalu, ketika munculnya AlexNet yang membawa terobosan besar dalam bidang visi komputer,” kata CEO Nvidia dalam forum The Hill & Valley di Washington DC, Amerika Serikat, pada bulan April, seperti dilansir oleh CNBC Internasional.

AlexNet merupakan model komputer yang diperkenalkan dalam kompetisi pada tahun 2012, yang membuktikan kemampuan mesin dalam mengidentifikasi gambar melalui pembelajaran mesin atau machine learning. Perkembangan ini memicu munculnya tren AI masa kini.

“Generasi pertama dikenal sebagai ‘AI Persepsi’,” ujar Jensen Huang. Masa kedua yaitu AI generatif seperti ChatGPT, yang belajar memahami makna data dan menerjemahkannya ke dalam berbagai bentuk seperti bahasa, gambar, kode, dan lainnya.

“Kita kini berada di masa yang dikenal sebagai ‘AI Penalaran’ di mana terdapat AI yang mampu memahami, menghasilkan, dan menyelesaikan masalah, serta mengenali situasi yang belum pernah kita temui sebelumnya,” katanya. AI pada bentuk saat ini dapat menyelesaikan permasalahan dengan menggunakan kemampuan penalaran.

“AI penalaran memungkinkan kita menciptakan bentuk robot digital. Kami menyebutnya Agen AI,” tambah Huang. Agen AI ini pada dasarnya merupakan robot tenaga kerja digital yang mampu berpikir secara logis.

Saat ini, agen AI menjadi perhatian utama berbagai perusahaan teknologi, seperti Microsoft dan Salesforce.

Jensen Huang memprediksi gelombang berikutnya yaitu AI fisik. “Gelombang berikutnya memerlukan pemahaman tentang hal-hal seperti hukum fisika, gesekan, inersia, serta sebab dan akibat,” ujar Jensen Huang.

Kemampuan berpikir fisik, seperti konsep kekekalan benda, atau fakta bahwa benda tetap ada meskipun tidak terlihat, akan menjadi hal yang penting dalam tahap kecerdasan buatan berikutnya, katanya.

Penerapan pemikiran fisika mencakup memperkirakan hasil, seperti di mana bola akan meluncur, memahami seberapa besar gaya yang diperlukan untuk menggenggam suatu benda tanpa merusaknya, serta menyimpulkan keberadaan pejalan kaki di belakang kendaraan.

Dan ketika Anda mengambil AI fisik tersebut lalu memasukkannya ke dalam objek nyata yang disebut robot, maka Anda mendapatkan robotika,” tambah Huang. “Ini sangat penting bagi kami saat ini, karena kami sedang membangun pabrik di seluruh Amerika Serikat.

“Harapan kami, dalam 10 tahun ke depan, seiring kita membangun pabrik dan pabrik generasi baru ini, semuanya akan sangat otomatis dan membantu kita mengatasi krisis tenaga kerja yang parah di seluruh dunia,” kata Huang.

Saran yang diberikan oleh Jensen Huang dan Elon Musk mencerminkan perubahan dalam pola pikir yang lebih luas. Meskipun pemrograman tetap menjadi keterampilan yang penting, para pemimpin ini menyarankan kembali kepada dasar ilmiah yang mendorong inovasi di dunia nyata.

Teknologi AI dan robotika dianggap sebagai masa depan kerja sama antara manusia dan mesin, serta keberhasilan dalam bidang ini lebih didasarkan pada pemahaman tentang cara berfungsinya dunia, bukan hanya pada kemampuan pemrograman.

Copyright © 2026 10drama.com