Pemerintah Dapat Bunga 4,02% dari Dana Rp 200 Triliun di 5 Bank

Pemerintah Dapat Bunga 4,02% dari Dana Rp 200 Triliun di 5 Bank

JAKARTA, 10drama.com– Pemerintah menyalurkan dana sebesar Rp 200 triliun kepada lima bank nasional. – Pemerintah mengalokasikan dana senilai Rp 200 triliun ke lima bank domestik. – Pemerintah memberikan dana sebesar Rp 200 triliun kepada lima bank nasional. – Dana sejumlah Rp 200 triliun disalurkan pemerintah ke lima bank nasional. – Pemerintah menempatkan dana sebesar Rp 200 triliun di lima bank nasional.

Kemudian, berapa tingkat bunga atau keuntungan yang akan diperoleh pemerintah dari penempatan dana tersebut?

Merujuk pada Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 276 Tahun 2025, dana tersebut disimpan dalam bentuk deposito on call konvensional dan syariah dengan sistem tanpa lelang.

Selanjutnya, masa peminjaman dana ditetapkan selama enam bulan dan dapat diperpanjang apabila diperlukan.

Dalam kebijakan tersebut juga dijelaskan, negara akan memperoleh hasil kembalian sebesar 80,476 persen dari tingkat BI yang berlaku.

Sementara itu, pada tanggal 20 Agustus 2025, suku bunga BI yang berlaku sebesar 5 persen, sehingga pemerintah akan memperoleh imbal hasil sekitar 4,02 persen dari penempatan dana di lembaga perbankan tersebut.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, melalui skema ini, perbankan tidak memiliki pilihan selain harus mendistribusikan dana tersebut dalam bentuk kredit atau pembiayaan kepada masyarakat.

“Jika dia tidak menggunakannya, dia akan merugi sendiri karena ada biaya sekitar 4 persen. Jika dia tidak menyalurkan kredit, dia harus membayar biaya tersebut. Mereka pasti akan berpikir keras untuk menyalurkan dana itu,” katanya dalam konferensi pers di Gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (12/9/2025).

Purbaya memastikan bahwa jumlah bunga tersebut tidak akan merugikan negara maupun sektor perbankan.

Karena, jumlah bunga yang akan diperoleh pemerintah dari perbankan masih lebih rendah dibandingkan rata-rata bunga tabungan di perbankan yang pada Juli 2025 mencapai 6,07 persen.

Kemudian, jika perbankan mendistribusikan dana tersebut melalui kredit, bunga yang diperoleh perbankan tetap lebih tinggi dibandingkan bunga yang harus dibayarkan kepada pemerintah, yaitu sebesar 9,16 persen pada Juli 2025.

“Ini serupa dengan bunga yang kita peroleh jika menempatkan dana di BI. Jadi pemerintah tidak mengalami kerugian, sementara perbankan mendapatkan keuntungan karena tingkatnya lebih rendah dibanding bunga pasar,” katanya.

 

Selain itu, perbankan juga tidak perlu khawatir pemerintah akan mengambil dana tersebut secara mendadak jika membutuhkannya untuk belanja negara.

Karena, menurut Purbaya, uang yang ada di kas negara masih cukup untuk menutupi kebutuhan negara.

“Tidak akan terjadi seperti itu (tiba-tiba mengambil seluruh dana dari bank). Kita akan mengelolanya dengan baik agar tidak ada kejutan dalam sistem perbankan kita,” katanya.

Selain itu, pemerintah menyalurkan dana tersebut dengan rincian masing-masing sebesar Rp 55 triliun untuk Bank Mandiri, BRI, dan BNI. Sementara itu, BTN mendapat Rp 25 triliun dan BSI menerima Rp 10 triliun.

Pembelian Korporasi Meningkat, Harga Bitcoin Tembus Rp2 Miliar

Pembelian Korporasi Meningkat, Harga Bitcoin Tembus Rp2 Miliar

Jakarta, lintaskriminal.co.id– Harga Bitcoin (BTC) pernah mencapai rekor tertinggi dalam sejarah minggu lalu, yaitu pada level 124.000 dolar Amerika Serikat (AS) atau setara dengan Rp2 miliar (kurs Rp16.162 per dolar AS).

Angka tersebut melebihi titik tertinggi harga Bitcoin pada pertengahan Juli lalu. Salah satu penyebab kenaikan harga Bitcoin adalah meningkatnya pembelian dari perusahaan-perusahaan dalam beberapa minggu terakhir.

Indodax menyoroti semakin meningkatnya jumlah perusahaan yang menerapkan strategitreasuryberbasis Bitcoin, seperti yang diperkenalkan oleh MicroStrategy Incorporated.

1. Memperkuat permintaan pasar

Wakil Presiden Indodax, Antony Kusuma menilai tindakan perusahaan ini tidak hanya memperkuat permintaan pasar, tetapi juga mengubah pandangan terhadap Bitcoin. Dari sekadar alat spekulasi, Bitcoin kini mulai ditempatkan sebagai aset cadangan jangka panjang oleh pelaku bisnis skala global.

Saat perusahaan memindahkan sebagian dana mereka ke Bitcoin, hal ini tidak hanya berdampak pada harga hari ini. Mereka menyampaikan pesan bahwa Bitcoin dapat berperan sebagai alat perlindungan terhadap kebijakan moneter dan inflasi dalam jangka panjang,” ujar Antony dilansir Senin, (18/8/2025).

2. Pemangkasan suku bunga oleh The Fed meningkatkan harga Bitcoin

Di sisi lain, pasar mengharapkan bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), akan menurunkan suku bunga dalam pertemuan pada 17 September mendatang. Hal ini didorong oleh data inflasi di Amerika Serikat pada Juli 2025 yang stabil di tingkat 2,7 persen per tahun, sedikit lebih rendah dari prediksi pasar sebesar 2,8 persen.

Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas pemangkasan kini mencapai 93,9 persen, menjadi salah satu yang terbesar sepanjang tahun ini.

Kestabilan inflasi memicu aliran dana ke aset berisiko, termasuk mata uang digital. Investor internasional menganggap bahwa kebijakan moneter yang lebih longgar akan meningkatkan likuiditas, yang berpotensi menaikkan nilai aset digital.

“Kami sedang mengamati pertemuan dua faktor utama: inflasi yang mulai terkendali di bawah harapan pasar, serta kemungkinan penurunan suku bunga yang sangat besar. Kombinasi ini membentuk situasi di mana modal global lebih berani berpindah ke aset berisiko, termasuk kripto,” kata Antony.

3. Jangan terjebak dalam antusiasme pasar

Namun, Antony memperingatkan bahwa antusiasme pasar tidak boleh mengaburkan risiko yang terkandung dalam aset kripto.

“Pergerakan besar sering diikuti oleh penurunan tajam. Ini merupakan hukum alam dalam pasar yang berisiko tinggi. Investor yang hanya mengejar kenaikan tanpa memiliki strategi keluar sama saja dengan memasuki arena dengan mata tertutup,” katanya.

Menurut Antony, perkembangan harga Bitcoin sering kali mencerminkan suasana hati pasar secara keseluruhan.

“Pada saat ini, kita melihat tingkat optimisme yang tinggi karena The Fed diperkirakan akan mengendurkan kebijakannya. Namun, cerita pasar bisa berubah hanya karena satu data ekonomi yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Itulah alasan mengapa investor perlu menjaga disiplin dalam mengelola risikonya,” kata Antony.

Ia juga menyoroti bahwa volatilitas bukanlah hal yang perlu dihindari, melainkan faktor yang perlu dikelola. Menurutnya, strategi investasi yang baik harus mempertimbangkan diversifikasi.

“Walaupun Bitcoin sedang menjadi pusat perhatian, menempatkan seluruh dana di satu aset merupakan bentuk pengambilan risiko yang sangat besar. Investor yang cerdas akan menggabungkan aset berisiko dengan instrumen yang lebih aman untuk menjaga keseimbangan portofolio,” kata Antony.

Menurut pandangannya, masa sebelum pengumuman keputusan suku bunga The Fed akan menjadi ujian terhadap kematangan para investor.

Mereka yang mampu membedakan sinyal dari kebisingan pasar akan mampu membuat keputusan yang tepat. Yang terjebak dalam FOMO (fear of missing out) justru berisiko membeli pada saat puncak,” katanya.

6 Kesempatan Terbaik untuk Membeli Bitcoin dan Potensi di Masa Depan Indodax Angkat Bicara Mengenai Usulan Bitcoin Sebagai Aset Cadangan Negara Bitcoin Diperkirakan Mampu Naik Dua Kali Lipat Berkat Dua Indikator Ini

BBCA Dicari Keras

BBCA Dicari Keras

MANDALIKA 10drama.com – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA menjadi incaran investor asing dalam perdagangan minggu ini, yaitu 11-15 Agustus 2025. Terpantau investor asing melakukan pembelian bersih BBCA sebesar Rp 1,3 triliun dalam satu minggu terakhir.

Broker JP Morgan Sekuritas mencatatkan pembelian bersih tertinggi dari investor asing untuk BBCA dalam seminggu sebesar Rp 1,12 triliun. Selain itu, broker CLSA Sekuritas juga mencatatkan pembelian bersih BBCA dari investor asing senilai Rp 789,93 miliar.

Pada perdagangan Jumat (15/8/2025) kemarin, saham BCA turun sebesar 0,85% menjadi Rp 8.700. Namun, dalam seminggu terakhir, harga saham BBCA naik 4,82% dibandingkan Rp 8.300 dari pekan sebelumnya.

Sementara itu, Bank Central Asia (BBCA) melaporkan laba bersih sebesar Rp 14,9 triliun pada kuartal kedua tahun 2025 (+6% dibanding tahun lalu, +5% dibanding kuartal sebelumnya). Angka ini membuat total laba bersih selama semester pertama 2025 mencapai Rp 29 triliun (+8%), sesuai dengan perkiraan (50% dari estimasi laba 2025F konsensus dibandingkan dengan 49% realisasi pada semester pertama 2024).

 

Target Harga Saham

“Secara umum, kinerja di 2Q25 dan 1H25 tidak terlalu berbeda dibandingkan kinerja 1Q25, namun lebih fokus pada aspek kualitas kredit,” demikian penjelasan dalam ulasan Stockbit Sekuritas yang dikutip pada Kamis (31/7/2025).

Di sisi lain, Mandiri Sekuritas memproyeksikan laba BBCA meningkat sebesar 8% secara tahunan pada semester pertama 2025, dengan ROE tetap berada di angka 23%. Manajemen menyesuaikan perkiraan biaya kredit menjadi 0,3%–0,5% (dibandingkan 0,3% sebelumnya) untuk tahun fiskal 2025 sebagai langkah pencegahan.

“Kenaikan kredit tetap kuat seiring upaya bank dalam menciptakan komposisi aset yang lebih efisien, sementara rasio NPL dan perkembangan LAR terus menunjukkan arah yang positif meskipun adanya fluktuasi makro,” ujar Mandiri Sekuritas dalam Investor Digest, Kamis (31/7/2025). Mandiri Sekuritas tetap memberikan rekomendasi beli saham BCA (BBCA) dengan target harga Rp 11.000. ***

80 Tahun Kemerdekaan, Perbankan Menghadapi Tantangan dan Peluang

80 Tahun Kemerdekaan, Perbankan Menghadapi Tantangan dan Peluang

Lintaskriminal.co.id -.CO.ID – JAKARTA.Memasuki usia ke-80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, sektor perbankan nasional tetap menjadi komponen penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan. Di tengah berbagai tantangan ekonomi global maupun domestik, perbankan Indonesia dinilai masih memiliki ketangguhan serta peluang besar untuk berkembang secara lebih inklusif.

Pada usia kemerdekaan yang ke-80, perbankan nasional tidak hanya berperan sebagai lembaga keuangan, tetapi juga menjadi bagian dari proses transformasi bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

Kepala Penelitian Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menganggap bahwa kinerja perbankan Indonesia tetap stabil meskipun menghadapi perubahan ekonomi. Indikator-indikator keuangan menunjukkan dasar yang kuat, didukung oleh modal dan likuiditas yang terjaga dengan baik. Minat investor asing terhadap sektor ini masih tinggi, melihat potensi pasar yang besar dari jumlah penduduk dan perekonomian yang terus berkembang.

“Industri perbankan kita masih berkembang dan menarik bagi para investor. Tantangan saat ini adalah bagaimana mempertahankan daya beli masyarakat, serta dari sisi internal bank yaitu bagaimana bank dapat menjaga likuiditas dengan biaya dana yang rendah serta menjaga efisiensi operasional agar bisa bersaing, seperti yang dilakukan oleh bank-bank di negara maju,” kata Trioksa kepada Lintaskriminal.co.id, Jumat (15/8/2025).

Meskipun demikian, kesempatan bagi sektor perbankan Indonesia tetap terbuka lebar. Bank diharuskan semakin inklusif, melayani berbagai kalangan masyarakat, serta menjadi mitra kepercayaan dalam pengelolaan keuangan. Selain itu, bank diharapkan mampu menjalankan peran sebagai agen pembangunan dengan memperluas penyaluran kredit hingga ke daerah terpencil.

“Ketika bank mampu mencapai seluruh lapisan masyarakat serta mendukung perkembangan ekonomi hingga ke daerah terpencil, maka itulah peran nyata perbankan dalam mewujudkan keadilan sosial dan ekonomi sesuai dengan cita-cita kemerdekaan,” tambah Trioksa.

Di sisi lain, pandangan berbeda datang dari kalangan analis pasar modal. Achmad Yaki, kepala Online Trading BCA Sekuritas, menyoroti bahwa dalam 1–2 tahun terakhir, kinerja sektor perbankan mulai menunjukkan penurunan.

“Penyaluran kredit mengalami perlambatan, kredit yang tidak digunakan meningkat, serta tren penyisihan kredit juga meningkat. Di sisi lain, masyarakat mulai mencairkan tabungannya di tengah menurunnya daya beli,” kata Yaki.

Dari segi investasi, saham perbankan khususnya bank besar yang termasuk dalam Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) IV masih dianggap menarik untuk jangka panjang, meskipun performanya saat ini cenderung stagnan.

“Bank besar masih menunjukkan performa yang baik dalam jangka panjang, khususnya BBCA yang kinerjanya paling stabil. Sementara bank-bank besar lain seperti -I, BBNI, dan BBRI terlihat stagnan hingga mengalami penurunan. Bank digital justru menunjukkan pertumbuhan yang lebih positif pada semester pertama tahun 2025,” tambahnya.

Saat ini, Yaki menyarankan untuk mempertimbangkan hold dan akumulasi pembelian terhadap saham bank KBMI IV, serta menjual pada saat harga naik untuk saham bank digital yang telah mengalami kenaikan.

Penempatan Dana Bank di Surat Berharga Masih Tinggi

Penempatan Dana Bank di Surat Berharga Masih Tinggi

Lintaskriminal.co.id -.CO.ID-JAKARTAPortofolio dana perbankan yang disimpan dalam Surat Berharga Negara (SBN) terlihat mengalami peningkatan sepanjang tahun 2025.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, kepemilikan bank terhadap SBN pada 21 Agustus 2025 mencapai Rp 1.318,47 triliun, naik sebesar 17,61% dibanding tahun sebelumnya atauyear on year (YoY).

Mengingat, kepemilikan bank di SBN pada periode yang sama tahun sebelumnya mencapai Rp 1.121,03 triliun.

Secara bulanan, kepemilikan bank terhadap SBN juga tercatat meningkat. Pada akhir Juli, kepemilikan bank mencapai Rp 1.293,85 triliun, naik sebesar 7,82% dibandingkan Juni 2025 yang berjumlah Rp 1.199,96 triliun.

Sementara itu, Bank Indonesia melaporkan pertumbuhan kredit perbankan hingga Juli 2025 hanya mencapai 7,03% secara tahunan. Hal ini menunjukkan perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,77% YoY.

Wakil Presiden Senior Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menganggap, suasana kenaikan penempatan bank di SBN disebabkan oleh fakta bahwa bank masih memilih secara selektif dalam menyalurkan kredit serta lebih cenderung menempatkan likuiditasnya di SBN.

“Mungkin karena kondisi saat ini yang memang memerlukan kehati-hatian lebih dalam penyaluran kredit perbankan,” katanya kepada Lintaskriminal.co.id, Minggu (24/8/2025).

Trioksa mengamati, tren pada tahun ini jika belum menunjukkan peningkatan kemampuan beli maka bank tetap selektif dalam memberikan kredit.

Berdasarkan pendapat Trioksa, tugas bank sebagai lembaga perantara keuangan adalah mulai meningkatkan penyaluran kredit seiring menurunnya tren suku bunga acuan, tetapi tetap memperhatikan prinsip pengelolaan risiko dan kehati-hatian yang baik.

Beberapa bank tercatat mengalami peningkatan dalam penempatan dana di Surat Berharga Negara (SBN). Contohnya PT Bank Central Asia (BCA) yang mencatatkan penempatan dana di surat berharga sebesar Rp 386,42 triliun pada Juni 2025, atau naik 3,70% secara tahunan.

Berikut adalah beberapa variasi parafraze dari teks tersebut: 1. PT Bank Negara Indonesia (BNI) melaporkan kenaikan penempatan dana dalam bentuk surat berharga sebesar 11,67% menjadi Rp 184,61 triliun pada bulan Juni 2025. 2. Pada Juni 2025, PT Bank Negara Indonesia (BNI) mencatatkan peningkatan pengelolaan dana dalam bentuk surat berharga sebesar 11,67%, yaitu mencapai Rp 184,61 triliun. 3. Dalam laporan terbaru, PT Bank Negara Indonesia (BNI) menyatakan bahwa penempatan dana dalam surat berharga meningkat sebesar 11,67% menjadi Rp 184,61 triliun pada Juni 2025. 4. PT Bank Negara Indonesia (BNI) mengungkapkan adanya kenaikan jumlah dana yang ditempatkan dalam surat berharga sebesar 11,67% menjadi Rp 184,61 triliun pada periode Juni 2025. 5. Pada bulan Juni 2025, PT Bank Negara Indonesia (BNI) mencatatkan peningkatan penempatan dana dalam bentuk surat berharga sebesar 11,67% dengan total mencapai Rp 184,61 triliun.

Sementara itu, pada Juni 2025 pencairan kredit BNI mencapai Rp 778,7 triliun, meningkat sebesar 7,1%.

Berbeda dengan beberapa bank lain seperti PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang mulai mengurangi kepemilikan pada surat berharga. Pada Juni 2025, penempatan BRI di surat berharga mencapai Rp 385,84 triliun atau turun 3,41% yoy dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 399,48 triliun.

PT Bank CIMB Niaga juga mengurangi penempatan pada surat berharga hingga Juni 2025 turun sebesar 3,83% menjadi Rp 75,18 triliun dari posisi Juni 2024 yang mencapai Rp 78,18 triliun.

Vice President Corporate Communication dan Tanggung Jawab Sosial BCA Hera F. Haryn menyampaikan bahwa perusahaan memperhatikan bahwa penempatan dana dalam instrumen surat berharga merupakan bagian dari strategi pengelolaan likuiditas perusahaan serta mendukung perekonomian nasional di tengah tantangan saat ini.

“Strategi ini juga dilakukan guna mempertahankan keseimbangan antara kecukupan likuiditas dengan pertumbuhan kredit yang sehat. Tentu saja tugas utama perbankan adalah sebagai sarana intermediasi ekonomi, yaitu penyaluran kredit,” ujar Hera.

Hera menjelaskan, secara umum, BCA selalu mengelola likuiditas dengan hati-hati serta memperhatikan prinsip kehati-hatian dalam penerapan pengelolaan risiko.

Akibatnya, meskipun penempatan dalam surat berharga meningkat, pada saat yang sama kredit yang disalurkan terlihat tumbuh lebih besar sebesar 12,9% mencapai Rp 959 triliun.

“Dengan dukungan likuiditas yang kuat serta mempertimbangkan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menggembirakan, kami yakin mampu menjaga pertumbuhan kredit berkualitas secara berkelanjutan,” ujarnya.

Selaku Direktur Utama CIMB Niaga, Lani Darmawan mengakui bahwa penempatan di surat berharga mengalami penurunan secara year on year maupun quarter on quarter. Lani menyampaikan bahwa likuiditas CIMB Niaga sebagian besar digunakan untuk mendukung penyaluran kredit.

“Posisi obligasi kami menurun. Kami lebih fokus pada kredit,” kata Lani.

Pada akhir bulan Juni 2025, jumlah kredit yang dimiliki Bank CIMB Niaga mencapai angka Rp 231,8 triliun, dengan pertumbuhan sebesar 6,8% dibandingkan tahun sebelumnya.

“Kami memiliki kebijakan yang hati-hati tetapi tetap menempatkan likuiditas yang kuat sebagai prioritas bagi bank. Fokus kami pada likuiditas dan dana pihak ketiga,” katanya.

Kepala Bisnis PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (Bank Banten) Bambang Widyatmoko juga menyampaikan, dalam upaya peningkatan penyaluran dana ke aset produktif, termasuk kredit, pihaknya lebih mengutamakan sumber dana yang berasal dari Dana Pihak Ketiga, termasuk deposito berjangka.

“Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan kesesuaian volume, jangka waktu, tingkat bunga dan margin serta risiko likuiditas antara keduanya sehingga dapat sesuai dan menghasilkan tingkat pendapatan bunga bersih yang optimal dengan risiko yang terkendali bagi Bank Banten,” kata Bambang.

Bambang menjelaskan, pihaknya selalu melakukan pemantauan terhadap perkembangan tingkat suku bunga SBN serta sumber dana yang dialokasikan agar mendapatkan pengembalian terbaik bagi Bank Banten. Keputusan mengenai proporsi portofolio penempatan dana dalam bentuk Kredit dan atau SBN dilakukan dengan sangat hati-hati dengan mempertimbangkan potensi risiko dan manfaat terbaik.

Tren penyaluran dan pertumbuhan kredit tetap tergolong positif hingga akhir tahun. Kami memprediksi akan terus meningkat dan menghasilkan Pendapatan Bunga Bersih yang cukup untuk Bank Banten,” ujarnya.

Pada bulan Juni 2025, penempatan dana Bank Banten di SBN tercatat sebesar Rp 1,15 triliun, naik 27,29% dibanding tahun sebelumnya. Meskipun demikian, pada periode yang sama Bank Banten mampu menyalurkan kredit sejumlah Rp 4,16 triliun, meningkat 14,60% secara tahunan. Di sisi lain, dana pihak ketiga (DPK) juga mengalami pertumbuhan lebih dari Rp 1,25 triliun, berubah dari Rp 4,64 triliun menjadi Rp 5,89 triliun.

Harga Kripto Hari Ini: Analisis Bitcoin dan Ethereum 2025, Naik atau Turun?

Harga Kripto Hari Ini: Analisis Bitcoin dan Ethereum 2025, Naik atau Turun?

JABEJABE.CO –Bitcoin kembali mencatatkan rekor terbaru di atas tingkat$123.000pada Juli 2025. Gerakan ini mencerminkan kekuatan permintaan dari investor institusi maupun retail. Kenaikan harga memicu peningkatan aktivitas derivatif, dengan ratusan juta dolar dana yang dicairkan tercatat di pasar berjangka.

Pedagang profesional menganggap bahwa setiap koreksi kecil segera diambil alih oleh pembeli. Seorang analis blockchain di platform X (Twitter),David Lawant, menegaskan:

Pembeli segera membanjiri penjual setelah penurunan kecil, menunjukkan permintaan yang kuat.

Pernyataan ini menegaskan bahwa struktur pasar Bitcoin tetap dalam kondisi optimis, meskipun fluktuasi jangka pendek tidak dapat dihindari.

Apakah Ethereum Sedang Memasuki Tahap Penentuan Harga?

Ethereum menembus level $4.800pada 22 Agustus 2025, melampaui rekor yang tercatat pada tahun 2021. Tahap ini dikenal oleh para pedagang sebagaiprice discoverykarena pasar menentukan harga baru tanpa mengacu pada masa lalu.

Seorang ahli DeFi di platform X mengatakan:

Inilah yang disebut para pedagang sebagai penemuan harga — pasar mencetak rekor tertinggi baru.

Tren ini menunjukkan kemungkinan bahwa Ethereum akan terus mengalami kenaikan, khususnya dengan semakin meningkatnya penggunaan aplikasi keuangan yang terdesentralisasi serta perkembangan tren tokenisasi aset.

Bagaimana Sentimen Trader Crypto?

Meskipun pasar terlihat penuh semangat, data menunjukkan perubahan dalam sentimen. Beberapa pedagang besar beralih ke posisi netral hingga bearish setelah kenaikan yang tajam. Hal ini terlihat dari komentar salah satu akun analis kripto terkenal di X:

Para pedagang kripto terkemuka berubah menjadi pesimis terhadap BTC dan ETH dalam perubahan sikap yang signifikan.

Perubahan ini menjadi tanda peringatan. Investor harus memahami bahwa peningkatan tren sering diikuti oleh fase koreksi yang wajar sebelum melanjutkan penguatan.

Perkiraan Harga: Apakah Peningkatan Harga Akan Berlangsung?

Secara mendasar, Bitcoin didorong oleh faktor-faktor berikut:

  • Liquidity pasar meningkat setelah peristiwa halving.

  • Institusional flow makin besar.

  • Kisah “emas digital” semakin kuat seiring dengan ketidakpastian ekonomi dunia.

Sementara Ethereum mendapatkan dorongan dari:

  • Peningkatan jaringan Layer-2.

  • Adopsi tokenisasi aset riil.

  • Dominasi di sektor DeFi.

Namun, para analis independen mengingatkan bahwa risiko penurunan harga masih ada. Seorang ekonom kripto menulis di X:

Sulit untuk tidak optimis terhadap bitcoin… tetapi risiko penurunan atau koreksi jangka pendek masih ada.

Bagaimana Strategi Investor?

Harga koin digital pada hari ini menunjukkan kekuatan yang signifikan, namun potensi penurunan tetap menjadi ancaman. Bitcoin dan Ethereum masih menjadi dua aset utama yang memengaruhi pergerakan pasar.

Bagi para investor jangka panjang, tren makro tetap menunjukkan kondisi yang positif. Namun, strategi terbaik adalah menjaga disiplin dalam pengelolaan risiko dan tidak terbawa oleh euforia.

Penyaluran Kredit UMKM Tidak Optimal, Bank Ungkap Penyebabnya

Penyaluran Kredit UMKM Tidak Optimal, Bank Ungkap Penyebabnya

Lintaskriminal.co.id -.CO.ID – JAKARTA.Pada semester-II tahun 2025, penyaluran kredit perbankan kepada sektor UMKM masih belum menunjukkan perkembangan yang signifikan. Data terbaru hingga Juli 2025 mengungkapkan bahwa pertumbuhan kredit UMKM menjadi yang paling rendah di tahun ini.

Berdasarkan data analisis uang beredar Bank Indonesia (BI), penyaluran kredit untuk UMKM pada Juli 2025 hanya meningkat sebesar 1,6% secara tahunan (YoY), semakin menurun, setelah sebelumnya tumbuh sebesar 2,0% YoY.

Berdasarkan total nilai penyalurannya, hingga Juli 2025, penyaluran kredit UMKM secara keseluruhan mencapai Rp 1.397,4 triliun. Angka ini sedikit mengalami penurunan sebesar 0,5% dibandingkan pencapaian Juni 2025 yang berada di angka 1.404,0 triliun.

Jika dilihat lebih jauh ke belakang, pertumbuhan kredit UMKM pada Juli 2025 ini juga sangat jauh dari tingkat pertumbuhan tahun sebelumnya. Pada Juli 2024, penyaluran kredit UMKM meningkat sebesar 5,1% secara tahunan.

Terkait hal tersebut, Direktur Utama PT Bank CIMB Niaga Tbk Lani Darmawan mengungkapkan bahwa penurunan pertumbuhan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah lebih terlihat di kawasan kota-kota besar. Hal ini disebabkan oleh belum pulihnya daya beli masyarakat.

“Kami melihat pertumbuhan tetap positif di kota-kota tingkat dua yang lebih kecil. Di kota besar utama, pertumbuhannya terlihat melambat, karena daya beli masyarakat masih mengalami tekanan,” kata Lani saat dihubungi Lintaskriminal.co.id, Jumat (12/9/2025).

Meskipun demikian, Lani menekankan bahwa penyaluran kredit dalam sektor UMKM tetap menjadi salah satu prioritas utama Bank, yang tercatat pada Juli 2025 kredit UMKM di CIMB Niaga mengalami pertumbuhan sebesar 7% secara tahunan (YoY).

Direktur Finance & Business Planning PT Bank Sahabat Sampoerna Henky Suryaputra menyampaikan bahwa kredit UMKM di Bank Sampoerna pada bulan Juli 2025 menunjukkan pertumbuhan yang belum mencolok, mirip dengan data industri.

“Kredit UMKM di Bank Sampoerna hingga Juli 2025 memang menunjukkan gambaran yang tidak terlalu berbeda dengan data industri. Tantangan yang dialami UMKM membuat kami lebih fokus pada menjaga kualitas pinjaman daripada mendorong pertumbuhan,” ujar Henky.

Meskipun demikian, ia menyatakan bahwa sesuai dengan visi Bank, UMKM tetap menjadi prioritas utama dalam pelayanan Bank Sampoerna. Diketahui, hingga Juni 2025, kredit yang diberikan kepada sektor UMKM mencapai 64% dari total kredit Bank Sampoerna.

Sementara itu, PT Bank Pembangunan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta atau Bank BPD DIY menyampaikan bahwa hingga saat ini, Perusahaan sangat mengandalkan sektor UMKM. Oleh karena itu, Direktur Pemasaran dan Usaha Syariah BPD DIY Raden Agus Trimurjanto menyatakan bahwa pihaknya tetap optimis.

Sampai Agustus 2025, jumlah kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang belum lunas dari Bank BPD DIY mencapai Rp 2,055 triliun. Angka ini naik sebesar 12% dibandingkan posisi pada Agustus tahun sebelumnya yang berada di angka Rp 1,825 triliun.

“Bank BPD DIY sangat mengandalkan sektor UMKM, yang saat ini telah mencapai 63% dari komposisi kredit produktif. Tentu saja kami percaya diri karena DIY memiliki sedikit potensi kredit korporasi/industri, sehingga kami terus berkomitmen untuk mengembangkan UMKM,” ujar Agus.

Saat ini Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication & Social Responsibility PT Bank Central Asia Tbk, menyatakan bahwa kinerja sektor perbankan akan sesuai dengan kondisi perekonomian. Namun, ia menekankan bahwa BCA akan terus memberikan kredit kepada berbagai bidang, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah.

Penyaluran kredit BCA kepada sektor UMKM naik 12,6% secara tahunan menjadi Rp 136 triliun pada Juni 2025. Untuk meningkatkan kredit di sektor UMKM, BCA menerapkan berbagai strategi, seperti menawarkan bunga khusus bagi pelaku usaha dalam segmen UMKM.

“BCA berkomitmen untuk memaksimalkan berbagai saluran penyaluran pembiayaan, digitalisasi, serta pemanfaatan rantai pasok pembeli atau mitra secara hati-hati,” ujar Hera.

Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menyampaikan bahwa masalah utama dalam penyaluran kredit UMKM yang belum menunjukkan pertumbuhan signifikan adalah karena kondisi ekonomi yang masih mengalami tekanan, terlihat dari daya beli masyarakat yang tidak kunjung meningkat.

Selain itu, hingga saat ini masih banyak pelaku usaha UMKM yang beroperasi secara tidak resmi. Hal ini membuat mereka sulit mendapatkan akses kredit dari bank.

“Saya pikir akan tetap berkembang perlahan dan cenderung tidak berubah. Solusinya adalah meningkatkan sisi permintaan,” tegasnya.

Untuk semakin mendukung pertumbuhan kredit UMKM, Wijayanto menyatakan terdapat berbagai solusi yang bisa diambil. Terutama adalah meningkatkan permintaan, misalnya dengan cara berikut, pertama yaitu melalui pemberian insentif ekonomi oleh pemerintah pada kuartal-IV mendatang. Kedua, mempermudah proses formalisasi UMKM.

Ketiga, perangi pungutan liar dan tindakan preman di kalangan UMKM. Selanjutnya berikan kredit dengan bunga yang didukung subsidi bagi pelaku usaha UMKM. Dan yang terakhir, pentingnya mendorong kerja sama antara Kopdes Merah Putih dengan UMKM, agar kehadiran Kopdes Merah Putih ini tidak mengancam para pelaku usaha UMKM yang sudah ada.

Copyright © 2026 10drama.com