5 Alasan Hewan Buas Menyerang Manusia, Bukan Hanya Karena Lapar!

5 Alasan Hewan Buas Menyerang Manusia, Bukan Hanya Karena Lapar!

Hewan liar sering dianggap sebagai makhluk jahat yang akan menyerang manusia kapan saja. Padahal, di hutan, mereka tidak mudah menyerang tanpa alasan yang jelas. Sebagian besar serangan hewan buas terjadi karena dorongan naluri atau tanggapan terhadap situasi tertentu. Faktanya, manusia sering kali tidak menyadari bahwa mereka telah memicu insting bertahan hidup dari hewan-hewan tersebut. Oleh karena itu, memahami alasan di balik serangan mereka dapat membuat kita lebih cerdas saat berada di alam.

Melalui artikel ini, kamu akan memahami bahwa serangan hewan buas tidak hanya disebabkan oleh lapar atau hasrat untuk menghisap darah. Ada berbagai faktor alami yang memicu perilaku agresif, mulai dari rasa terancam hingga naluri menjaga wilayah. Semua hal ini terjadi sebagai bagian dari upaya mereka bertahan hidup di lingkungan alami. Jika kamu menyukai aktivitas di luar ruangan, sangat penting untuk mengetahui alasan-alasan ini agar bisa lebih waspada. Mari simak penjelasan lengkapnya!

1. Mencegah gangguan dari pihak luar terhadap wilayah tersebut

Banyak hewan liar sangat memiliki sifat teritorial dan memiliki naluri kuat dalam menjaga daerahnya. Ketika manusia secara tidak sengaja memasuki wilayah mereka, naluri ini langsung berjalan. Mereka bisa merasa diancam dan menanggapi dengan serangan untuk mengusir “orang asing.” Kejadian ini sering terjadi di lingkungan alami seperti hutan, savana, atau sungai tempat mereka berburu. Contohnya adalah harimau, beruang, atau buaya yang dikenal sangat menjaga wilayahnya.

Naluri territorial tidak hanya berkaitan dengan menjaga makanan, tetapi juga mempertahankan kekuasaan di lingkungan sekitar. Bahkan, ketidakhadiran niat untuk mengganggu, kehadiran manusia saja bisa dianggap sebagai ancaman yang serius. Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami batas wilayah hewan buas saat berada di alam liar. Jangan masuk ke area yang menjadi tempat tinggal atau jalur berburu mereka. Dengan demikian, kamu dapat mengurangi kemungkinan terjadinya serangan yang sebenarnya bisa dihindari.

2. Menjaga anak atau kelompoknya dari ancaman bahaya

Insting melindungi anak atau kelompok sangat kuat pada hewan, termasuk hewan predator. Ketika manusia dianggap membahayakan keturunan atau kawanan mereka, hewan bisa menjadi sangat ganas. Bahkan, hewan yang biasanya tenang pun dapat berubah menjadi agresif jika anaknya dalam bahaya. Fenomena ini sering terjadi pada spesies seperti beruang betina, gajah, atau singa betina. Mereka siap menyerang siapa saja untuk menjaga keamanan kelompoknya.

Perilaku ini dikenal sebagai defensive aggression, yaitu tindakan agresif yang timbul dari naluri bertahan hidup. Banyak insiden serangan hewan liar yang bermula dari manusia yang tidak menyadari sudah terlalu dekat dengan anak-anak hewan liar. Tanpa kesempatan untuk mundur, hewan buas cenderung memilih menyerang terlebih dahulu. Inilah sebabnya para pendaki atau penjelajah hutan dianjurkan tetap waspada di dekat sarang atau anak-anak hewan. Karena bagi hewan buas, melindungi keturunan adalah prioritas utama.

3. Merasa kaget atau terjebak di lingkungan tempat tinggalnya sendiri

Hewan liar cenderung menyerang ketika merasa terancam atau kaget akibat kehadiran manusia. Kejadian ini sering terjadi saat bertemu tiba-tiba di hutan atau ketika jalur mereka terblokir. Dalam keadaan panik, hewan lebih memilih menyerang sebagai cara melindungi diri. Reaksi ini bukan disebabkan oleh sifat agresif alami, tetapi sebagai upaya bertahan dari ancaman yang tidak mereka mengerti. Contohnya seperti serangan beruang atau ular yang merasa diganggu tanpa sengaja.

Kondisi ini sering terjadi ketika manusia berjalan tanpa memperhatikan lingkungan sekitar di hutan atau daerah yang dihuni satwa liar. Hewan yang merasa terancam cenderung melihat manusia sebagai ancaman langsung. Tanpa pilihan lain, mereka melakukan serangan untuk melindungi diri. Oleh karena itu, sangat penting untuk selalu waspada dan menjaga jarak yang aman saat berada di alam bebas. Dengan demikian, kamu dapat menghindari pertemuan yang bisa berujung pada serangan tiba-tiba.

4. Tertarik akibat bau atau gerakan manusia yang memicu naluri berburu

Beberapa hewan buas memiliki kemampuan indra penciuman dan penglihatan yang sangat tajam. Mereka bisa tertarik oleh aroma tubuh, makanan, atau gerakan manusia yang dianggap mirip dengan mangsa mereka. Gerakan mendadak atau aroma tertentu dapat memicu insting berburu mereka secara spontan. Hal ini sering terjadi pada predator seperti hiu, buaya, atau singa yang memiliki naluri berburu yang sangat kuat. Tanpa disadari, manusia bisa memicu insting tersebut melalui tindakan-tindakan sederhana.

Sebagai contoh, mengenakan parfum yang terlalu wangi saat berada di hutan atau bergerak dengan kencang di dekat air yang ditempati buaya. Perilaku semacam ini bisa menarik perhatian predator dan memicu serangan. Bagi mereka, tanda-tanda kecil ini cukup untuk dianggap sebagai kesempatan mangsa. Oleh karena itu, penting untuk menjaga gerakan tetap tenang serta menghindari aroma yang dapat menarik perhatian predator. Kesadaran akan hal ini bisa menjadi penolong ketika kamu sedang berada di daerah yang dihuni hewan liar.

5. Terjadi persaingan wilayah tinggal akibat perubahan kondisi lingkungan

Perubahan lingkungan hidup akibat penebangan hutan, pembangunan infrastruktur, atau eksploitasi sumber daya alam menyebabkan satwa liar kehilangan tempat tinggal. Akibatnya, mereka sering kali masuk ke wilayah manusia guna mencari makanan atau tempat berlindung. Dalam situasi ini, kemungkinan terjadinya kontak dan serangan terhadap manusia meningkat. Hewan yang dipaksa meninggalkan habitat aslinya bisa menjadi lebih agresif karena rasa stres dan takut. Perilaku ini bukanlah alami, melainkan hasil dari konflik yang diakibatkan oleh perubahan lingkungan.

Misalnya, konflik antara manusia dan harimau di Sumatra yang sering terjadi akibat penebangan hutan. Hewan buas merasa terancam dan cenderung lebih agresif terhadap manusia. Mereka memasuki permukiman bukan karena ingin menyerang, melainkan karena habitat mereka semakin sempit. Kondisi ini sering kali tidak disadari oleh masyarakat yang tinggal di dekat daerah konflik. Oleh karena itu, menjaga lingkungan alami sangat penting untuk menghindari konflik antara manusia dengan hewan liar.

Tidak pernah ada serangan hewan buas terhadap manusia tanpa penyebab. Dari insting menjaga diri, merasa diancam, hingga persaingan wilayah hidup, semuanya memiliki pemicu yang dapat dijelaskan secara ilmiah. Oleh karena itu, kita sebagai manusia perlu lebih memahami tingkah laku hewan buas di sekitar kita. Dengan sikap bijaksana dan menjaga jarak, konflik bisa diminimalisir sehingga kita dapat hidup bersama dengan alam. Karena di alam liar, naluri bertahan hidup adalah aturan utama yang tidak boleh diabaikan.

5 Binatang Liar yang Berada di Daerah Rawan, Sering Berenang dan Menyelam Apakah Seluruh Hewan Pemangsa Dianggap Sebagai Hewan Liar? 7 Hewan Liar yang Menyerang dari Bawah Permukaan, Pintar dalam Memburu Mangsa

5 Fakta Menarik Burung Camar Belcher, Pencuri Terkenal yang Agresif

5 Fakta Menarik Burung Camar Belcher, Pencuri Terkenal yang Agresif

Jika sedang berada di pantai atau tengah laut, pasti kita sering melihat satu jenis burung dengan ciri khas bulu berwarna putih dan hitam. Ya, burung apa lagi kalau bukan burung camar (famili Laridae). Keluarga burung yang memiliki kerabat dekat dengan dara-laut (famili Sternidae) ini terdiri dari 22 genus dan 104 spesies berbeda, sehingga termasuk dalam keluarga burung yang paling beragam. Salah satu spesies burung camar yang akan kita bahas kali ini adalah camar belcher atau camar ekor pita (Larus Belcheri).

Nama burung ini berasal dari penjelajah asal Inggris, Sir Edward Belcher, yang pertama kali berhasil mencatat keberadaan burung laut ini. Pola warna bulu burung camar ini cukup mirip dengan saudara-saudaranya. Bagian sayap atas dan ekor umumnya berwarna hitam atau abu-abu gelap, sedangkan bagian bulu lainnya berwarna putih. Namun, terdapat pengecualian bagi beberapa individu, di mana kepala mereka bisa berwarna hitam atau putih. Bagian paruh menjadi ciri khas dari camar belcher karena ujung paruh kuningnya memiliki pola warna hitam dan merah.

Jika membicarakan ukuran, burung camar belcher termasuk dalam spesies berukuran sedang. Panjang tubuhnya sekitar 49—52 cm, rentang sayapnya mencapai 120 cm, dan beratnya berkisar antara 436—640 gram. Terdapat beberapa hal menarik mengenai spesies burung ini, dan kita akan segera membahasnya satu per satu. Mari simak penjelasan di bawah ini!

1. Peta penyebaran dan lingkungan pilihan

Burung belcher merupakan bagian dari burung di Dunia Baru, sehingga peta penyebarannya berada di sekitar benua Amerika. DilansirData Zone by BirdlifeSecara khusus, burung ini menyebar sepanjang pesisir barat Amerika Selatan, mencakup wilayah negara seperti Chili, Peru, Ekuador, Panama, serta Kepulauan Falkland. Luas wilayah yang menjadi tempat tinggal camar belcher diperkirakan mencapai 1,09 juta kilometer persegi.

Berdasarkan peta penyebaran dan ciri khas burung camar secara umum, dapat dengan mudah diperkirakan bahwa daerah pesisir pantai menjadi tempat tinggal yang disukai oleh camar belcher. Secara lebih spesifik, mereka cenderung berada di pesisir yang memiliki banyak batu besar, pantai berpasir, dan teluk. Burung ini tidak termasuk dalam spesies yang bermigrasi, sehingga tempat tinggalnya tetap sama sepanjang tahun.

2. Makanan kesukaan dan metode mendapatkannya

Seperti saudara-saudaranya yang lain, burung camar belcher merupakan hewan omnivora. Makanan burung ini mencakup berbagai jenis ikan, molluska, crustacea, telur, burung kecil, hewan pengerat, reptil, serangga, bangkai hewan, hingga sampah manusia. Burung laut ini termasuk dalam kategori hewan yang bersifat oportunis dalam mencari makanan.

Artinya, camar belcher mampu berkeliling dan menangkap mangsa secara mandiri, tetapi jika ada cara mendapatkan makanan dengan lebih mudah, mereka tidak ragu untuk melakukannya.South Dakota Birds menurut laporan, burung camar ini lebih sering berkeliaran di sekitar pantai untuk mencari makanan, namun jika diperlukan mereka juga bisa berenang hingga ke tengah laut. Di sisi lain, ketika menemui spesies camar lain atau hewan umumnya, camar belcher cenderung berubah menjadi pencuri. Masalahnya, tindakan pencurian dari burung ini terkadang melibatkan pengejaran dan kekerasan, hingga burung yang menjadi target pencurian melepaskan makanannya.

3. Kehidupan sosial

Camar belcher merupakan hewan sosial yang membentuk kelompok dengan wilayah tertentu. Jumlah anggota dalam satu kelompok bisa mencapai ratusan individu yang terdiri dari pasangan dan keturunan mereka. Kelompok burung ini biasanya bekerja sama dalam mencari makanan, dan saat musim kawin tiba, mereka berkumpul untuk memulai siklus reproduksi.

Banyak jenis komunikasi suara yang bisa dihasilkan oleh camar belcher. MengutipXeno-cantoTujuan komunikasi vokal ini adalah untuk memanggil pasangan, memberi peringatan kepada individu lain tentang ancaman predator, hingga memberitahu anggota koloni bahwa terdapat sumber makanan. Oh ya, koloni burung ini juga membuat sarang di lokasi yang sama, yaitu pulau kecil di dekat pantai. Sarang camar belcher dibuat dari ranting, sisa tumbuhan, lumut, dan bahan-bahan lain yang ditempatkan di atas batu agar tidak terbawa ombak.

4. Sistem reproduksi

Musim perkawinan untuk camar belcher terjadi pada bulan Desember. Pada masa itu, seluruh anggota koloni berkumpul di lokasi yang sama dan mulai mencari pasangan. Hewan ini dapat dikatakan semi monogami karena dalam satu musim kawin, seekor camar belcher hanya akan berpasangan dengan satu individu, dan pasangan tersebut bisa tetap bersama selama beberapa musim kawin berbeda atau bisa juga mencari pasangan baru.

Dilansir Animalia, burung camar betina akan menghasilkan sekitar 1—3 telur setiap musim kawin. Proses penetasan telur burung ini memakan waktu sekitar 28—30 hari dan betina juga berperan dalam menjaga kehangatan telur tersebut. Setelah anak mereka menetas, baik ayah maupun ibu sama-sama bertanggung jawab dalam merawat dan memberi makan anak mereka. Umur maksimum yang bisa dicapai oleh burung camar ini adalah sekitar 11,5 tahun.

5. Status konservasi

Berdasarkan data dari IUCN Red List, saat ini camar belcher termasuk dalam kategori hewan dengan risiko rendah (Least Concern). Menariknya, jumlah populasi burung laut ini terus meningkat setiap tahun. Meskipun demikian, mereka juga menghadapi ancaman yang cukup besar akibat kerusakan habitat alami dan kedatangan pengunjung yang terus-menerus.

Namun, jumlah individu yang masih tersisa saat ini tidak dapat dipastikan dengan pasti, mengingat penyebaran yang sangat luas dan kebiasaan hidup mereka yang berkelompok. Perselisihan dengan manusia terkadang terjadi karena burung camar belcher sering mencari makan di tempat sampah rumah tangga. Selain itu, burung ini terkadang mengganggu kegiatan para nelayan dengan mencuri ikan yang mereka tangkap.

Jika hanya melihat bagian depan,camarBelcher tampaknya merupakan spesies burung dengan penampilan dan pola bulu yang indah. Namun, siapa sangka jika di balik penampilannya, terdapat sifat “pencuri” yang sangat kental pada mereka. Jadi, ketika berkunjung ke pantai, waspadalah terhadap spesies burung camar ini!

6 Jenis Burung Pemakanan yang Menyusup, Burung Gagak yang Mencuri Makanan Manusia 5 Fakta Menarik Ikan Kecil, Sering Berenang dan Mencari Makan di Sekitar Pantai

Berapa Lama Burung Terbang Tanpa Berhenti?

Berapa Lama Burung Terbang Tanpa Berhenti?

Sejak kecil saya selalu terkesan dengan cara burung terbang. Ada yang terbang dengan terus-menerus menggerakkan sayapnya, dan ada pula yang terbang dengan memanfaatkan aliran angin. Melihat kemampuan luar biasa burung-burung ini, saya menjadi penasaran dengan satu hal; seberapa lama burung bisa terbang tanpa mendarat?

Beberapa orang mungkin tidak menyadari bahwa terdapat burung yang bisa terbang tanpa berhenti selama hampir sepanjang waktu. Burung layang-layang mencatatkan rekor dengan terbang selama 10 bulan secara berurutan tanpa pernah mendarat. Prestasi luar biasa ini menunjukkan kemampuan fisik dan penyesuaian alami yang luar biasa pada spesies tersebut.

Fakta ini sebelumnya telah diungkap oleh ahli burung asal Wales, Ronald Lockley, pada tahun 1970-an. Namun, dibutuhkan puluhan tahun agar pernyataan tersebut benar-benar terbukti kebenarannya. Baru pada tahun 2016, tim peneliti dari Universitas Lund di Swedia berhasil membuktikan kebenarannya melalui studi yang menggunakan teknologi pelacak mutakhir.

https://www.youtube.com/embed/FMCLF7hK1Mg

Dapat terbang selama 10 bulan

Berdasarkan laporan dari situs IFLScience, para ilmuwan mengamati 13 burung layang-layang dewasa dengan memberikan alat pencatat data kecil yang dilengkapi akselerometer untuk merekam pola terbang dan sensor cahaya untuk menentukan posisi burung tersebut.

Beberapa burung diikuti selama beberapa tahun saat mereka melakukan perjalanan migrasi dari Swedia ke selatan Gurun Sahara pada musim dingin, lalu kembali ke tempat tinggal asalnya.

Hasilnya menunjukkan dugaan lama bahwa burung layang-layang menghabiskan sebagian besar waktunya di udara. Secara konsisten, mereka terpantau hanya berada di darat selama dua bulan setiap tahun, yaitu saat berkembang biak.

Meskipun beberapa jenis burung sesekali berhenti dalam jangka waktu singkat selama 10 bulan saat terbang, mereka tetap menghabiskan lebih dari 99,5 persen dari waktunya untuk terbang.

Di sisi lain, tiga burung walet berhasil terbang selama 10 bulan dalam perjalanan migrasinya, sebuah prestasi yang sangat mengagumkan mengingat ukuran burung tersebut yang kecil, dengan berat sekitar 40 gram (1,4 ons).

Para ilmuwan berpendapat bahwa perbedaan antara “burung yang mampu terbang jarak jauh” dan “burung yang mendarat” mungkin terletak pada kondisi bulunya, di mana burung yang mendarat belum mengalami pergantian bulu sayap, sedangkan burung yang terus terbang telah mengganti bulu dan mendapatkan bulu terbang yang baru.

Bagaimana bisa bertahan lama?

Namun, kegiatan fisik memerlukan tenaga. Namun, burung walet secara umum telah beradaptasi untuk menghabiskan energi yang relatif sedikit saat terbang dalam jangka waktu yang lama.

“Burung layang-layang umumnya telah berkembang menjadi pengembara yang sangat efisien, dengan bentuk tubuh yang ramping dan sayap yang panjang serta sempit, menghasilkan gaya angkat dengan biaya rendah,” ujar penulis penelitian Anders Hedenström.

Ini memungkinkan mereka menggunakan energi yang lebih sedikit, meskipun mereka masih bisa mendapat dorongan cepat dari serangga yang juga berada di udara.

Selain berpikir, apakah mereka juga bisa tidur? Para peneliti mengatakan bahwa kemungkinan mereka bertingkah laku seperti burung fregat yang tidur sambil terbang, “Setiap hari, saat senja dan pagi, angin kencang naik hingga ketinggian sekitar 2 hingga 3 kilometer (1,2–1,9 mil). Mungkin mereka tidur saat terbang turun, tetapi kami belum yakin,” katanya.

Meskipun demikian, para peneliti yakin bahwa kemampuan mereka untuk terbang tanpa henti selama 10 bulan bukanlah hal yang mudah.

6 Fakta Burung Robin Amerika, Hewan dengan Pola Makan yang Selalu Berubah 4 Penyebab Bulu Burung Kesayangan Rontok, Salah dalam Perawatan!

5 Fakta Unik Monyet Digo yang Suka Bersosialisasi dengan Spesies Lain

5 Fakta Unik Monyet Digo yang Suka Bersosialisasi dengan Spesies Lain

Pernahkah kamu mendengar istilah monyet digo?Macaca ochreata)? Monyet ini termasuk dalam genusMacacasehingga termasuk dalam kelompok kera Dunia Lama (Cercopithecidae). Menariknya, ternyata kera ini merupakan hewan yang hanya ditemukan di Indonesia, loh.

Tepatnya, mereka tinggal di Pulau Sulawesi. Mengenai lokasi spesifik dan fakta menarik apa saja yang dapat kita temukan dari spesies monyet ini, kita akan segera membahasnya. Jadi, jika kalian penasaran dan ingin mengenal lebih jauh tentang monyet digo, langsung saja gulirkan layar ke bawah!

1. Bagaimana penampilan kera digo?

Monyet digo menampilkan rambut berwarna gelap di bagian punggung dan kepala, namun berubah menjadi cokelat muda pada bagian perut serta keempat kakinya. Kepala dari primata ini cenderung bulat dengan sedikit tambahan rambut di area bawah telinga dan pipi yang berwarna cokelat abu-abu. Seperti monyet Dunia Lama lainnya, monyet digo memiliki ekor yang panjangnya sekitar 35—40 cm.

Dilansir New England Primate Conservancy, berat yang dapat dicapai seekor monyet digo sekitar 5—12 kg. Di sisi lain, panjang tubuh mereka tanpa ekor sekitar 50—59 cm. Terdapat perbedaan fisik antara jantan dan betina pada spesies ini, di mana jantan memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan betina. Selain itu, gigi taring atas pada jantan juga lebih besar dibandingkan dengan betina.

2. Peta penyebaran, lingkungan hidup, dan makanan kesukaan

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, peta penyebaran monyet digo hanya terbatas pada Pulau Sulawesi. Secara lebih rinci, primata ini dapat ditemukan di Sulawesi Tenggara serta pulau-pulau kecil di sekitarnya, seperti Pulau Buton dan Pulau Muna. Khusus untuk spesies yang tinggal di dua pulau tersebut, mereka dianggap sebagai subspesies monyet digo dengan nama ilmiah tertentu.Macaca ochreata brunnescens.

Sementara itu, habitat yang disukai monyet digo adalah hutan hujan tropis dengan ketinggian yang tidak terlalu tinggi. DilansirIUCN Red List, rata-rata ketinggian yang disukai oleh primata ini sekitar 800 meter di atas permukaan laut. Namun, terkadang monyet digo juga bisa masuk ke wilayah permukiman penduduk, terutama ketika makanan di hutan sedang langka.

Mengenai makanan, monyet digo termasuk dalam kategori omnivora. Makanan utama mereka terdiri dari berbagai jenis buah, bunga, daun, serta tanaman pertanian. Namun, untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, mereka juga memakan berbagai jenis serangga dan artropoda.

3. Selalu melakukan komunikasi dengan spesies lain

Perilaku sosial monyet digo dapat dikatakan sangat menarik. Mereka telah membentuk kelompok yang terdiri dari 12 hingga 30 individu. Setiap anggota kelompok saling berkomunikasi, saling membantu dalam perawatan diri, memberi peringatan ketika ada ancaman, serta bekerja sama secara harmonis. Namun, interaksi monyet digo tidak hanya terbatas pada sesama anggota kelompok karena mereka cukup cerdas untuk berhubungan dengan spesies lain.

Misalnya, dalam Jurnal WASIAN dengan judul, “Karakteristik Habitat dan Populasi Monyet Butung (Macaca ochreata) di Taman Wisata Alam Tanjung Peropa, Sulawesi Tenggara” karya Zsa Zsa Fairuztania dan Abdul Haris Mustari, monyet digo selalu bergerak bersama spesies burung yang dikenal sebagai kadalan sulawesi (Ramphacoccyx calyorhynchus) dan srigunting rambut berujung panjang (Dicrurus hottentottus). Tujuannya adalah untuk mendapatkan makanan bagi burung tersebut.

Oleh karena itu, ketika monyet digo bergerak dan mendapatkan makanan, serangga di sekitarnya sering kali terbang. Serangga ini menjadi sumber makanan utama kedua dari spesies burung yang telah disebutkan sebelumnya. Jika kedua burung tersebut terus mengikuti monyet digo, mereka bisa memperoleh makanan dengan mudah. Di sisi lain, monyet digo tidak merasa dirugikan maupun diuntungkan dari interaksi ini. Mereka tidak keberatan dengan kehadiran burung, sehingga interaksi ini dikenal sebagai simbiosis komensalisme.

Selain berinteraksi dengan burung, monyet juga terlibat dalam interaksi dengan spesies monyet lainnya, seperti monyet jambul atau monyet tonkean (Macaca tonkeana). Interaksi dengan kera jambul ini lebih menarik karena terkadang keduanya bersatu membentuk kelompok yang besar. Bahkan, perilaku dan aturan sosial kedua spesies ini hampir sama karena seringnya mereka berinteraksi. Oleh karena itu, sering ditemukan kera hibrida yang merupakan hasil perkawinan antara dua spesies kera ini.

4. Sistem reproduksi

Tidak banyak informasi yang diketahui mengenai sistem reproduksi monyet digo. Namun, perilaku mereka berinteraksi dengan spesies monyet lain memberikan dugaan kuat bahwa cara reproduksi mereka mirip dengan kerabat dekatnya. Artinya, musim kawin untuk monyet ini bisa terjadi sepanjang tahun, selama betina menunjukkan tanda-tanda siap untuk bereproduksi. Tanda tersebut berupa pembengkakan di area sekitar alat kelamin.

New England Primate Conservancymenyebutkan bahwa setelah menikah, betina akan mengandung selama sekitar 170 hari. Pada satu siklus reproduksi, hanya satu anak yang lahir. Tahun pertama kehidupan monyet go akan dihabiskan dengan menempel pada tubuh induknya sambil belajar berbagai keterampilan yang berguna untuk hidupnya nanti. Setelah itu, baru anak tersebut mampu hidup mandiri, namun tetap tinggal dalam kelompok tempat ia dilahirkan.

5. Status konservasi

Berdasarkan Daftar Merah IUCN, kondisi perlindungan monyet digo saat ini berada pada tingkat terancam punah,Vulnerable). Selain itu, jumlah mereka terus menurun setiap tahun. Sementara itu, penyebab penurunan ini tidak lain karena tindakan manusia.

Disebutkan bahwa perubahan fungsi lahan yang luas di Sulawesi Tenggara menyebabkan monyet digo kehilangan lingkungan alaminya. Keadaan ini semakin memburuk karena banyaknya industri perkebunan kelapa sawit dan kakao yang dibangun, sehingga menghancurkan hutan secara besar-besaran. Belum lagi, aktivitas tambang ilegal yang sering menggunakan bahan kimia berbahaya seperti merkuri, mencemari sumber makanan dan air monyet digo hingga menyebabkan kematian dalam jumlah besar.

Upaya perlindungan terhadap spesies primata ini telah dilakukan secara intensif. Salah satu metodenya adalah dengan menetapkan kawasan perlindungan bagi monyet digo, seperti yang berada di Rawa Aopa Watomahai, Padang Mata Osu, Tanjung Peropa, Tanjung Batikolo, Cagar Alam Faruhumpenai, Buton Utara, Hutan Lambusango, dan Napabalano yang menjadi titik utama dalam upaya konservasi monyet digo. Mudah-mudahan status konservasinya tidak semakin memburuk agar primata endemik Indonesia ini tetap terjaga kelestariannya, ya!

5 Fakta Menarik Golden-Headed Lion Tamarin, Kera Berambut Mirip Singa 5 Fakta Menarik Monyet Ka’apor Capuchin, Hewan Liar yang Pemalu di Hutan Amazon

Alasan Kupu-kupu Punya Kepala Tambahan

Alasan Kupu-kupu Punya Kepala Tambahan

Bayangkan kamu sedang berjalan di taman tropis, lalu melihat seekor kadal kecil bergerak perlahan, mengamati kupu-kupu berwarna-warni yang duduk di atas daun. Alih-alih menyerang kepala kupu-kupu, kadal itu justru menggigit bagian belakang sayapnya. Kupu-kupu tersebut langsung terbang pergi, kehilangan sebagian sayapnya namun berhasil selamat. Adegan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari strategi evolusi yang canggih dari makhluk indah bernama kupu-kupu.

Kupu-kupu dari keluarga Lycaenidae memiliki ilusi optik pada sayap belakangnya yang membuat bagian tersebut tampak seperti kepala. Pola warna, gerakan halus, serta struktur “ekor” kecil di sayap berperan dalam menciptakan kebingungan. Penelitian oleh dua ahli serangga dari Indian Institute of Science Education and Research, Thiruvananthapuram, menemukan bahwa penyerupaan ini bukan berasal dari satu gen sederhana, melainkan interaksi kompleks dari beberapa gen yang bekerja bersama untuk menghasilkan struktur dan pola simetris yang membingungkan predator. Dalam kasus ini, evolusi terlihat seperti seniman hebat yang merancang pakaian perlindungan paling indah di alam liar.

Sayap bukan makanan lezat

Mengutip dari situs Science Alert, predator sebenarnya mengejar tubuh yang lembut dan kaya akan nutrisi. Namun, “kepala palsu” yang terlihat di ujung ekor dapat ditemukan pada lebih dari 900 spesies kupu-kupu Lycaenidae, sehingga membuat banyak predator mendapatkan mulut penuh dengan serpihan sisik sayap belakang yang berdebu dan rasanya pahit.

Di sisi lain, kupu-kupu berhasil melarikan diri dengan hanya mengalami beberapa luka pada sayapnya, sementara organ penting tetap terjaga.

Beberapa trik yang digunakan

Tidak semua jenis menggunakan cara yang sama. Airamanna columbia menghasilkan beberapa “antena” dan mata berwarna merah. Sementara Arawacus aetolus menggabungkan realisme dengan efek visual yang mencolok untuk membingungkan lawan.

Ahli entomologi Tarunkishwor Yumnam dan Ullasa Kodandaramaiah memanfaatkan basis data gambar online serta pohon keluarga yang telah diketahui dari 928 spesies kupu-kupu untuk meneliti bagaimana ciri-ciri kepala palsu berevolusi, termasuk antena palsu, bintik sayap belakang, warna yang mencolok, bentuk kepala palsu, dan garis konvergen.

Mereka menemukan bahwa semua sifat ini, kecuali garis konvergen, telah berkembang dalam korelasi yang kuat, menunjukkan bahwa dampak bersama dari sifat-sifat tersebut bekerja secara bersamaan selama berbagai generasi, semakin rumit seiring berjalannya waktu.

“Kami menemukan bahwa sebagian besar ciri kepala palsu pada kupu-kupu berevolusi dengan pola yang saling berkaitan, mungkin sebagai respons terhadap tekanan seleksi yang sama,” tulis Yumnam dan Kodandaramaiah.

Oleh karena itu, penelitian ini memberikan dukungan makroevolusioner terhadap gagasan bahwa kepala palsu berkembang sebagai bentuk adaptif dari sifat-sifat anti-pemangsa.

4 Fakta Sains Mengenai Sayap Kupu-kupu yang Berwarna-warni 4 Fakta Sains Tentang Sayap Kupu-Kupu, Tipis Namun Penuh Dengan Sensor!

Copyright © 2026 10drama.com